bahaya syiah
Syiah
Syiah adalah selompok Islam yang paling tua. Pada asalnya mereka adalah golongan yang berpendapat keutamaan kaum keluarga Nabi s.a.w. (ahlul bait) terhadap jawatan khalifah. Dan ahlul bait yang paling berhak ialah Ali bin Abi Talib r.a.
Mazhab mereka ini zahir pada akhir zaman pemerintahan Usman bin Affan r.a. I berkembang dan tersebar pada zaman pemerintahan Ali r.a. Di mana, apabila Ali r.a. menduduki tempat yang tertinggi (memeruntah) golongan Syiah mengambil kesempatan untuk men...
Syiah adalah selompok Islam yang paling tua. Pada asalnya mereka adalah golongan yang berpendapat keutamaan kaum keluarga Nabi s.a.w. (ahlul bait) terhadap jawatan khalifah. Dan ahlul bait yang paling berhak ialah Ali bin Abi Talib r.a.
Mazhab mereka ini zahir pada akhir zaman pemerintahan Usman bin Affan r.a. I berkembang dan tersebar pada zaman pemerintahan Ali r.a. Di mana, apabila Ali r.a. menduduki tempat yang tertinggi (memeruntah) golongan Syiah mengambil kesempatan untuk men...
36 comments
Comments (36)
saiful
kepada sahabat2 semua boleh pergi ke topik yang ana post kan ke sini daripada laman mweb pusat islam negarayang bertajuk ajaran2 sesat yang diwartakan(post pada 30.5.05)...... antaranya adalah syiah... ana harap ianya jelas lah...ana tak nak berbalah lagi.. kerana ianya telah jelas lagi bersuluh ....
20 years
syed ali hanya mengulang copy n paste artikel2 yang tidak ilmiah dan tidak boleh digunapakai sama sekali. Dalam masa yang sama tidak pula menjawab persoalan2 yang diajukan oleh kita. Mungkin Syed Ali lebih suka dengan cara baling batu sembunyi tangan kot??? Ataupun Syed Ali yang sebenarnya takde ilmu banyak mana pun, just copy n paste secara taksub buta. Cuba perhatikan betul2 apa yang ditulis dalam artikel tersebut dan buat rujukan pada rujukan asli (dalam bahasa arab) dan kaji betul2 segala fitnah yang dilemparkan oleh Syiah terhadap ahlussunnah (termasuk Imam Abdullah Al-Haddad dan Umar bin Abdul Rahman Al-Attas).
Jika benar antum cintakan ahlu bait, maka antum takkan memburukkan ahlussunnah demikian sekali, sehingga mengkafirkan mereka (dengan cara mengatakan ahlussunnah merubah alquran, menolak alquran, menolak sunnah). kalau entum benar seorang 'syed' maka entum telah mengkafirkan datuk moyang entum sendiri dan ribuan ulamak hadhramaut yang lain.
Wallahu A'lam
Jika benar antum cintakan ahlu bait, maka antum takkan memburukkan ahlussunnah demikian sekali, sehingga mengkafirkan mereka (dengan cara mengatakan ahlussunnah merubah alquran, menolak alquran, menolak sunnah). kalau entum benar seorang 'syed' maka entum telah mengkafirkan datuk moyang entum sendiri dan ribuan ulamak hadhramaut yang lain.
Wallahu A'lam
20 years
Ketentuan tentang Imam Ahlussunnah wal Jama’ah
tolong baca!!!!!
Ahlussunnah wal Jama’ah telah memusatkan segala perhatiannya pada ke-empat Imam pemilik mazhab-mazhab yang terkenal, yakni Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal. Para Imam yang Empat itu adalah bukan dari kalangan sahabat Rasul saww dan bukan pula dari kalangan tabi’in. Maka mereka itu tidak dikenal oleh Rasulullah dan mereka pun tidak mengenal beliau serta tidak melihat mereka dan mereka pun tidak meliaht beliau. Orang yang tertua (terdahulu) di antara mereka ialah Abu Hanifah, jarak masa antara dia dengan Nabi saww adalah lebih dari seratus tahun, sebab kelahirannya pada tahun 80 H dan wafatnya tahun 150 H. Adapun orang yang termuda (terakhir) ialah Ahmad bin Hanbal, dia dilahirkan tahun 165 H, dan wafat tahun 241 H. Ini adalah dalam bidang Furu’uddin (cabang agama).
Adapun dalam bidang ushuluddin (pokok agama), maka Ahlussunnah wal Jama’ah itu merujuk (bersandarkan) kepada Imam Abu al-Hasan ‘Aali bin Isma’il al-Asy’ari yang dilahirkan tahun 270 H dan wafat tahun 335 H. Mereka itu semua adalah para Imam Ahlussunnah wal Jama’ah yang dijadikan rujukan mereka dalam bidang ushuluddin dan furu’uddin.
Adalah Anda lihat di antara mereka salah seorang dari kalangan para imam Ahlulbait, atau dari kalangan sahabat Rasul saww, atau salah seorang yang telah disebut-sebut oleh Rasul saww, dan beliau arahkan umat kepadanya? Tidak, sama sekali tidak ada. Dan jika Ahlussunnah wal Jama’ah telah menyeru untuk berperang pada sunah Nabi saww, mengapa mazhab-mazhab tersebut terlambat munculnya sampai zaman itu ? Di manakah Ahlussannah wal Jama’ah sebelum munculnya mazhab tersebut? Dengan mazhab apa mereka beribadah dan kepada siapa mereka bersandar...?
Kemudian bagimana mereka itu bersandar kepada orang-orang yang tidak mengalami hidup Nabi saww, dan tidak pula menenalnya dan mereka baru dilahirkan setelah terjadi fitnah dan setelah pertikaian di kalangan sahabat dan sebagian membunuh sebagiannya dan sebagian mengkafirkan yang lainnya, serta setelah berpalingnya para khulafa dari Al-Qur’an dan sunah dan mereka berijtihad dengan pendapat mereka dalam menentang keduanya. Dan setelah Yazid bin Muawiyah menguasai kekhalifahan lalu ia membebaskan bala tentaranya di Madinah al-Munawarah untuk berbuat semau hatinya, sehingga tentaranya itu melakukan kerusakan di dalamnya dan membunuh para sahabat yang terbaik yang tidak mau membaiatnya dan kehormatan wanita dirusakkan serta pemerkosaan merajalela.
Bagaimana seorang yang berakal mau condong kepada para Imam itu dari kelompok orang-orang yang dilumpuri kekotoran fitnah dan minum air susunya yang tercampur dengan bermacam-macam kejahatan sehingga tumbuh dan berkembang dalam pembentukannya yang penuh kelicukan dan kedustaan serta telah diikuti oleh sebaik-baik pengetahuan yang penuh kepalsuan, maka sebagian mereka tidak dapat muncul kecuali orang-orang yang diridhai oleh penguasa dan mereka meridhainya.
Bagaimana orang yang mendakwahkan berpegang pada sunah bisa meninggalkan Imam ‘Ali as, dan Imam Hasan as, dan Imam Husein as, yang merupakan kedua pemuda ahlisurga serta meninggalkan para imam yang suci dari putra keturunan Nabi saww yang mewarisi seluruh ilmu datuk mereka yaitu Rasulullah saww, lalu mengikuti para imam yang mereka tidak memiliki ilmu tentang sunah Nabi saww bahkan mereka adalah merupakan hasil pembentukan politik Muawiyah. Adakah seorang Muslim masih meragukan, berdasarkan sejarah Islam dan Al-Qur’an serta sunah, bahwa Ahlulssunnah wal Jama’ah itu adalah para pengikut Muawiyah dan Abasiyin? Adakah seorang Muslim masih meragukan, berdasaekan Al-Qur’an dan sunah serta sejarah Islam, bahwa Syi’ah yang mengikuti putra keturunan Nabi saww dan berpimpinan pada mereka, adalah merupakan pengikut sunah Nabi saww dan tidak ada seorang pun selain mereka yang layak mendakwahkan?
Wahai pembaca yang mulia, bukankah Anda telah melihat bagaimana politik telah membalikkan perkara dan menjadikan yang batil dianggap benar dan yang benar dianggap batil! Maka bila orang-orang akan kepimpinan pada Nabi saww dan keturunannya mereka disebut dengan Rawafidh (pembangkang) dan ahli bid’ah. Dan ahli bid’ah yang membuang sunah Nabi saww dan keluarganya dan mereka mengikuti ijtihad para penguasa yang durhaka, mereka disebut dengan Ahlussunnah wal Jama’ah, sungguh ini adalah aneh...! Adapun saya pribadi meyakini dengan kuat bahwa suku Quraisy adalah di belakang pemberian nama tersebut dan itu merupakan salah satu dari rahasianya dan merupakan tipu-dayanya.
Sebagaimana kita telah ketahui di muka bahwa orang Quraisy itulah yang telah melarang Abdullah bin Amr dari penulisan sunah Nabi saww dengan anggapan bahwa Nabi saww itu tidak maksum. Maka Quraisy itulah sebenarnya yang merupakan orang-orang yang mengarahkan kedurhakaan dan ke-ashabiyah-an serta kekuatan yang dituju/dimaksud di tengah-tengah suku-suku Arab, dan mereka dinamakan oleh sebagian sejarahwan dengan para pakar Arab. Karena mereka terkenal dengan kelicikan dan keuletan serta penguasaan dalam pengaturan urusan, dan sebagian sejarawan menyebut mereka dengan Ahl al-Halli wa al-Aqdi. Sebagian mereka ialah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Abu Sofyan, Muawiyah, Amr bin Ash, Mughirah bin Syu’bah, Marwan bin Hakam, Thalhah bin Ubaidillah, Abudurrahman bin Auf dan Abu Ubaidah Amir bin Jarrah, serta lainnya.
Dan mereka itu sering berkumpul untuk bermusyawarah dan menentukan suatu perkara yang mereka sepakati lalu mereka memutuskan perkara mereka itu dan menyebarkannya di kalangan umat agar nantinya menjadi keputusan yang nyata dan benar-benar diikuti tanpa diketahui oleh seluruh manusia rahasianya yang tersembunyi. Sebagian dari kelicikan yang telah mereka lakukan ialah ucapan mereka bahwa Muhammad saww itu tidak maksum dan beliau seperti kebanyakan manusia yang memungkinkan berbuat salah, sehingga mereka berani meremehkan dan menentangnya dalam kebenaran padahal mereka mengetahui. Sebagian celaan mereka terhadap ‘Ali bin Abi Thalib dan kutukan mereka terhadapnya dengan sebutan Abu Turab dan penggambaran dirinya di hadapan manusia bahwa ia sebagai musuh Aallah dan Rasul-Nya. Dan sebagian celaan dan kutukan mereka terhadap sahabat yang mulia Ammar bin Yasir dengan nama hinaan, mereka menyebutnya dengan Abdullah bin Saba’ atau dengan sebutan anak si hitam, hal itu dikarenakan ia menentang para khalifah dan menyeru manusia untuk berimamkan ‘Ali bin Abi Thalib.
Termasuk juga penambahan Syi’ah yang berkepimpinan Imam ‘Aali as, dengan nama Rawafidh (pembangkang), agar dapat mengesankan pada orang-orang bahwa mereka telah membangkang terhadap Nabi Muhammad saww dengan mengikuti Imam ‘Ali as. Dan juga penamaan diri mereka sendiri dengan Ahlussunnah wal Jama’ah, sehingga dapat mengesankan pada orang-orang mukmin yang tulus ikhlas bahwa mereka itu berpegang pada sunah Nabi saww sebagai penentang para pembangkang yang membangkang terhadapnya. Padahal sebenarnya mereka memaksudkan dengan sunah itu ialah bid’ah yang sesat, yang mereka ciptakan demi mencela dan mengutuk Amirul Mukminin dan Ahlulbait Nabi saww di atas mimbar-mimbar di setiap mesjid kaum Muslimin dan di seluruh negeri dan kota-kota serta kampung, dan berlangsung bid’ah tersebut selama 80 tahun, sehingga apabila khatib mereka turun untuk shalat sebelum mengutuk Imam ‘Ali bin Abi Thalib maka yang ada di dalam mesjid berteriak, “Engkau telah meninggalkan sunah.â€
Dan ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz hendak merubah sunah itu dengan firman Allah swt, “Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan berbuat baik serta memberi kaum kerabat...,†(QS. an-Nahl:90) maka mereka menentang dan membunuhnya karena ia telah mematikan sunah mereka dan dengan itu ia telah memotong ucapan-ucapan para pendahulunya yang telah menghantarkan dirinya para kekhalifahan, maka mereka pun berusaha membunuhnya dengan racun, kala itu ia baru berusia 28 tahun dan kekhalifahannya tidak lebih dari dua tahun, maka dia meninggal sebagai korban dalam usaha pelurusan , karena keturunan paman-pamannya yakni Umawiyin tidak menerima-sunah mereka dimatikan (dihapuskan) yang dengan itu akan terangkat kedudukan Abu turab dan para Imam dari anak keturunannya.
