TOLONG SEBARKAN JIKA ANDA PRIHATIN PADA AGAMA ISLA
kisah benar bekas paderi.
TOLONG SEBARKAN JIKA ANDA PRIHATIN PADA AGAMA ISLAM KITA!
Saya Salleh Bin Omar, nama Kristian Joseph.
Saya dilahirkan di Kedah pada5/5/1940, bapa
saya seorang India Muslim dan mak saya orang
Banting, Selangor. Bapa saya telah pulang ke
India dan emak saya berada di Kedah,Pondok
Kg
Pisang. Pada 1970 saya telah pergi ke Johor
Bahru
Untuk mencari kerja bersama-sama kawan-
kawan
tetapi gagal. Saya terpaksa tidur di stesen
keretapi. Saya telah ber...
TOLONG SEBARKAN JIKA ANDA PRIHATIN PADA AGAMA ISLAM KITA!
Saya Salleh Bin Omar, nama Kristian Joseph.
Saya dilahirkan di Kedah pada5/5/1940, bapa
saya seorang India Muslim dan mak saya orang
Banting, Selangor. Bapa saya telah pulang ke
India dan emak saya berada di Kedah,Pondok
Kg
Pisang. Pada 1970 saya telah pergi ke Johor
Bahru
Untuk mencari kerja bersama-sama kawan-
kawan
tetapi gagal. Saya terpaksa tidur di stesen
keretapi. Saya telah ber...
2 comments
Comments (2)
Hana
Bangunan yg teguh adalah berpaksikan kpd tapak yg kuat.Begitu juga dgn Islam.Ia tidak akan menjadi sesuatu yg kita cintai jika solat ditunaikan ttp maksiat menjadi bhn hidangan harian.Oleh itu asas aqidah yg kuat adalah benteng segala mcm bentuk hasutan halus yg diwar-warkan oleh pihak musuh.Ingatlah bhw "agama yg benar itu adlh agama Islam".
20 years
KENYATAAN HIDUP DISEBALIK PERMAINAN INI.
Seorang guru wanita sedang bersemangat mengajarkan sesuatu
kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di
tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada pemadam. Guru
itu berkata, "Saya ada satu permainan... Caranya begini,
ditangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada pemadam. Jika
saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya
angkat pemadam ini, maka katalah "Pemadam!"
Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Guru
berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya,
semakin lama semakin cepat. Beberapa saat kemudian guru kembali
berkata, "Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur,
maka sebutlah "Pemadam!", jika saya angkat pemadam, maka
katakanlah "Kapur!". Dan diulangkan seperti tadi, tentu saja
murid-murid tadi keliru dan kekok, dan sangat sukar untuk
mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak
lagi kekok. Selang beberapa saat, permainan berhenti.
Sang gur! u tersenyum kepada murid-muridnya. "Murid-murid,
begitulah kita umat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang
bathil itu bathil. Kita begitu jelas membezakannya. Namun
kemudian, musuh musuh kita memaksakan kepada kita dengan
perbagai cara, untuk menukarkan sesuatu, dari yang haq menjadi
bathil, dan sebaliknya. Pertama-tama mungkin akan sukar bagi
kita menerima hal tersebut, tapi kerana terus disosialisasikan
dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kamu
akan terbiasa dengan hal itu. Dan anda mulai dapat
mengikutinya. Musuh-musuh kamu tidak pernah berhenti membalik
dan menukar nilai dan ketika.
"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang
pelik, Zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi
hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan
trend, hiburan yang asyik dan panjang sehingga melupakan yang
wajib adalah biasa, materialistik kini menjadi suatu >gaya
hidup dan lain lain! ." "Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari,
anda sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?" tanya Guru
kepada murid-muridnya. "Paham cikgu..."
"Baik permainan kedua..." begitu Guru melanjutkan.
"Cikgu ada Qur'an,cikgu akan letakkannya di tengah karpet.
Sekarang anda berdiri diluar karpet. Permainannya adalah,
bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada ditengah tanpa
memijak karpet?"
Murid-muridnya berpikir . Ada yang mencuba alternatif dengan
tongkat,dan lain-lain.
Akhirnya Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan
ia ambil Qur'an. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.
"Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya...
Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak anda dengan
terang-terang...Kerana tentu anda akan menolaknya mentah
mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina
dihadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung anda
perlahan-lahan dari pinggir, sehingga anda tidak sadar."
"Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina
tapak yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka
bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar
rumah, tentu susah kalau dimulai dgn tapaknya dulu, tentu saja
hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kerusi dipindahkan
dulu, Almari dibuang dulu satu persatu, baru rumah
dihancurkan..."