Setelah jatuhnya kekuasaan Muawiyah, datanglah Abasiyin, maka mereka pada gilirannya telah mendapat pengalaman dalam bertindak terhadap para Imam Ahlulbait as, dan Syi’ah, sehingga ketika datang periode Khalifah Ja’far bin Manshur yang berjulukan al-Mutawakkil, ia adalah orang yang paling memusuhi Imam ‘Ali as, dan anak-anaknya, kebencian dan kedengkiannya itu sampai memuncak sehingga berani membongkar kuburan Imam Hasan as dan Imam Husein as di karbala dan melarang manusia dari menziarahinya dan ia tidak mau memberi suatu pemberian dan tidak pula mau membelanjakan harta kecuali kepada orang yang mau mencela Imam ‘Ali as dan anak-anaknya.
Kisah al-Mutawakkil beserta Ibnu sikkit seorang alim nahwu yang terkenal itu adalah telah diketahui, dan ia telah membunuhnya dengan cara yang sangat keji. Ia telah memerintah memotong lidahnya dari mulutnya ketika diketahui bahwa dia menjadi Syi’ah Imam ‘Ali as dan Ahlulbaitnya yang mana ketika itu dia menjadi guru bagi anak-anaknya. Kedengkian al-Mutawakkil dan permusuhannya telah memuncak sampai memerintahkan pembunuhan terhadap setiap anak yang diberi nama oleh bapaknya dengan nama ‘Ali, karena nama tersebut adalah yang sangat dibencinya. Sehingga ‘Ali bin Jahm seorang penyair tatkala berhadapan dengan al-Mutawakkil, dia berkata, “Hai Amirul Mukminin, sesungguhnya keluargaku telah menghinaku,†al-Mutawakkil berkata, Mengapa?†Dia menjawab, “Karena mereka menamakanku ‘Ali, sedangkan aku tidak menyukai nama itu dan aku tidak menyukai orang yang bernama dengannya.†Maka al-Mutawakkil terawa dan memberikan hadiah baginya.
Dalam majelisnya ia memunculkan seorang lelaki yang menyerupai ‘Ali bin Abi Thalib, lalu dia ditertawakan oleh orang-orang sambil berucap mengejek, ‘Si botak yang gendut telah hadir,†maka ahli majelis itu semuanya mengejeknya dan dengan itu al-Mutawakkil merasa gembira.
Di sini jangan sampai terlewatkan dari perhatian kita, bahwa al-Mutawakkil ini dan yang menunjukkan kebenciannya terhadap ‘Ali karena kemunafikkan dan kefasikannya adalah yang disukai oleh ahli hadis dan mereka telah menjulukinya dengan penghidup sunah. Dikarenakan ahli hadis itu sendiri adalah Ahlussunnah wal Jama’ah, maka telah ditetapkan dengan dalil yang tak diragukan bahwa sunah yang dimaksudkan menurut mereka ialah membenci Imam ‘Ali bin Abi Thalib dan mengutuknya serta berlepas diri darinya, itulah puncak tujuannya. Sebagian yang dapat menambah kejelasan bagi kita dalam perkara tersebut ialah bahwa al-Khawarizmi menyatakan dalam kitabnya, “Sesungguhnya Harun bin al-Khaizarah dan Ja’far al-Mutawakkil adalah dalam genggaman setan bukan pada Tuhan Yang Rahman, keduanya tidak mau memberi suatu pemberian tidak mau mengeluarkan hadiah kecuali bagi orang yang mencela keluarga Abu Thalib dan membela mazhab Nawashib (penentang Ahlulbait).â€
Sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnu Hajar dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, ia berkata,’Lantaran Nashr bin ‘Ali bin Shahban telah meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah saww memegang tangan Hasan dan Husein dan beliau bersabda, ‘Siapa mencintai aku dan mencintai kedua anak ini beserta bapak dan ibunya niscaya ia berada dalam kekududkanku pada hari kiamat,’ lalu al-Mutawakkil memerintah untuk memukulnya dengan cambuk 1000 kali sehingga ia hampir binasa, lalu Ja’far bin Abdul Wahid mengatakan tentang dirinya dan ia berkata, ‘Hai Amirul Mukminin, orang ini adalah dari golongan Ahlussunnah, ia pun tetap menyiksanya sampai ia meninggalkannya.â€
Orang berakal akan dapat memahami dari ucapan Ja’far bin Abdul Wahid kepada al-Mutawakkil bahwa Nashr itu adalah dari golongan Ahlussunnah, hal itu untuk menyelamatkannya dari pembunuhan, ini merupakan bukti yang lain bahwa Ahlussunnah itu adalah musuh Ahlulbait yang dibenci oleh al-Mutawakkil dan dia berusaha untuk membunuh setiap orang yang menyebutkan keutamaan mereka betapa pun ia tidak mengikuti mereka.
Inilah Ibnu Hajar telah menyebutkan dalam kitabnya bahwa Abdullah bin Idris al-Azdi, seorang Ahlussunnah wal Jama’ah dan ia bersikap keras di dalam sunah secara-rela sedangkan ia adalah orang Utsmani. Dan juga Ibnu Hajar telah mengatakan tentang Abdullah bin Aun al-Bashari, “Sesungguhnya ia adalah orang yang terpercaya, ahli ibadah dan keras dalam sunah dan bersikap keras terhadap ahli bid’ah,†Ibnu Mas’ud telah mengatakan, “Ia adalah seorang Utsmani.†Ia telah menyebutkan pula bahwa Ibrahim bin Ya’kub al-Jauzjani adalah seorang pengikut mazhab Hariz bin Utsman ad-Damsiqi yang dikenal dengan penentang Ahlulbait, Ibu Hayyan menyatakan bahwa ia adalah orang keras dalam sunah.
Dengan ini tahulah kita bahwa penentang dan kebencian terhadap Imam ‘Ali as dan anak-anaknya, serta pencelaan keluarga Abu Thalib dan kutukkan terhadap Ahlulbait menurut mereka dianggap kekerasan/keteguhan dalam sunnah, dan kita telah mengetahui bahwa orang-orang Utsmani adalah golongan penentang dan musuh Ahlulbait dan mereka orang-orang yang bersikap keras terhadap orang yang berpimpinan pada Imam ‘Ali as, dan keturunannya. Dan mereka memaksudkan dengan Ahlu bid’ah itu adalah golongan Syi’ah yang menyatakan keimamahan Imam ‘Ali as, karena menurut mereka itu adalah merupakan suatu bid’ah, yang mana hal itu bertentangan dengan yang dianut oleh para sahabat, dan Khulafa’ ar-Rasyiddin serta para pendahulu orang shaleh yang mereka itu telah mengucilkannya dan tidak mengakui keimamahannya serta ke-washiat-annya.
Saksi sejarah bagi kekuatan dalil tersebut adalah banyak sekali, tetapi apa yang telah kami sebutkan, cukuplah bagi yang menginginkan pembahasan dan penelitian, dan kami telah bertekad untuk meringkas sebagaimana biasanya, dan bagi para pembahas hendaklah dapat mencapai lebih banyak dari itu jika mau. Firman Aallah SWT, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh pada kami, niscaya Kami bimbing mereka itu pada jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.†(QS. al-Ankabut:69).
Syi’ah telah menetapkan untuk berimamkan dua belas dari Ahlulbait as, yang pertama ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian putranya Hasan dan Husein, kemudian sembilan orang yang maksum dari putra keturunan Husein. Rasulullah telah menetapkan para imam tersebut berulang kali secara terang dan jelas, beliau telah menyebutkan mereka dengan nama-namanya dalam sebagian riwayat yang telah diriwayatkan Syi’ah dan juga dari ulama Sunah.
Sebagian golongan Ahlussunnah sering membantah terhadap riwayat-riwayat tersebutdengan menganggap heran bagaimana mungkin Rasul saww membicarakan tentang hal-hal yang masih gaib, belum ada...? Padahal telah disebutkan dalam firman Allah, “Seandainya aku mengetahui yang gaib niscaya aku telah memperbanyak kebaikan dan tidak akan menyentuhku keburukan.†(QS. al-A’raf: 188) Sebagai jawaban terhadap hal itu, kami katakan bahwa ayat yang mulia tersebut tidak meniadakan bagi Rasul tentang pengetahuannya terhadap yang gaib secara mutlak, itu hanyalah merupakan bantahan terhadap orang-orang musyrik yang meminta pada beliau untuk memberitahukan pada mereka tentang waktu terjadinya kiamat, sedang ketentuan hari kiamat itu, pengetahuannya khusus bagi Allah SWT.
Dalam Al-Qur’an al-Karim telah disebutkan, “Dia yang mengetahui yang gaib dan Dia tidak menunjukkan yang gaib itu pada seseorang kecuali pada orang yang Dia ridhai dari pada Rasul...†(QS. al-Jin:26-27) Ini adalah merupakan suatu dalil bahwa Allah SWT menampakkan kegaiban-Nya kepada para Rasul yang telah dipilih. Sebagai contoh dari itu ialah ucapan Nabi Yusuf as kepada temannya dalam tahanan, “Tidak disampaikan padamu berdua makanan yang akan diberikan padamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai padamu, yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadku oleh Tuhanku...†(QS. Yusuf:37) dan juga firman-Nya, “Maka keduanya menemui seorang dari hamba-hamba Kami yang Kami berikan padanya ilmu dari sisi kami.â€(QS. al-Kahfi:65) Ini adalah kisah tentang Hidhir yang bertemu dengan Nabi Musa as, yang mengajarkan ilmu gaib kepada Musa yang tak sabar.
Kaum Muslimin, Syi’ah dan Sunnah tidaklah berselisih tentang Rasulullah saww, mengetahui yang gaib dan telah dicatat perjalanan hidup beliau yang banyak dari hal pemberitahuan yang gaib, seperti sabdanya, “Kasihan Ammar, dia akan dibunuh oleh kelompok durhaka,†dan juga dalam sabdanya kepada Imam ‘Ali as, “Orang-orang terakhir disengsarakan oleh orang yang membunuhmu, memukul kepalamu, lalu darahnya mewarnai janggutmu,†dan sabdanya, “Sesungguhnya anakku Hasan, dengan Allah SWT, akan mendamaikan dua kelompok besar.†Juga sabda beliau kepada Abu Dzar bahwa dia akan mati sendirian dalam pengasingan dan lainnya dari pemberitaan yang banyak. Sebagiannya yang merupakan hadis termasyhur yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta seluruh periwayat hadis sebagimana telah disebutkan yakni, “Imam-imam setelahku ada dua belas orang semuanya dari Quraisy, dan dalam satu riwayat menyatakan, “Semuanya dari Bani Hasyim.â€
Kami telah tetapkan dalam pembahasan terdahulu dari kitab Ma’as Shadiqin dan Kitab Fas Ali Ahl adz-Dzikr bahwa Ulama Sunnah sediri telah mengisyatkan dalam shahih mereka kepada hadis tersebut, yang menunjukkan pada keimanan dua belas dan mereka telah menshahihkannya. Bila ada orang bertanya, mengapa mereka meninggalkan para imam itu dan mengikuti selain mereka dari kalangan Imam Mazhab yang empat? Jawabannya yakni : Karena para pendahulu yang saleh seluruhnya adalah dari kalangan pendukung ketiga Khalifah yang dilahirkan oleh Shaqifah yakni Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Dan sudah jelas mereka meninggalkan Ahlulbait dan memusuhi Imam ‘Ali as, dan anak-anaknya, dan mereka telah menghapuskan sunah Nabi saww dan menggantikannya dengan ijtihad mereka. Hal itu telah menyebabkan terpecahnya umat menjadi dua golongan sepeninggal Rasul secara langsung. Maka para pendahulu yang saleh dan yang mengikuti mereka serta berpandangan dengan pandangan mereka adalah merupakan Ahlussunah wal Jama’ah, dan mereka adalah yang paling banyak di antara umat itu. Sedang kelompok yang paling sedikit adalah ‘Ali dan Syi’ahnya yang telah menentang pembaiatan dan tidak mau menerimanya, lalu mereka menjadi orang-orang yang terbuang dan dikutuk dan mereka Ahlussunnah menyebutnya dengan nama Rawafidh (para pembangkang).
Lantaran Ahlussunnah wal Jama’ah menjadi orang-orang yang menguasai perjalanan umat sepanjang beberapa abad, dan para penguasa Bani Umayah serta penguasa Bani Abbasiyah seluruhnya adalah pendukung dan pengikut ajaran kekhalifahan binaan Abu Bakar, Umar, dan Utsman serta Muawiyah dan Yazid, maka ketika kekuasaan kekhalifahan telah hancur dan hilang kehebatannya dan berpindah ke tangan raja-raja dan orang-orang ‘ajam barulah terdengar pengumpulan sunah Nabi saww, ketika itu muncullah hadis-hadis tersebut. Telah diusahakan penghapusan dan penyembunyiannya oleh orang-orang generasi pertama dan mereka tidak mampu untuk menghapus dan mendustakannya di masa-masa berikutnya, dan hadis-hadis tersebut tetap tinggal sebagai perkara yang tidak terpahami dan membingungkan menurut mereka, karena kandungannya bertentangan dengan kenyataan yang telah terjadi yang mereka percayai.
Dan sebagian mereka berusaha menyesuaikan antara hadis-hadis itu dengan apa yang telah menjadi kenyataan mereka, lalu mereka menonjolkan diri dengan kecintaan pada Ahlulbait dan kerelaan terhadap mereka. Maka Anda dapat lihat mereka itu setiap kali menyebut Imam ‘Ali as mereka mengucapkan, “Karramallahu wajhahu dan Radhiyallahu anhu,†sehingga dapat mengesankan orang-orang bahwa mereka bukanlah musuh Ahlulbait Nabi saww. Tidak mungkin bagi seorang Muslim sehingga yang munafik sekalipun untuk menampakkan permusuhannya terhadap Ahlulbait Nabi saww, sebab musuh Ahlulbait adalah merupakan musuh Rasulullah saww, dan itu akan mengelurakan mereka dari agama Islam sebagaimana yang tidak dapat disembunyikan lagi.
Dan yang dapat kami pahami dari itusemua yakni, bahwa mereka sebenarnya adalah musuh Ahlulbait Nabi, dan yang kami maksudkan mereka itu ialah para pendahulu orang shaleh yang menamakan dirinya atau dinamakan oleh para pendukungnya dengan “Ahlussunnah wal Jama’ah.†Buktinya ialah, Anda lihat mereka semua bertaqlid pada Mazhab yang empat yang telah dibentuk oleh para Sultan yang berkuasa--akan kami terangkan sebentar lagi-- dan tidak ada pada mereka satu hukum agama yang bersandar pada fiqih Ahlulbait atau pada salah seorang Imam yang dua belas. Dan hakikat telah menetapkan bahwa Syi’ah Imamiyah itulah yang merupakan Ahlussunnah Muhammadiyah, sebab mereka itu telah mengikat diri dalam seluruh hukum fiqih mereka pada para Imam Ahlulbait as yang telah mewarisi sunah yang shahih dari datuk mereka Rasulullah saww dan mereka tidak pernah memasukkan ke dalamnya pendapat dan ijtihad serta ucapan-ucapan para khalifah.
Maka tetaplah Syi’ah itu sepanjang zaman melaksanakan ibadah berdasarkan nas-nas dan menolak segala ijtihad yang bertentangan dengan nas. Sebagaimana mereka meyakini kekhalifahan ‘Ali dan putra-putranya adalah karena Nabi saww telah menetapkan hal itu, dan mereka ituyang disebut Khulafa ar-Rasul, betapa pun sebagian mereka tidak mencapai kekhalifahan secara praktis selain Imam ‘Ali as. Mereka semua menolak dan tidak mau mengakui para penguasa yang saling berbagi kekhalifahan dari yang pertama kepada yang berikutnya, sebab dasarnya adalah faltah (ketetapan secara tergesa-gesa yang dipelihara oleh Allah SWT keburukannya, dan disebabkan kekhalifahan itu berdiri demi menentang dan menolak/melawan Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan semua orang-orang yang datang berikutnya adalah merupakan kekeluargaan sehingga seseorang tidak menjadi khalifah kecuali dengan ditentukan oleh khalifah pendahulunya, atau secara pembunuhan dan kudeta serta pemaksaan.
Oleh karena itu Ahlussunnah wal Jama’ah terpaksa mengikuti kepemimpinan yang baik dan yang durhaka, sebab mereka menerima semua kekhalifahan para penguasa sehingga yang fasik sekalipun. Berlainan dengan Syi’ah Imamiyah yang telah menetapkan wajibnya kemaksuman Imam, maka tidak sah keimanan umat dan kepemimpinan kecuali bagi Imam yang maksum, dan tidak ada di antara umat ini orang yang maksum selain orang-orang yang telah dibersihkan dari mereka segala noda oleh Allah SWT, dan disucikan dengan sesuci-sucinya.
Penguasa Zhalim Penentu
Para Imam Empat Mazhab
Yang menunjukkan kita bahwa para Imam Mazhab yang empat dari Ahlussunnah mereka juga telah menyimpang dari Kitabullah dan sunah Nabi saww yang mewajibkan atas mereka untuk mengikuti keuarga Nabi saww yang suci ialah kita tidak mendapati satu orang dari mereka yang memuliakan dan menumpang pada perahu Ahlulbait dan mengenal imam zamannya. Inilah Abu Hanifah yang pernah belajar pada Imam Shadiq yang telah termasyhur dengan ucapannya, “Seandainya tidak karena dua tahun (yakni belajar pada Imam Shadiq) niscaya binasalah Nu’man (Abu Hanifah).†Kita dapati dia telah menciptakan satu mazhab yang berdiri atas qias dan beramal dengan dasar pendapat yang berlawanan dengan nas-nas yang jelas.
Dan inilah Malik yang pernah belajar dari Imam Shadiq, dan ucapannya telah diriwayatkan yakni, “Tidak ada mata yang dapat melihat dan tidak ada telinga yang dapat mendengar serta pikiran yang melintas akan adanya orang yang lebih pandai dan lebih berilmu selain dari Ja’far ash-Shadiq.†Kita dapati ia telah menciptakan satu mazhab dalam Islam dan ia meninggalkan Imam zamannya yang ia sendiri telah menyatakan bahwa dia lebih berilmu dan lebih pandai dimasanya. Dan ia telah tergoda oleh para penguasa zhalim Abasiyah dan mereka menamakan dirinya sebagai Imam Darul Hijrah (Imam Madinah). Maka selain itu Malik menjadi orang yang memiliki kebesaran dan kekuasaan serta pengaruh dan penghormatan.
Dan juga inilah Syafi’i yang disangkakan bahwa dia mengikuti Ahlulbait, maka ia telah mengatakan tentang hak mereka dalam bait-bait syairnya yang termasyhur :
Hai Ahlulbait Rasulullah,
mencintai kalian adalah fardu dari Allah,
tersebut dalam Al-Qur’an yang telah diturunkan.
Cukuplah merupakan keagungan karunia bagi kalian,
bahwa orang yang tidak berselawat atas kalian,
tidaklah akan diterima shalatnya.
Sebagaimana pujiannya terhadap Ahlulbait as yang termasuk dalam bait berikut ini :
Tatkala aku melihat manusia binasa dengan mazhabnya
dalam lautan kedurakaan dan kejahilan, maka atas nama Allah, aku menumpang bahtera keselamatan, yakni Ahlulbait al-Musthafa, Pengulu para Rasul. Dan aku pegang erat tali Allah, yaitu mencintai mereka, sebagaimana telah diperintahkan berpegang pada tali itu.
Dan ucapannya yang termasyhur yakni. “Jika Rafidhi itu adalah mencintai keluarga Nabi Muhammad saww, maka saksikanlah wahai jin dan manusia bahwa aku ini adalah Rafidhi.
Jika jin dan manusia menyaksikan bahwa dia Rafidhi, mengapa dia tidak menolak mazhab-mazhab yang berdiri menentang Ahlulbait, bahkan dia sendiri telah mengadakan mazhab lain yang menyangkut namanya dan dia meninggalkan para imam Ahlulbait yang sezamannya...?
Dan inilah Ahmad bin Hanbal yang telah memasukkan ‘Ali ke dalam empat Khalifah dan yang telah menggolongkan dalam kelompok Rasyidin setelah dulunya diingkari dan yang telah menulis tentangnya kitab Fadhail dan yang telah termasyhur ucapannya, “Tidak seorang dari para sahabat yang memiliki keutamaan dengan sanad yang shahih seperti Imam ‘Ali as.†Tapi dia sendiri telah menciptakan satu mazhab di dalam Islam yang namanya mazhab Hambali, tetapa pun para ulama dimasanya menyatakan bahwa dia bukan orang yang faqih. Syekh Abu Zuhrah telah menyatakan, “Sesungguhnya kebanyakan orang-orang yang terkemuka tidaklah menganggap Ahmad bin Hanbal termasuk golongan fuqaha, seperti Ibnu Qutaibah padahal dia adalah orang yang sangat terdekat zamannya dan juga Ibnu Jari at-Thabari dan yang lainnya.â€
Kemudian datanglah Ibnu Taimiyah, dan ia mengangkat bendera mazhab Hambali dan ia memasukkan di dalamnya beberapa pandangan baru yang mengharamkan ziarah kubur dan mendirikan bangunan di atasnya, dan bertawassul dengan Nabi saww dan Ahlulbaitnya, menurutnya semuanya itu adalah syirik. Demikian itulah keempat mazhab beserta para Imam mereka dan ucapan-ucapan yang disandarkan pada mereka tentang hak keluarga suci dari Ahlulbait Nabi saww.
Adapun tentang apakah mereka telah mengatakan perkara yang mereka tidak laksanakan, dan itu adalah merupakan kemurkaan yang besar di sisi Allah, atau mereka sebenarnya tidak mengadakan mazhab-mazhab tersebut tapi para pengikutnya yang dari para pengekor Umawiyah dan Abasiyah adalah yang telah membina mazhab-mazhab itu dengan bantuan para penguasa zalim, kemudian mereka menyandarkannya kepada dirinya setelah wafat mereka. Inilah yang insya Allah akan kita ketahui dalam pembahasan mendatang.
Aapakah kalian tidak heran terhadap mereka para imam itu yang hidup sezaman dengan para Imam al-Huda dari Ahlulbait, kemudian mereka menyimpang dari jalannya yang lurus dan tidak mengambil pelita dari cahayanya serta tidak mengemukakan hadis yang berasal dari datuknya Rasulullah saww, bahkan mereka mengutamakan Ka’ab seorang pendeta Yahudi dan Abu Hurairah ad-Dausi yang pribadinya telah dikatakan oleh Amirul Mukminin Imam ‘Ali as, dengan pernyataannya, “Sesungguhnya orang yang paling dusta pada Rasulullah adalah Abu Hurairah ad-Dausi.†Sebagaimana hal itu telah dikatakan pula oleh ‘Aisyah binti Abu Bakar.
Dan mereka lebih mengutamakan Abdullah bin Umar orang Nashibi yang terkenal kebenciannya ia membaiat pemimpin kesesatan al-Hajjaj bin Yusuf. Dan mereka mengutamakan Amr bin Ash mentrinya Muawiyah dalam kedurhakaan dan kemunafikan. Apakah Anda tidak heran, bagaimana mereka para imam itu dapat melapangkan diri mereka hak dalam penentuan syariat agama Allah dengan dasar pendapat dan ijtihad mereka sendiri, sehingga mereka merusak sunah Nabi saww dengan apa yang mereka diada-adakan dengan qias dan kebijaksanaan serta penutupan pintu syafa’at dan kemaslahatan yang meluas dan yang lainnya yang merupakan bid’ah mereka yang tidak ada wewenang dari Allah SWT.
Adakah Allah dan Rasul-Nya telah melangkahkan dari penyempurnaan agama dan membolehkan bagi mereka untuk menyempurnakannya dengan ijtihad mereka sehingga mereka boleh menghalalkan dan mengharamkan sebagaimana yang mereka lakukan...? Apakah Anda tidak heran terhadap sebagian kaum Muslim yang mendakwahkan berpegang pada sunah, bagaimana mereka bertaqlid pada orang-orang yang tidak menganal Nabi saww dan tidak pula dikenalnya...?
Adakah mereka mempunyai dalil dari Kitabullah atau sunah Rasul-Nya untuk mengikuti dan bertaqlid pada ke empat Imam pemilik mazhab-mazhab itu? Saya berani menentang pada bangsa manusia dan jin untuk mendatangkan satu dalil/bukti atas hal itu dari Kitabullah atau sunah Rasul-Nya. Demi Allah SWT, sekali-kali mereka tidak akan bisa menunjukkannya walaupun sebagian mereka saling bantu -membantu. Demi Allah, tidak ada satu dalil pun dalam Kitabullah dan sunah Rasul-Nya selain hanyalah untuk mengikuti dan bertaqlid pada para imam suci dari keluarga Nabi saww. Adapun tentang Ahlulbait banyak dalil dan hujjah yang terang serta kebenaran yang nyata.
Maka perhatikanlah wahai orang yang memiliki pandangan. (Qs. al-Hasr:2) Sesungguhnya ia tidak buta pengelihatan tetapi buta hati yang ada dalam dada. (QS. al-Haj:46).