"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan
menghentam terang-terangan, tapi ia akan perlahan-lahan
meletihkan anda. Mulai dari perangai anda, cara hidup, pakaian
dan lain-lain, sehingga meskipun anda muslim, tapi anda telah
meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara yang mereka... Dan
itulah yang mereka inginkan." "Ini semua adalah fenomena
Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Dan inilah yang dijalankan
oleh musuh musuh kita... "
"Kenapa mereka tidak berani terang-terang memijak-mijak cikgu?"
tanya murid- murid.
"Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya
Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak
lagi." "Begitulah Islam... Kalau diserang perlahan-lahan,
mereka tidak akan sedar, akhirnya hancur. Tapi kalau diserang
serentak terang-terangan, mereka akan bangkit serentak, baru
mereka akan sadar".
"Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan
mari kita berdoa dahulu sebelum pulang..." Matahari bersinar
terik takala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar
mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya...
Seorang guru wanita sedang bersemangat mengajarkan sesuatu
kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di
tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada pemadam. Guru
itu berkata, "Saya ada satu permainan... Caranya begini,
ditangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada pemadam. Jika
saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya
angkat pemadam ini, maka katalah "Pemadam!"
Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Guru
berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya,
semakin lama semakin cepat. Beberapa saat kemudian guru kembali
berkata, "Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur,
maka sebutlah "Pemadam!", jika saya angkat pemadam, maka
katakanlah "Kapur!". Dan diulangkan seperti tadi, tentu saja
murid-murid tadi keliru dan kekok, dan sangat sukar untuk
mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak
lagi kekok. Selang beberapa saat, permainan berhenti.
Sang gur! u tersenyum kepada murid-muridnya. "Murid-murid,
begitulah kita umat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang
bathil itu bathil. Kita begitu jelas membezakannya. Namun
kemudian, musuh musuh kita memaksakan kepada kita dengan
perbagai cara, untuk menukarkan sesuatu, dari yang haq menjadi
bathil, dan sebaliknya. Pertama-tama mungkin akan sukar bagi
kita menerima hal tersebut, tapi kerana terus disosialisasikan
dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kamu
akan terbiasa dengan hal itu. Dan anda mulai dapat
mengikutinya. Musuh-musuh kamu tidak pernah berhenti membalik
dan menukar nilai dan ketika.
"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang
pelik, Zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi
hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan
trend, hiburan yang asyik dan panjang sehingga melupakan yang
wajib adalah biasa, materialistik kini menjadi suatu >gaya
hidup dan lain lain! ." "Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari,
anda sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?" tanya Guru
kepada murid-muridnya. "Paham cikgu..."
"Baik permainan kedua..." begitu Guru melanjutkan.
"Cikgu ada Qur'an,cikgu akan letakkannya di tengah karpet.
Sekarang anda berdiri diluar karpet. Permainannya adalah,
bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada ditengah tanpa
memijak karpet?"
Murid-muridnya berpikir . Ada yang mencuba alternatif dengan
tongkat,dan lain-lain.
Akhirnya Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan
ia ambil Qur'an. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.
"Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya...
Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak anda dengan
terang-terang...Kerana tentu anda akan menolaknya mentah
mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina
dihadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung anda
perlahan-lahan dari pinggir, sehingga anda tidak sadar."
"Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina
tapak yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka
bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar
rumah, tentu susah kalau dimulai dgn tapaknya dulu, tentu saja
hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kerusi dipindahkan
dulu, Almari dibuang dulu satu persatu, baru rumah
dihancurkan..."
"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan
menghentam terang-terangan, tapi ia akan perlahan-lahan
meletihkan anda. Mulai dari perangai anda, cara hidup, pakaian
dan lain-lain, sehingga meskipun anda muslim, tapi anda telah
meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara yang mereka... Dan
itulah yang mereka inginkan." "Ini semua adalah fenomena
Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Dan inilah yang dijalankan
oleh musuh musuh kita... "
"Kenapa mereka tidak berani terang-terang memijak-mijak cikgu?"
tanya murid- murid.
"Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya
Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak
lagi." "Begitulah Islam... Kalau diserang perlahan-lahan,
mereka tidak akan sedar, akhirnya hancur. Tapi kalau diserang
serentak terang-terangan, mereka akan bangkit serentak, baru
mereka akan sadar".
"Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan
mari kita berdoa dahulu sebelum pulang..." Matahari bersinar
terik takala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar
mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya...
20 years