Nabi Muhammad saww Adalah
Penentu Para Imam Mazhab Syi’ah
Seorang peneliti tidak akan dapat meragukan pelajaran sejarah Nabi saww dan pengetahuan sejarah Islam, bahwa Nabi saww telah menentukan para Imam yang ke dua belas (12 Imam as. ) dan beliau telah menetapkan mereka sebagai khalifah-khalifah setelahnya dan menjadi penerima wasiat di tengah umatnya. Telah disebutkan jumlah mereka dalam hadis-hadis shahih Ahlussunnah bahwa mereka itu adalah dua belas orang semuanya dari Quraisy, dan hal itu telah diriwataykan oleh Bukhari dan Muslim serta lainnya. Sebagaimana dalam Sunni telah menyebutkan nama-nama mereka penjelasan Nabi Muhammad saww, bahwa yang pertama adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya ialah putranya yakni al-Hasan as,kemudian saudaranya al-Husein as, sedang yang terakhir ialah al-Mahdi. Sebagaimana tersebut dalam hadis berikut ini :
Shahibu Yanabi’ al-Mawaddah telah meriwayatkan dalam kitabnya, dia berkata, “Seorang Yahudi disebut al-A’tal datang kepada Nabi Muhammad saww, dan ia berkata, “Hai Muhammad, saya menayakan kepadamu perkara-perkara yang telah terdetak dalam dadaku semenjak beberapa waktu, jika engkau dapat menjawabnya niscaya saya akan menyatakan masuk Islam di tanganmu.’Beliau menjawab, ‘Tanyalah! hai Aba Ammarah, maka ia menanyakan beberapa perkara yang sijawab oleh Nabi saww dan ia membenarkan, kemudian ia menanyakan, ‘Beritahukanlah padaku tentang penerimaan wasiatmu, siapakah ia itu? karena tidak seorang Nabi pun kecuali ia mempunyai seorang penerima wasiat, dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin Imran telah berwasiat kepada Yusa’ bin Nun.’ Maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya penerima wasiatku adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya adalah kedua cucuku al-Hasan dan al-Husein kemudian beliau menyebutkan sembilan Imam dari tulang sulbi al-Husein. ‘Lalu ia berkata, ‘Ya Muhammad, sebutkanlah nama-nama mereka kepadaku!’ Beliau bersabda, “Bila al-Husein telah berlalu maka diganti oleh anaknya “Ali, bila ‘Ali telah berlalu maka diganti anaknya Muhammad, bila Muhammad berlalu maka diganti anaknya Ja’far, Musa, ‘Ali, Muhammad, ‘Ali, Hasan, al Hujjah Muhammad al-Mahdi as, maka itu semuanya adalah dua belas orang Imam.’ Kemudian orang Yahudi itu pun masuk Islam dan ia memuji Aallah SWT karena petunjuk-Nya.â€1
Seandainya kita mau membuka lembaran kitab-kitab Syi’ah dan apa yang terkandung di dalamnya, dari hal kebenaran khususunya tentang masalah ini niscaya kita akan mendapatkan lebih banyak dari itu. Tapi cukuplah bagi kita sebagai bukti bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah mengakui jumlah para Imam yang ke-12 itu, dan tidak terwujud para Imam itu selain ‘Ali dan anak-anaknya yang telah disucikan. Dan yang dapat menambahkan kayakinan bagi kita ialah, bahwa Imam yang ke-12 dari Ahlulbait itu tidka pernah belajar pada satu orang pun dari para ulama umat ini, tidak ada yang meriwayatkan pada kita baik para ahli tarikh maupun ahli hadis dan sejarawan, bahwa salah seorang Imam dari Ahlulbait itu mendapatkan ilmunya dari sebagian sahabat atau tabi’in sebagaimana halnya para ulama umat dan para imam mereka.
Sebagaimana Abu Hanifah belajar kepada Imam Ja’far ash -Shadiq dan Malik belajar kepada Abu Hanifah sedang Syafi’i mendapat ilmu dari Malik dan ia mengambil darinya, begitu pula Ahmad bin Hanbal. Adapun para imam Ahlulbait maka ilmu mereka adalah merupakan pemberian dari Allah SWT yang mereka mewarisi dari Bapak yang berasal dari datuk mereka, mereka itulah yang diistimewakan oleh Allah SWT dengan firmannya:
-------------------------------
1. Riwayat al-Qunduzi al-Hanafi dalam kitab Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 440, dan
Faraid as-Samthain oleh al-Humawaini dengan sanad dari Ibnu Abbas.
“Kemudian kami mewariskan kitab pada orang-orang yang telah kami pilih dari antara hamba-hamba Kami.†(QS.Fathir:32)
Imam Ja’far ash-Shadiq pernah menyatakan tentang hakikat tersebut sekali waktu dengan ungkapannya, “Sungguh mengherankan orang-orang itu, mereka mengatakan bahwa mereka mengambil ilmu seluruhnya dari Rasulullah saww dan mengamalkannya serta mendapat petunjuk ! Kemudian mereka mengatakan bahwa kami Ahlulbait tidak mengambil ilmu beliau dan tidak mendapat petunjuk, padahal kami adalah keluarga dan keturunan beliau, di rumah kamilah wahyu itu diturunkan dan dari sisi kami ilmu itu keluar kepada manusia, apakah Anda menganggap mereka berilmu dan mendapat petunjuk sedangkan kami bodoh dan tersesat...?â€
Ya, bagaimana Imam ash-Shadiq tidak mengherankan mereka itu yang mendakwahkan diri telah mengambil ilmu dari Rasulullah saww, padahal mereka memusuhi Ahlulbait beliau dan pintu ilmunya yang melalui dirinya ilmu itu diberikan, bagaimana tidak mengherankan penempatan nama Ahlussunnah, padahal mereka sendiri penentang sunah itu. Dan bila Syi’ah sebagaimana telah disaksikan oleh sejarah, mereka itu mengistimewakan ‘Ali dan membelanya serta mereka berdiri tegak menentang musuhnya, memerangi orang yang memeranginya, dan damai dengan orang yang damai dengannya dan mereka telah mengambil seluruh ilmu darinya. Maka Ahulussunnah wal Jama’ah itu tidaklah mengikuti dan ingin membinasakannya, dan mereka telah meneruskan sikap itu terhadap anak keturunan setelahnya dengan pembunuhan, penjara, dan pengusiran. Mereka telah bertentangan dengannya dalam kebanyakan hukum dengan dasar mengikuti para pendakwah ilmu pengetahuan yang mereka itu saling berselisih sesuai dengan pendapat dan ijtihad mereka dalam perkara hukum Allah, lalu mereka menggantikannya sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingan yang mereka tuju.
Dan bagaimana kita sekarang tidak heran terhadap orang-orang yang mendakwahkan mengikuti sunah Nabi saww, dan menyetakan sendiri telah meninggalkan sunah Nabi saww karena ia telah menjadi Syi’ah bagi Syi’ah,*1 bukanlah ini merupakan hal yang mengherankan?
Bagaimana kita tidak heran terhadap orang-orang yang mendakwahkan diri sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah, sedang mereka merupakan kelompok yang banyak, seperti pengikut Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali yang mereka itu saling berselisih sebagian dengan lainnya dala hukum-hukum fiqih dan menganggap bahwa perselisihan itu adalah merupakan suatu rahmat bagi mereka, sehingga dengan demikian agama Allah SWT menjadi lampiasan hawa nafsu dan pendapat serta sasaran selera diri mereka. Memang benarlah, bahwa mereka adalah kelompok terbanyak yang saling berpecah-belah dalam hukum Allah SWT dan Rasul-Nya, tetapi mereka bersatu dan bersepakat dalam mengesakan kekhalifahan Saqifah yang durhaka dan bersepakat dalam meninggalkan dan menjauhkan keluarga Nabi saww, yang Suci.
Bagaimana kita tidak heran terhadap mereka itu yang membanggakan diri sebagai Ahlussunnah, padahal mereka telah meninggalkan yang berharga yakni Kitabullah dan keluarga Rasul betapapun mereka sendiri telah meriwayatkan hadis tersebut dan menshahihkannya...? Sesungguhnya mereka itu tidak berpegang baik pada Al-Qur’an maupun pada keluarga Rasul, sebab dengan meninggalkan keluarga Rasul yang suci itu berarti mereka telah meninggalkan Al-Qur’an, karena hadis yang mulia menetapkannya bahwa Al-Qur’an dan keluarga Rasul itu tidak pernah berpisah selama-lamanya, sebagaimana Rasulullah telah menyatakan hal itu dengan sabdanya:
--------------------------------------
*1. Sesuai pernyataan Ibnu Taimiyah untuk meninggalkan sunah Nabi saww bila itu
telah menjadi syi’ar bagi Syi’ah, lihat Minhaj as-Sunnah oleh Ibnu Taimiyah,II, hal.
143, dan Syarh al-Mawahib oleh Zargani,V, hal.13.
“Tuhan Yang Maha Halus lagi Maha Sadar telah memberitahukan padaku bahwa keduanya yakni Aal-Qur’an dan keluarga Rasul tidak akan pernah berpisah sehingga menemui aku di telaga surga.â€1
Dan bagaimana kita tidak heran kepada kaum yang mendakwahkan diri sebagai Ahlussunnah padahal mereka bersikap menentang terhadap apa yang telah ditetapkan dalam kitab shahih mereka dari hal perbuatan Nabi saww dan perintahnya serta larangannya.2
Adapun bila kita meyakini dan membenarkan hadis, “aku tinggalkan pada kalian Kitabullah dan sunahku, selama kalian berpegang pada keduanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya.†Sebagaimana yang telah ditetapkan bagi sebagian Ahlussunnah sekarang ini, maka keheranan itu akan menjadi lebih besar dan kecelakaan itu akan lebih jelas. Karena justru para tokoh mereka dan imam mereka itulah orang-orang yang telah membakar sunah yang telah ditinggalkan Rasulullah saww di kalangan mereka, dan telah mencegah periwayatannya dan penulisannya sebagaimana yang telah kita ketahui dalam pembahasan terdahulu.
Umar bin khatab sendiri dengan terang-terangan telah menyatakan ucapan, “Cukup bagi kami Kitabullah,†itu adalah merupakan penolakan yang nyata terhadap Rasulullah saww, sedangkan orang yang menolak Rasulullah berarti menolak Allah SWT sebagaimana hal itu tak bisa disembunyikan lagi. Ucapan Umar bin Khathab tersebut telah diriwayatkan oleh seluruh hadis-hadis shahih Ahlussunnah termasuk di dalamnya Bukhari dan Muslim. Apabila Nabi saww telah bersabda, “Aku telah tinggalkan pada kalian Kitabullah dan sunahku, dan kami tidak membutuhkan sunahmu, dan bila Umar telah berkata dihadapan Nabi saww, “Cukup bagi kami Kitabullah, maka sesungguhnya Abu Bakar telah menguatkan untuk mewujudkan pandangan temannya itu lalu ia menyatakan setelah menjadi Khalifah:
Janganlah kalian meriwayatkan suatu hadis dari Rasulullah saww, maka jika seseorang bertanya pada kalian, katakanlah di antara mereka kita dan kalian ada Kitabullah, maka halalkanlah apa yang telah dihalalkannya dan haramkanlah apa yang telah diharamkan.*1
Bagaimana kita tidak heran terhadap kaum yang telah meninggalkan sunah Nabi saww mereka dan membelakanginya lalu mereka menggantikan kedudukannya dengan suatu bid’ah yang mereka perbuat yang mana tidak diizinkan oleh Allah SWT, kemudian mereka menamakan diri dan pengikutnya dengan Ahlussunnah wal Jama’ah...? Tetapi keheranan tersebut akan musnah ketika kita katahui bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebenarnya tidak mengenal pemberian nama tersebut selama-lamanya. Inilah Abu Bakar yang telah menyatakan:
Jika kalian membebani aku dengan sunah Nabi saww, niscaya aku tidak akan mampu.*2
Bagaimana mungkin Abu Bakar tidak mampu menjalankan sunah Nabi saww? Apakah sunah beliau itu suatu perkara yang mustahil dilaksanakan.
-----------------------------------
1. Imam Ahmad dalam Musnad-nya, V, hal. 189, dan al-Hakim dalam Mustadark, III, hal. 148 dan ia menyatakan shahih menurut syarat Bukhari Muslim.
2. Diriwayatkan Bukhari dalam Shahih-nya bahwa Nabi saww melarang shalat tarawih dalam bulan Ramadhan secara jama’ah dengan sabdanya, “Shalatlah wahai manusia di rumah-rumah kalian, sesungguhnya seutama-seutama shalat seseorang adalah di rumahnya selain shalat fardu.†Tetapi Ahlussunnah mengabaikan larangan Nabi saww dan mereka mengikuti bid’ah Umar bin Khathab.
*1. Tadzkirat al-Huffadz oleh Dzahabi, I, hal. 3.
*2. Lihat Musnad Ahmad bin Hanbal, I, hal. 4
Sehingga Abu bakar tidak mampu? Bagaimana Ahlussunnah bisa mendakwahkan diri berpegang padanya jika tokoh mereka yang pertama dan pembina mazhab mereka itu tidak mampu melaksanakan sunah? Bukankah Allah SWT menyatakan, “Pada diri Rasulullah suatu tauladan yang baik bagi kalian .†(QS. al-Ahzab:21) dan firman-Nya, “Allah tidak membebani seseorang kecuali semampunya.†(QS. at-Thalaq:7) Dan juga firman-Nya, “Dan tidak menjadikan suatu kesulitan bagi kalian dalam agama.†(QS. al-Haj :78)
Apaakah Abu Bakar dan temannya Umar menganggap bahwa Rasulullah telah menciptakan suatu agama yang bukan diturunkan oleh Allah SWT, lalu beliau memerintah kaum Muslim ini dengan sesuatu yang tak terangkat dan membebani mereka dengan kesuliatan? Hal itu tidak mungkin, bahkan yang sering beliau katakan yakni, “Gembirakanlah dan jangan jadikan mereka lari, mudahkanlah dan jangan kalian mempersulit, sesungguhnya Allah SWT telah memberi kalian keringanan maka jangan kalian memberatkan diri kalian sendiri.†Tetapi pengakuan Abu Bakar bahwa ia tidak mampu melaksanakan sunah Nabi saww itu adalah menguatkan apa yang menjadi pendapat kami bahwa ia telah melakukan suatu bid’ah yang mampu ia laksanakan sesuai dengan keinginannya dan sejalan dengan politik yang ia kuasai. Dan mungkin Umar bin Khathab berpandangan yang lain, bahwa hukum-hukum Al-Qur’an dan sunah itu tak mampu dilaksanakan, lalu ia sengaja meninggalkan shalat ketika ia junub sedangkan air tidak didapatinya dan ia berfatwa demikian di saat kekhalifahannya, sedang orang khusus dan yang umum telah mengetahui hal itu dan seluruh ahli hadis telah meriwayatkan itu darinya.
Hal itu dikarenakan Umar adalah orang yang gemar banyak bersetubuh dan dialah yang disinggung oleh firman Allah SWT, “Allah mengetahui bahwa kalian mengkhianati diri kalian lalu Dia mengampuni kalian.†(Qs. al-Baqarah: 187) Ini lantaran ia tidak mampu menahan diri dari bersetubuh di waktu puasa, dan dikarenakan air sangat sedikit maka Umar berpendapat bahwa yang paling mudah ialah meningalkan shalat dan bersantai-santai sampai ia mendapatkan air yang mencukupi untuk mandi, ketika itu baru ia kembali mengerjakan shalat.
Adapun Utsman maka ia benar-benar telah mengabaikan sunah Nabi saww sebagaimana yang telah dikenal, sehingga ‘Aisyah mengeluarkan baju Nabi saww dan berkata, “Sungguh Utsman telah menghancurkan sunah Nabi saww sebelum baju beliau sendiri menjadi rusak.†Sehingga ia dicela oleh para sahabat bahwa ia telah menentang sunah Nabi saww, dan sunah Abu Bakar, Umar dan mereka pun membunuhnya lantaran itu.
Mengenai Muawiyah, terserah apa yang Anda katakan, tidak mengapa, sesungguhnya ia telah meninggalkan Al-Qur’an dan sunah adalah dariku dan aku darinya, siapa yang mencaci ‘Ali sungguh telah mencaciku dan siapa yang mencaciku sungguh ia telah mencaci Allah SWT,†Kita dapati Muawiyah telah mengarahkan cacian dan kutukan padanya ia belum merasa cukup dengan itu sehingga ia memerintahkan seluruh wali-walinya dan para pegawainya untuk mencaci dan mengutuknya, siapa yang menolak di antara mereka maka ia disingkirkan dan dibunuh.
Dan kita telah mengetahui bahwa Muawiyah itu adalah orang yang telah menamakan dirinya dan pengikutnya sebagai Ahlussunnah wal jama’ah dalam rangka menentang penamaan Syi’ah sebagai pengikut kebenaran. Dan sebagian ahli sejarah meriwayatkan bahwa tahun dimana Muawiyah memegang penuh kekuasaan umat Islam, setelah mengadakan perjanjian dengan al-Hasan bin ‘Ali Thalib bin Abi Thalib, maka tahun itu dinamakan tahun jama’ah. Dan keheranan pun akan hilang ketika kita memahami bahwa kata-kata sunah itu tidak dimaksudkan oleh Muawiyah dan pengikutnya kecuali hanyalah pengutukan ‘Ali bin Abi Thalib dari atas mimbar-mimbar Islam pada setiap hari Jumat dan hari Raya.
Apabila Ahlussunnah wal Jama’ah itu merupakan rekayasa Muawiyah bin Abi Sofyan maka kita memohon pada Allah SWT agar mematikan kita di dalam bid’ah rafidhi yang telah dibina oleh ‘Ali bin Abi Thalib dan Ahlulbait (salam atas mereka). Anda tidak usah kaget wahai pembaca yang mulia, bila Ahlul bid’ah dan kesesatan itu menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah sedang imam-imam yang suci dari Ahlulbait itu menjadi Ahli bid’ah.
Inilah al-Allamah Ibnu Khaldun yang termasuk ulama termasyhur dari Ahlussunnah wal Jama’ah, ia menyatakannya dengan tegas setelah ia memerinci mazhab-mazhab jumhur ia mengatakan, “Ahlulbait itu menjadi terasing karena aliran faham yang mereka adakan dan fiqih yang berlainan dan mereka telah membina mazhab mereka atas dasar pencacian sebagian sahabat.â€1
Wahai pembaca, bukankah saya telah katakan dari semula, seandainya Anda berbuat sebaliknya niscaya Anda benar/tepat. Maka jika orang-orang fasik dari kalangan Bani Umayah mereka itu adalah Ahlussunnah dan Ahlulbait itu adalah Ahli bid’ah seperti yang dikatakan Ibnu Khaldun, maka buat Islam ucapan selamat jalan dan buat dunia ucapan selamat datang.
---------------------------------------
1. Muqaddaimah Ibnu Khaldun, hal. 494 dalam fasal Ilmu Fiqih.
tolong baca!!!!!
Ahlussunnah wal Jama’ah telah memusatkan segala perhatiannya pada ke-empat Imam pemilik mazhab-mazhab yang terkenal, yakni Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal. Para Imam yang Empat itu adalah bukan dari kalangan sahabat Rasul saww dan bukan pula dari kalangan tabi’in. Maka mereka itu tidak dikenal oleh Rasulullah dan mereka pun tidak mengenal beliau serta tidak melihat mereka dan mereka pun tidak meliaht beliau. Orang yang tertua (terdahulu) di antara mereka ialah Abu Hanifah, jarak masa antara dia dengan Nabi saww adalah lebih dari seratus tahun, sebab kelahirannya pada tahun 80 H dan wafatnya tahun 150 H. Adapun orang yang termuda (terakhir) ialah Ahmad bin Hanbal, dia dilahirkan tahun 165 H, dan wafat tahun 241 H. Ini adalah dalam bidang Furu’uddin (cabang agama).
Adapun dalam bidang ushuluddin (pokok agama), maka Ahlussunnah wal Jama’ah itu merujuk (bersandarkan) kepada Imam Abu al-Hasan ‘Aali bin Isma’il al-Asy’ari yang dilahirkan tahun 270 H dan wafat tahun 335 H. Mereka itu semua adalah para Imam Ahlussunnah wal Jama’ah yang dijadikan rujukan mereka dalam bidang ushuluddin dan furu’uddin.
Adalah Anda lihat di antara mereka salah seorang dari kalangan para imam Ahlulbait, atau dari kalangan sahabat Rasul saww, atau salah seorang yang telah disebut-sebut oleh Rasul saww, dan beliau arahkan umat kepadanya? Tidak, sama sekali tidak ada. Dan jika Ahlussunnah wal Jama’ah telah menyeru untuk berperang pada sunah Nabi saww, mengapa mazhab-mazhab tersebut terlambat munculnya sampai zaman itu ? Di manakah Ahlussannah wal Jama’ah sebelum munculnya mazhab tersebut? Dengan mazhab apa mereka beribadah dan kepada siapa mereka bersandar...?
Kemudian bagimana mereka itu bersandar kepada orang-orang yang tidak mengalami hidup Nabi saww, dan tidak pula menenalnya dan mereka baru dilahirkan setelah terjadi fitnah dan setelah pertikaian di kalangan sahabat dan sebagian membunuh sebagiannya dan sebagian mengkafirkan yang lainnya, serta setelah berpalingnya para khulafa dari Al-Qur’an dan sunah dan mereka berijtihad dengan pendapat mereka dalam menentang keduanya. Dan setelah Yazid bin Muawiyah menguasai kekhalifahan lalu ia membebaskan bala tentaranya di Madinah al-Munawarah untuk berbuat semau hatinya, sehingga tentaranya itu melakukan kerusakan di dalamnya dan membunuh para sahabat yang terbaik yang tidak mau membaiatnya dan kehormatan wanita dirusakkan serta pemerkosaan merajalela.
Bagaimana seorang yang berakal mau condong kepada para Imam itu dari kelompok orang-orang yang dilumpuri kekotoran fitnah dan minum air susunya yang tercampur dengan bermacam-macam kejahatan sehingga tumbuh dan berkembang dalam pembentukannya yang penuh kelicukan dan kedustaan serta telah diikuti oleh sebaik-baik pengetahuan yang penuh kepalsuan, maka sebagian mereka tidak dapat muncul kecuali orang-orang yang diridhai oleh penguasa dan mereka meridhainya.
Bagaimana orang yang mendakwahkan berpegang pada sunah bisa meninggalkan Imam ‘Ali as, dan Imam Hasan as, dan Imam Husein as, yang merupakan kedua pemuda ahlisurga serta meninggalkan para imam yang suci dari putra keturunan Nabi saww yang mewarisi seluruh ilmu datuk mereka yaitu Rasulullah saww, lalu mengikuti para imam yang mereka tidak memiliki ilmu tentang sunah Nabi saww bahkan mereka adalah merupakan hasil pembentukan politik Muawiyah. Adakah seorang Muslim masih meragukan, berdasarkan sejarah Islam dan Al-Qur’an serta sunah, bahwa Ahlulssunnah wal Jama’ah itu adalah para pengikut Muawiyah dan Abasiyin? Adakah seorang Muslim masih meragukan, berdasaekan Al-Qur’an dan sunah serta sejarah Islam, bahwa Syi’ah yang mengikuti putra keturunan Nabi saww dan berpimpinan pada mereka, adalah merupakan pengikut sunah Nabi saww dan tidak ada seorang pun selain mereka yang layak mendakwahkan?
Wahai pembaca yang mulia, bukankah Anda telah melihat bagaimana politik telah membalikkan perkara dan menjadikan yang batil dianggap benar dan yang benar dianggap batil! Maka bila orang-orang akan kepimpinan pada Nabi saww dan keturunannya mereka disebut dengan Rawafidh (pembangkang) dan ahli bid’ah. Dan ahli bid’ah yang membuang sunah Nabi saww dan keluarganya dan mereka mengikuti ijtihad para penguasa yang durhaka, mereka disebut dengan Ahlussunnah wal Jama’ah, sungguh ini adalah aneh...! Adapun saya pribadi meyakini dengan kuat bahwa suku Quraisy adalah di belakang pemberian nama tersebut dan itu merupakan salah satu dari rahasianya dan merupakan tipu-dayanya.
Sebagaimana kita telah ketahui di muka bahwa orang Quraisy itulah yang telah melarang Abdullah bin Amr dari penulisan sunah Nabi saww dengan anggapan bahwa Nabi saww itu tidak maksum. Maka Quraisy itulah sebenarnya yang merupakan orang-orang yang mengarahkan kedurhakaan dan ke-ashabiyah-an serta kekuatan yang dituju/dimaksud di tengah-tengah suku-suku Arab, dan mereka dinamakan oleh sebagian sejarahwan dengan para pakar Arab. Karena mereka terkenal dengan kelicikan dan keuletan serta penguasaan dalam pengaturan urusan, dan sebagian sejarawan menyebut mereka dengan Ahl al-Halli wa al-Aqdi. Sebagian mereka ialah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Abu Sofyan, Muawiyah, Amr bin Ash, Mughirah bin Syu’bah, Marwan bin Hakam, Thalhah bin Ubaidillah, Abudurrahman bin Auf dan Abu Ubaidah Amir bin Jarrah, serta lainnya.
Dan mereka itu sering berkumpul untuk bermusyawarah dan menentukan suatu perkara yang mereka sepakati lalu mereka memutuskan perkara mereka itu dan menyebarkannya di kalangan umat agar nantinya menjadi keputusan yang nyata dan benar-benar diikuti tanpa diketahui oleh seluruh manusia rahasianya yang tersembunyi. Sebagian dari kelicikan yang telah mereka lakukan ialah ucapan mereka bahwa Muhammad saww itu tidak maksum dan beliau seperti kebanyakan manusia yang memungkinkan berbuat salah, sehingga mereka berani meremehkan dan menentangnya dalam kebenaran padahal mereka mengetahui. Sebagian celaan mereka terhadap ‘Ali bin Abi Thalib dan kutukan mereka terhadapnya dengan sebutan Abu Turab dan penggambaran dirinya di hadapan manusia bahwa ia sebagai musuh Aallah dan Rasul-Nya. Dan sebagian celaan dan kutukan mereka terhadap sahabat yang mulia Ammar bin Yasir dengan nama hinaan, mereka menyebutnya dengan Abdullah bin Saba’ atau dengan sebutan anak si hitam, hal itu dikarenakan ia menentang para khalifah dan menyeru manusia untuk berimamkan ‘Ali bin Abi Thalib.
Termasuk juga penambahan Syi’ah yang berkepimpinan Imam ‘Aali as, dengan nama Rawafidh (pembangkang), agar dapat mengesankan pada orang-orang bahwa mereka telah membangkang terhadap Nabi Muhammad saww dengan mengikuti Imam ‘Ali as. Dan juga penamaan diri mereka sendiri dengan Ahlussunnah wal Jama’ah, sehingga dapat mengesankan pada orang-orang mukmin yang tulus ikhlas bahwa mereka itu berpegang pada sunah Nabi saww sebagai penentang para pembangkang yang membangkang terhadapnya. Padahal sebenarnya mereka memaksudkan dengan sunah itu ialah bid’ah yang sesat, yang mereka ciptakan demi mencela dan mengutuk Amirul Mukminin dan Ahlulbait Nabi saww di atas mimbar-mimbar di setiap mesjid kaum Muslimin dan di seluruh negeri dan kota-kota serta kampung, dan berlangsung bid’ah tersebut selama 80 tahun, sehingga apabila khatib mereka turun untuk shalat sebelum mengutuk Imam ‘Ali bin Abi Thalib maka yang ada di dalam mesjid berteriak, “Engkau telah meninggalkan sunah.â€
Dan ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz hendak merubah sunah itu dengan firman Allah swt, “Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan berbuat baik serta memberi kaum kerabat...,†(QS. an-Nahl:90) maka mereka menentang dan membunuhnya karena ia telah mematikan sunah mereka dan dengan itu ia telah memotong ucapan-ucapan para pendahulunya yang telah menghantarkan dirinya para kekhalifahan, maka mereka pun berusaha membunuhnya dengan racun, kala itu ia baru berusia 28 tahun dan kekhalifahannya tidak lebih dari dua tahun, maka dia meninggal sebagai korban dalam usaha pelurusan , karena keturunan paman-pamannya yakni Umawiyin tidak menerima-sunah mereka dimatikan (dihapuskan) yang dengan itu akan terangkat kedudukan Abu turab dan para Imam dari anak keturunannya.
Setelah jatuhnya kekuasaan Muawiyah, datanglah Abasiyin, maka mereka pada gilirannya telah mendapat pengalaman dalam bertindak terhadap para Imam Ahlulbait as, dan Syi’ah, sehingga ketika datang periode Khalifah Ja’far bin Manshur yang berjulukan al-Mutawakkil, ia adalah orang yang paling memusuhi Imam ‘Ali as, dan anak-anaknya, kebencian dan kedengkiannya itu sampai memuncak sehingga berani membongkar kuburan Imam Hasan as dan Imam Husein as di karbala dan melarang manusia dari menziarahinya dan ia tidak mau memberi suatu pemberian dan tidak pula mau membelanjakan harta kecuali kepada orang yang mau mencela Imam ‘Ali as dan anak-anaknya.
Kisah al-Mutawakkil beserta Ibnu sikkit seorang alim nahwu yang terkenal itu adalah telah diketahui, dan ia telah membunuhnya dengan cara yang sangat keji. Ia telah memerintah memotong lidahnya dari mulutnya ketika diketahui bahwa dia menjadi Syi’ah Imam ‘Ali as dan Ahlulbaitnya yang mana ketika itu dia menjadi guru bagi anak-anaknya. Kedengkian al-Mutawakkil dan permusuhannya telah memuncak sampai memerintahkan pembunuhan terhadap setiap anak yang diberi nama oleh bapaknya dengan nama ‘Ali, karena nama tersebut adalah yang sangat dibencinya. Sehingga ‘Ali bin Jahm seorang penyair tatkala berhadapan dengan al-Mutawakkil, dia berkata, “Hai Amirul Mukminin, sesungguhnya keluargaku telah menghinaku,†al-Mutawakkil berkata, Mengapa?†Dia menjawab, “Karena mereka menamakanku ‘Ali, sedangkan aku tidak menyukai nama itu dan aku tidak menyukai orang yang bernama dengannya.†Maka al-Mutawakkil terawa dan memberikan hadiah baginya.
Dalam majelisnya ia memunculkan seorang lelaki yang menyerupai ‘Ali bin Abi Thalib, lalu dia ditertawakan oleh orang-orang sambil berucap mengejek, ‘Si botak yang gendut telah hadir,†maka ahli majelis itu semuanya mengejeknya dan dengan itu al-Mutawakkil merasa gembira.
Di sini jangan sampai terlewatkan dari perhatian kita, bahwa al-Mutawakkil ini dan yang menunjukkan kebenciannya terhadap ‘Ali karena kemunafikkan dan kefasikannya adalah yang disukai oleh ahli hadis dan mereka telah menjulukinya dengan penghidup sunah. Dikarenakan ahli hadis itu sendiri adalah Ahlussunnah wal Jama’ah, maka telah ditetapkan dengan dalil yang tak diragukan bahwa sunah yang dimaksudkan menurut mereka ialah membenci Imam ‘Ali bin Abi Thalib dan mengutuknya serta berlepas diri darinya, itulah puncak tujuannya. Sebagian yang dapat menambah kejelasan bagi kita dalam perkara tersebut ialah bahwa al-Khawarizmi menyatakan dalam kitabnya, “Sesungguhnya Harun bin al-Khaizarah dan Ja’far al-Mutawakkil adalah dalam genggaman setan bukan pada Tuhan Yang Rahman, keduanya tidak mau memberi suatu pemberian tidak mau mengeluarkan hadiah kecuali bagi orang yang mencela keluarga Abu Thalib dan membela mazhab Nawashib (penentang Ahlulbait).â€
Sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnu Hajar dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, ia berkata,’Lantaran Nashr bin ‘Ali bin Shahban telah meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah saww memegang tangan Hasan dan Husein dan beliau bersabda, ‘Siapa mencintai aku dan mencintai kedua anak ini beserta bapak dan ibunya niscaya ia berada dalam kekududkanku pada hari kiamat,’ lalu al-Mutawakkil memerintah untuk memukulnya dengan cambuk 1000 kali sehingga ia hampir binasa, lalu Ja’far bin Abdul Wahid mengatakan tentang dirinya dan ia berkata, ‘Hai Amirul Mukminin, orang ini adalah dari golongan Ahlussunnah, ia pun tetap menyiksanya sampai ia meninggalkannya.â€
Orang berakal akan dapat memahami dari ucapan Ja’far bin Abdul Wahid kepada al-Mutawakkil bahwa Nashr itu adalah dari golongan Ahlussunnah, hal itu untuk menyelamatkannya dari pembunuhan, ini merupakan bukti yang lain bahwa Ahlussunnah itu adalah musuh Ahlulbait yang dibenci oleh al-Mutawakkil dan dia berusaha untuk membunuh setiap orang yang menyebutkan keutamaan mereka betapa pun ia tidak mengikuti mereka.
Inilah Ibnu Hajar telah menyebutkan dalam kitabnya bahwa Abdullah bin Idris al-Azdi, seorang Ahlussunnah wal Jama’ah dan ia bersikap keras di dalam sunah secara-rela sedangkan ia adalah orang Utsmani. Dan juga Ibnu Hajar telah mengatakan tentang Abdullah bin Aun al-Bashari, “Sesungguhnya ia adalah orang yang terpercaya, ahli ibadah dan keras dalam sunah dan bersikap keras terhadap ahli bid’ah,†Ibnu Mas’ud telah mengatakan, “Ia adalah seorang Utsmani.†Ia telah menyebutkan pula bahwa Ibrahim bin Ya’kub al-Jauzjani adalah seorang pengikut mazhab Hariz bin Utsman ad-Damsiqi yang dikenal dengan penentang Ahlulbait, Ibu Hayyan menyatakan bahwa ia adalah orang keras dalam sunah.
Dengan ini tahulah kita bahwa penentang dan kebencian terhadap Imam ‘Ali as dan anak-anaknya, serta pencelaan keluarga Abu Thalib dan kutukkan terhadap Ahlulbait menurut mereka dianggap kekerasan/keteguhan dalam sunnah, dan kita telah mengetahui bahwa orang-orang Utsmani adalah golongan penentang dan musuh Ahlulbait dan mereka orang-orang yang bersikap keras terhadap orang yang berpimpinan pada Imam ‘Ali as, dan keturunannya. Dan mereka memaksudkan dengan Ahlu bid’ah itu adalah golongan Syi’ah yang menyatakan keimamahan Imam ‘Ali as, karena menurut mereka itu adalah merupakan suatu bid’ah, yang mana hal itu bertentangan dengan yang dianut oleh para sahabat, dan Khulafa’ ar-Rasyiddin serta para pendahulu orang shaleh yang mereka itu telah mengucilkannya dan tidak mengakui keimamahannya serta ke-washiat-annya.
Saksi sejarah bagi kekuatan dalil tersebut adalah banyak sekali, tetapi apa yang telah kami sebutkan, cukuplah bagi yang menginginkan pembahasan dan penelitian, dan kami telah bertekad untuk meringkas sebagaimana biasanya, dan bagi para pembahas hendaklah dapat mencapai lebih banyak dari itu jika mau. Firman Aallah SWT, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh pada kami, niscaya Kami bimbing mereka itu pada jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.†(QS. al-Ankabut:69).
Syi’ah telah menetapkan untuk berimamkan dua belas dari Ahlulbait as, yang pertama ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian putranya Hasan dan Husein, kemudian sembilan orang yang maksum dari putra keturunan Husein. Rasulullah telah menetapkan para imam tersebut berulang kali secara terang dan jelas, beliau telah menyebutkan mereka dengan nama-namanya dalam sebagian riwayat yang telah diriwayatkan Syi’ah dan juga dari ulama Sunah.
Sebagian golongan Ahlussunnah sering membantah terhadap riwayat-riwayat tersebutdengan menganggap heran bagaimana mungkin Rasul saww membicarakan tentang hal-hal yang masih gaib, belum ada...? Padahal telah disebutkan dalam firman Allah, “Seandainya aku mengetahui yang gaib niscaya aku telah memperbanyak kebaikan dan tidak akan menyentuhku keburukan.†(QS. al-A’raf: 188) Sebagai jawaban terhadap hal itu, kami katakan bahwa ayat yang mulia tersebut tidak meniadakan bagi Rasul tentang pengetahuannya terhadap yang gaib secara mutlak, itu hanyalah merupakan bantahan terhadap orang-orang musyrik yang meminta pada beliau untuk memberitahukan pada mereka tentang waktu terjadinya kiamat, sedang ketentuan hari kiamat itu, pengetahuannya khusus bagi Allah SWT.
Dalam Al-Qur’an al-Karim telah disebutkan, “Dia yang mengetahui yang gaib dan Dia tidak menunjukkan yang gaib itu pada seseorang kecuali pada orang yang Dia ridhai dari pada Rasul...†(QS. al-Jin:26-27) Ini adalah merupakan suatu dalil bahwa Allah SWT menampakkan kegaiban-Nya kepada para Rasul yang telah dipilih. Sebagai contoh dari itu ialah ucapan Nabi Yusuf as kepada temannya dalam tahanan, “Tidak disampaikan padamu berdua makanan yang akan diberikan padamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai padamu, yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadku oleh Tuhanku...†(QS. Yusuf:37) dan juga firman-Nya, “Maka keduanya menemui seorang dari hamba-hamba Kami yang Kami berikan padanya ilmu dari sisi kami.â€(QS. al-Kahfi:65) Ini adalah kisah tentang Hidhir yang bertemu dengan Nabi Musa as, yang mengajarkan ilmu gaib kepada Musa yang tak sabar.
Kaum Muslimin, Syi’ah dan Sunnah tidaklah berselisih tentang Rasulullah saww, mengetahui yang gaib dan telah dicatat perjalanan hidup beliau yang banyak dari hal pemberitahuan yang gaib, seperti sabdanya, “Kasihan Ammar, dia akan dibunuh oleh kelompok durhaka,†dan juga dalam sabdanya kepada Imam ‘Ali as, “Orang-orang terakhir disengsarakan oleh orang yang membunuhmu, memukul kepalamu, lalu darahnya mewarnai janggutmu,†dan sabdanya, “Sesungguhnya anakku Hasan, dengan Allah SWT, akan mendamaikan dua kelompok besar.†Juga sabda beliau kepada Abu Dzar bahwa dia akan mati sendirian dalam pengasingan dan lainnya dari pemberitaan yang banyak. Sebagiannya yang merupakan hadis termasyhur yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta seluruh periwayat hadis sebagimana telah disebutkan yakni, “Imam-imam setelahku ada dua belas orang semuanya dari Quraisy, dan dalam satu riwayat menyatakan, “Semuanya dari Bani Hasyim.â€
Kami telah tetapkan dalam pembahasan terdahulu dari kitab Ma’as Shadiqin dan Kitab Fas Ali Ahl adz-Dzikr bahwa Ulama Sunnah sediri telah mengisyatkan dalam shahih mereka kepada hadis tersebut, yang menunjukkan pada keimanan dua belas dan mereka telah menshahihkannya. Bila ada orang bertanya, mengapa mereka meninggalkan para imam itu dan mengikuti selain mereka dari kalangan Imam Mazhab yang empat? Jawabannya yakni : Karena para pendahulu yang saleh seluruhnya adalah dari kalangan pendukung ketiga Khalifah yang dilahirkan oleh Shaqifah yakni Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Dan sudah jelas mereka meninggalkan Ahlulbait dan memusuhi Imam ‘Ali as, dan anak-anaknya, dan mereka telah menghapuskan sunah Nabi saww dan menggantikannya dengan ijtihad mereka. Hal itu telah menyebabkan terpecahnya umat menjadi dua golongan sepeninggal Rasul secara langsung. Maka para pendahulu yang saleh dan yang mengikuti mereka serta berpandangan dengan pandangan mereka adalah merupakan Ahlussunah wal Jama’ah, dan mereka adalah yang paling banyak di antara umat itu. Sedang kelompok yang paling sedikit adalah ‘Ali dan Syi’ahnya yang telah menentang pembaiatan dan tidak mau menerimanya, lalu mereka menjadi orang-orang yang terbuang dan dikutuk dan mereka Ahlussunnah menyebutnya dengan nama Rawafidh (para pembangkang).
Lantaran Ahlussunnah wal Jama’ah menjadi orang-orang yang menguasai perjalanan umat sepanjang beberapa abad, dan para penguasa Bani Umayah serta penguasa Bani Abbasiyah seluruhnya adalah pendukung dan pengikut ajaran kekhalifahan binaan Abu Bakar, Umar, dan Utsman serta Muawiyah dan Yazid, maka ketika kekuasaan kekhalifahan telah hancur dan hilang kehebatannya dan berpindah ke tangan raja-raja dan orang-orang ‘ajam barulah terdengar pengumpulan sunah Nabi saww, ketika itu muncullah hadis-hadis tersebut. Telah diusahakan penghapusan dan penyembunyiannya oleh orang-orang generasi pertama dan mereka tidak mampu untuk menghapus dan mendustakannya di masa-masa berikutnya, dan hadis-hadis tersebut tetap tinggal sebagai perkara yang tidak terpahami dan membingungkan menurut mereka, karena kandungannya bertentangan dengan kenyataan yang telah terjadi yang mereka percayai.
Dan sebagian mereka berusaha menyesuaikan antara hadis-hadis itu dengan apa yang telah menjadi kenyataan mereka, lalu mereka menonjolkan diri dengan kecintaan pada Ahlulbait dan kerelaan terhadap mereka. Maka Anda dapat lihat mereka itu setiap kali menyebut Imam ‘Ali as mereka mengucapkan, “Karramallahu wajhahu dan Radhiyallahu anhu,†sehingga dapat mengesankan orang-orang bahwa mereka bukanlah musuh Ahlulbait Nabi saww. Tidak mungkin bagi seorang Muslim sehingga yang munafik sekalipun untuk menampakkan permusuhannya terhadap Ahlulbait Nabi saww, sebab musuh Ahlulbait adalah merupakan musuh Rasulullah saww, dan itu akan mengelurakan mereka dari agama Islam sebagaimana yang tidak dapat disembunyikan lagi.
Dan yang dapat kami pahami dari itusemua yakni, bahwa mereka sebenarnya adalah musuh Ahlulbait Nabi, dan yang kami maksudkan mereka itu ialah para pendahulu orang shaleh yang menamakan dirinya atau dinamakan oleh para pendukungnya dengan “Ahlussunnah wal Jama’ah.†Buktinya ialah, Anda lihat mereka semua bertaqlid pada Mazhab yang empat yang telah dibentuk oleh para Sultan yang berkuasa--akan kami terangkan sebentar lagi-- dan tidak ada pada mereka satu hukum agama yang bersandar pada fiqih Ahlulbait atau pada salah seorang Imam yang dua belas. Dan hakikat telah menetapkan bahwa Syi’ah Imamiyah itulah yang merupakan Ahlussunnah Muhammadiyah, sebab mereka itu telah mengikat diri dalam seluruh hukum fiqih mereka pada para Imam Ahlulbait as yang telah mewarisi sunah yang shahih dari datuk mereka Rasulullah saww dan mereka tidak pernah memasukkan ke dalamnya pendapat dan ijtihad serta ucapan-ucapan para khalifah.
Maka tetaplah Syi’ah itu sepanjang zaman melaksanakan ibadah berdasarkan nas-nas dan menolak segala ijtihad yang bertentangan dengan nas. Sebagaimana mereka meyakini kekhalifahan ‘Ali dan putra-putranya adalah karena Nabi saww telah menetapkan hal itu, dan mereka ituyang disebut Khulafa ar-Rasul, betapa pun sebagian mereka tidak mencapai kekhalifahan secara praktis selain Imam ‘Ali as. Mereka semua menolak dan tidak mau mengakui para penguasa yang saling berbagi kekhalifahan dari yang pertama kepada yang berikutnya, sebab dasarnya adalah faltah (ketetapan secara tergesa-gesa yang dipelihara oleh Allah SWT keburukannya, dan disebabkan kekhalifahan itu berdiri demi menentang dan menolak/melawan Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan semua orang-orang yang datang berikutnya adalah merupakan kekeluargaan sehingga seseorang tidak menjadi khalifah kecuali dengan ditentukan oleh khalifah pendahulunya, atau secara pembunuhan dan kudeta serta pemaksaan.
Oleh karena itu Ahlussunnah wal Jama’ah terpaksa mengikuti kepemimpinan yang baik dan yang durhaka, sebab mereka menerima semua kekhalifahan para penguasa sehingga yang fasik sekalipun. Berlainan dengan Syi’ah Imamiyah yang telah menetapkan wajibnya kemaksuman Imam, maka tidak sah keimanan umat dan kepemimpinan kecuali bagi Imam yang maksum, dan tidak ada di antara umat ini orang yang maksum selain orang-orang yang telah dibersihkan dari mereka segala noda oleh Allah SWT, dan disucikan dengan sesuci-sucinya.
Penguasa Zhalim Penentu
Para Imam Empat Mazhab
Yang menunjukkan kita bahwa para Imam Mazhab yang empat dari Ahlussunnah mereka juga telah menyimpang dari Kitabullah dan sunah Nabi saww yang mewajibkan atas mereka untuk mengikuti keuarga Nabi saww yang suci ialah kita tidak mendapati satu orang dari mereka yang memuliakan dan menumpang pada perahu Ahlulbait dan mengenal imam zamannya. Inilah Abu Hanifah yang pernah belajar pada Imam Shadiq yang telah termasyhur dengan ucapannya, “Seandainya tidak karena dua tahun (yakni belajar pada Imam Shadiq) niscaya binasalah Nu’man (Abu Hanifah).†Kita dapati dia telah menciptakan satu mazhab yang berdiri atas qias dan beramal dengan dasar pendapat yang berlawanan dengan nas-nas yang jelas.
Dan inilah Malik yang pernah belajar dari Imam Shadiq, dan ucapannya telah diriwayatkan yakni, “Tidak ada mata yang dapat melihat dan tidak ada telinga yang dapat mendengar serta pikiran yang melintas akan adanya orang yang lebih pandai dan lebih berilmu selain dari Ja’far ash-Shadiq.†Kita dapati ia telah menciptakan satu mazhab dalam Islam dan ia meninggalkan Imam zamannya yang ia sendiri telah menyatakan bahwa dia lebih berilmu dan lebih pandai dimasanya. Dan ia telah tergoda oleh para penguasa zhalim Abasiyah dan mereka menamakan dirinya sebagai Imam Darul Hijrah (Imam Madinah). Maka selain itu Malik menjadi orang yang memiliki kebesaran dan kekuasaan serta pengaruh dan penghormatan.
Dan juga inilah Syafi’i yang disangkakan bahwa dia mengikuti Ahlulbait, maka ia telah mengatakan tentang hak mereka dalam bait-bait syairnya yang termasyhur :
Hai Ahlulbait Rasulullah,
mencintai kalian adalah fardu dari Allah,
tersebut dalam Al-Qur’an yang telah diturunkan.
Cukuplah merupakan keagungan karunia bagi kalian,
bahwa orang yang tidak berselawat atas kalian,
tidaklah akan diterima shalatnya.
Sebagaimana pujiannya terhadap Ahlulbait as yang termasuk dalam bait berikut ini :
Tatkala aku melihat manusia binasa dengan mazhabnya
dalam lautan kedurakaan dan kejahilan, maka atas nama Allah, aku menumpang bahtera keselamatan, yakni Ahlulbait al-Musthafa, Pengulu para Rasul. Dan aku pegang erat tali Allah, yaitu mencintai mereka, sebagaimana telah diperintahkan berpegang pada tali itu.
Dan ucapannya yang termasyhur yakni. “Jika Rafidhi itu adalah mencintai keluarga Nabi Muhammad saww, maka saksikanlah wahai jin dan manusia bahwa aku ini adalah Rafidhi.
Jika jin dan manusia menyaksikan bahwa dia Rafidhi, mengapa dia tidak menolak mazhab-mazhab yang berdiri menentang Ahlulbait, bahkan dia sendiri telah mengadakan mazhab lain yang menyangkut namanya dan dia meninggalkan para imam Ahlulbait yang sezamannya...?
Dan inilah Ahmad bin Hanbal yang telah memasukkan ‘Ali ke dalam empat Khalifah dan yang telah menggolongkan dalam kelompok Rasyidin setelah dulunya diingkari dan yang telah menulis tentangnya kitab Fadhail dan yang telah termasyhur ucapannya, “Tidak seorang dari para sahabat yang memiliki keutamaan dengan sanad yang shahih seperti Imam ‘Ali as.†Tapi dia sendiri telah menciptakan satu mazhab di dalam Islam yang namanya mazhab Hambali, tetapa pun para ulama dimasanya menyatakan bahwa dia bukan orang yang faqih. Syekh Abu Zuhrah telah menyatakan, “Sesungguhnya kebanyakan orang-orang yang terkemuka tidaklah menganggap Ahmad bin Hanbal termasuk golongan fuqaha, seperti Ibnu Qutaibah padahal dia adalah orang yang sangat terdekat zamannya dan juga Ibnu Jari at-Thabari dan yang lainnya.â€
Kemudian datanglah Ibnu Taimiyah, dan ia mengangkat bendera mazhab Hambali dan ia memasukkan di dalamnya beberapa pandangan baru yang mengharamkan ziarah kubur dan mendirikan bangunan di atasnya, dan bertawassul dengan Nabi saww dan Ahlulbaitnya, menurutnya semuanya itu adalah syirik. Demikian itulah keempat mazhab beserta para Imam mereka dan ucapan-ucapan yang disandarkan pada mereka tentang hak keluarga suci dari Ahlulbait Nabi saww.
Adapun tentang apakah mereka telah mengatakan perkara yang mereka tidak laksanakan, dan itu adalah merupakan kemurkaan yang besar di sisi Allah, atau mereka sebenarnya tidak mengadakan mazhab-mazhab tersebut tapi para pengikutnya yang dari para pengekor Umawiyah dan Abasiyah adalah yang telah membina mazhab-mazhab itu dengan bantuan para penguasa zalim, kemudian mereka menyandarkannya kepada dirinya setelah wafat mereka. Inilah yang insya Allah akan kita ketahui dalam pembahasan mendatang.
Aapakah kalian tidak heran terhadap mereka para imam itu yang hidup sezaman dengan para Imam al-Huda dari Ahlulbait, kemudian mereka menyimpang dari jalannya yang lurus dan tidak mengambil pelita dari cahayanya serta tidak mengemukakan hadis yang berasal dari datuknya Rasulullah saww, bahkan mereka mengutamakan Ka’ab seorang pendeta Yahudi dan Abu Hurairah ad-Dausi yang pribadinya telah dikatakan oleh Amirul Mukminin Imam ‘Ali as, dengan pernyataannya, “Sesungguhnya orang yang paling dusta pada Rasulullah adalah Abu Hurairah ad-Dausi.†Sebagaimana hal itu telah dikatakan pula oleh ‘Aisyah binti Abu Bakar.
Dan mereka lebih mengutamakan Abdullah bin Umar orang Nashibi yang terkenal kebenciannya ia membaiat pemimpin kesesatan al-Hajjaj bin Yusuf. Dan mereka mengutamakan Amr bin Ash mentrinya Muawiyah dalam kedurhakaan dan kemunafikan. Apakah Anda tidak heran, bagaimana mereka para imam itu dapat melapangkan diri mereka hak dalam penentuan syariat agama Allah dengan dasar pendapat dan ijtihad mereka sendiri, sehingga mereka merusak sunah Nabi saww dengan apa yang mereka diada-adakan dengan qias dan kebijaksanaan serta penutupan pintu syafa’at dan kemaslahatan yang meluas dan yang lainnya yang merupakan bid’ah mereka yang tidak ada wewenang dari Allah SWT.
Adakah Allah dan Rasul-Nya telah melangkahkan dari penyempurnaan agama dan membolehkan bagi mereka untuk menyempurnakannya dengan ijtihad mereka sehingga mereka boleh menghalalkan dan mengharamkan sebagaimana yang mereka lakukan...? Apakah Anda tidak heran terhadap sebagian kaum Muslim yang mendakwahkan berpegang pada sunah, bagaimana mereka bertaqlid pada orang-orang yang tidak menganal Nabi saww dan tidak pula dikenalnya...?
Adakah mereka mempunyai dalil dari Kitabullah atau sunah Rasul-Nya untuk mengikuti dan bertaqlid pada ke empat Imam pemilik mazhab-mazhab itu? Saya berani menentang pada bangsa manusia dan jin untuk mendatangkan satu dalil/bukti atas hal itu dari Kitabullah atau sunah Rasul-Nya. Demi Allah SWT, sekali-kali mereka tidak akan bisa menunjukkannya walaupun sebagian mereka saling bantu -membantu. Demi Allah, tidak ada satu dalil pun dalam Kitabullah dan sunah Rasul-Nya selain hanyalah untuk mengikuti dan bertaqlid pada para imam suci dari keluarga Nabi saww. Adapun tentang Ahlulbait banyak dalil dan hujjah yang terang serta kebenaran yang nyata.
Maka perhatikanlah wahai orang yang memiliki pandangan. (Qs. al-Hasr:2) Sesungguhnya ia tidak buta pengelihatan tetapi buta hati yang ada dalam dada. (QS. al-Haj:46).
Nabi Muhammad saww Adalah
Penentu Para Imam Mazhab Syi’ah
Seorang peneliti tidak akan dapat meragukan pelajaran sejarah Nabi saww dan pengetahuan sejarah Islam, bahwa Nabi saww telah menentukan para Imam yang ke dua belas (12 Imam as. ) dan beliau telah menetapkan mereka sebagai khalifah-khalifah setelahnya dan menjadi penerima wasiat di tengah umatnya. Telah disebutkan jumlah mereka dalam hadis-hadis shahih Ahlussunnah bahwa mereka itu adalah dua belas orang semuanya dari Quraisy, dan hal itu telah diriwataykan oleh Bukhari dan Muslim serta lainnya. Sebagaimana dalam Sunni telah menyebutkan nama-nama mereka penjelasan Nabi Muhammad saww, bahwa yang pertama adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya ialah putranya yakni al-Hasan as,kemudian saudaranya al-Husein as, sedang yang terakhir ialah al-Mahdi. Sebagaimana tersebut dalam hadis berikut ini :
Shahibu Yanabi’ al-Mawaddah telah meriwayatkan dalam kitabnya, dia berkata, “Seorang Yahudi disebut al-A’tal datang kepada Nabi Muhammad saww, dan ia berkata, “Hai Muhammad, saya menayakan kepadamu perkara-perkara yang telah terdetak dalam dadaku semenjak beberapa waktu, jika engkau dapat menjawabnya niscaya saya akan menyatakan masuk Islam di tanganmu.’Beliau menjawab, ‘Tanyalah! hai Aba Ammarah, maka ia menanyakan beberapa perkara yang sijawab oleh Nabi saww dan ia membenarkan, kemudian ia menanyakan, ‘Beritahukanlah padaku tentang penerimaan wasiatmu, siapakah ia itu? karena tidak seorang Nabi pun kecuali ia mempunyai seorang penerima wasiat, dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin Imran telah berwasiat kepada Yusa’ bin Nun.’ Maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya penerima wasiatku adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya adalah kedua cucuku al-Hasan dan al-Husein kemudian beliau menyebutkan sembilan Imam dari tulang sulbi al-Husein. ‘Lalu ia berkata, ‘Ya Muhammad, sebutkanlah nama-nama mereka kepadaku!’ Beliau bersabda, “Bila al-Husein telah berlalu maka diganti oleh anaknya “Ali, bila ‘Ali telah berlalu maka diganti anaknya Muhammad, bila Muhammad berlalu maka diganti anaknya Ja’far, Musa, ‘Ali, Muhammad, ‘Ali, Hasan, al Hujjah Muhammad al-Mahdi as, maka itu semuanya adalah dua belas orang Imam.’ Kemudian orang Yahudi itu pun masuk Islam dan ia memuji Aallah SWT karena petunjuk-Nya.â€1
Seandainya kita mau membuka lembaran kitab-kitab Syi’ah dan apa yang terkandung di dalamnya, dari hal kebenaran khususunya tentang masalah ini niscaya kita akan mendapatkan lebih banyak dari itu. Tapi cukuplah bagi kita sebagai bukti bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah mengakui jumlah para Imam yang ke-12 itu, dan tidak terwujud para Imam itu selain ‘Ali dan anak-anaknya yang telah disucikan. Dan yang dapat menambahkan kayakinan bagi kita ialah, bahwa Imam yang ke-12 dari Ahlulbait itu tidka pernah belajar pada satu orang pun dari para ulama umat ini, tidak ada yang meriwayatkan pada kita baik para ahli tarikh maupun ahli hadis dan sejarawan, bahwa salah seorang Imam dari Ahlulbait itu mendapatkan ilmunya dari sebagian sahabat atau tabi’in sebagaimana halnya para ulama umat dan para imam mereka.
Sebagaimana Abu Hanifah belajar kepada Imam Ja’far ash -Shadiq dan Malik belajar kepada Abu Hanifah sedang Syafi’i mendapat ilmu dari Malik dan ia mengambil darinya, begitu pula Ahmad bin Hanbal. Adapun para imam Ahlulbait maka ilmu mereka adalah merupakan pemberian dari Allah SWT yang mereka mewarisi dari Bapak yang berasal dari datuk mereka, mereka itulah yang diistimewakan oleh Allah SWT dengan firmannya:
-------------------------------
1. Riwayat al-Qunduzi al-Hanafi dalam kitab Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 440, dan
Faraid as-Samthain oleh al-Humawaini dengan sanad dari Ibnu Abbas.
“Kemudian kami mewariskan kitab pada orang-orang yang telah kami pilih dari antara hamba-hamba Kami.†(QS.Fathir:32)
Imam Ja’far ash-Shadiq pernah menyatakan tentang hakikat tersebut sekali waktu dengan ungkapannya, “Sungguh mengherankan orang-orang itu, mereka mengatakan bahwa mereka mengambil ilmu seluruhnya dari Rasulullah saww dan mengamalkannya serta mendapat petunjuk ! Kemudian mereka mengatakan bahwa kami Ahlulbait tidak mengambil ilmu beliau dan tidak mendapat petunjuk, padahal kami adalah keluarga dan keturunan beliau, di rumah kamilah wahyu itu diturunkan dan dari sisi kami ilmu itu keluar kepada manusia, apakah Anda menganggap mereka berilmu dan mendapat petunjuk sedangkan kami bodoh dan tersesat...?â€
Ya, bagaimana Imam ash-Shadiq tidak mengherankan mereka itu yang mendakwahkan diri telah mengambil ilmu dari Rasulullah saww, padahal mereka memusuhi Ahlulbait beliau dan pintu ilmunya yang melalui dirinya ilmu itu diberikan, bagaimana tidak mengherankan penempatan nama Ahlussunnah, padahal mereka sendiri penentang sunah itu. Dan bila Syi’ah sebagaimana telah disaksikan oleh sejarah, mereka itu mengistimewakan ‘Ali dan membelanya serta mereka berdiri tegak menentang musuhnya, memerangi orang yang memeranginya, dan damai dengan orang yang damai dengannya dan mereka telah mengambil seluruh ilmu darinya. Maka Ahulussunnah wal Jama’ah itu tidaklah mengikuti dan ingin membinasakannya, dan mereka telah meneruskan sikap itu terhadap anak keturunan setelahnya dengan pembunuhan, penjara, dan pengusiran. Mereka telah bertentangan dengannya dalam kebanyakan hukum dengan dasar mengikuti para pendakwah ilmu pengetahuan yang mereka itu saling berselisih sesuai dengan pendapat dan ijtihad mereka dalam perkara hukum Allah, lalu mereka menggantikannya sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingan yang mereka tuju.
Dan bagaimana kita sekarang tidak heran terhadap orang-orang yang mendakwahkan mengikuti sunah Nabi saww, dan menyetakan sendiri telah meninggalkan sunah Nabi saww karena ia telah menjadi Syi’ah bagi Syi’ah,*1 bukanlah ini merupakan hal yang mengherankan?
Bagaimana kita tidak heran terhadap orang-orang yang mendakwahkan diri sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah, sedang mereka merupakan kelompok yang banyak, seperti pengikut Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali yang mereka itu saling berselisih sebagian dengan lainnya dala hukum-hukum fiqih dan menganggap bahwa perselisihan itu adalah merupakan suatu rahmat bagi mereka, sehingga dengan demikian agama Allah SWT menjadi lampiasan hawa nafsu dan pendapat serta sasaran selera diri mereka. Memang benarlah, bahwa mereka adalah kelompok terbanyak yang saling berpecah-belah dalam hukum Allah SWT dan Rasul-Nya, tetapi mereka bersatu dan bersepakat dalam mengesakan kekhalifahan Saqifah yang durhaka dan bersepakat dalam meninggalkan dan menjauhkan keluarga Nabi saww, yang Suci.
Bagaimana kita tidak heran terhadap mereka itu yang membanggakan diri sebagai Ahlussunnah, padahal mereka telah meninggalkan yang berharga yakni Kitabullah dan keluarga Rasul betapapun mereka sendiri telah meriwayatkan hadis tersebut dan menshahihkannya...? Sesungguhnya mereka itu tidak berpegang baik pada Al-Qur’an maupun pada keluarga Rasul, sebab dengan meninggalkan keluarga Rasul yang suci itu berarti mereka telah meninggalkan Al-Qur’an, karena hadis yang mulia menetapkannya bahwa Al-Qur’an dan keluarga Rasul itu tidak pernah berpisah selama-lamanya, sebagaimana Rasulullah telah menyatakan hal itu dengan sabdanya:
--------------------------------------
*1. Sesuai pernyataan Ibnu Taimiyah untuk meninggalkan sunah Nabi saww bila itu
telah menjadi syi’ar bagi Syi’ah, lihat Minhaj as-Sunnah oleh Ibnu Taimiyah,II, hal.
143, dan Syarh al-Mawahib oleh Zargani,V, hal.13.
“Tuhan Yang Maha Halus lagi Maha Sadar telah memberitahukan padaku bahwa keduanya yakni Aal-Qur’an dan keluarga Rasul tidak akan pernah berpisah sehingga menemui aku di telaga surga.â€1
Dan bagaimana kita tidak heran kepada kaum yang mendakwahkan diri sebagai Ahlussunnah padahal mereka bersikap menentang terhadap apa yang telah ditetapkan dalam kitab shahih mereka dari hal perbuatan Nabi saww dan perintahnya serta larangannya.2
Adapun bila kita meyakini dan membenarkan hadis, “aku tinggalkan pada kalian Kitabullah dan sunahku, selama kalian berpegang pada keduanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya.†Sebagaimana yang telah ditetapkan bagi sebagian Ahlussunnah sekarang ini, maka keheranan itu akan menjadi lebih besar dan kecelakaan itu akan lebih jelas. Karena justru para tokoh mereka dan imam mereka itulah orang-orang yang telah membakar sunah yang telah ditinggalkan Rasulullah saww di kalangan mereka, dan telah mencegah periwayatannya dan penulisannya sebagaimana yang telah kita ketahui dalam pembahasan terdahulu.
Umar bin khatab sendiri dengan terang-terangan telah menyatakan ucapan, “Cukup bagi kami Kitabullah,†itu adalah merupakan penolakan yang nyata terhadap Rasulullah saww, sedangkan orang yang menolak Rasulullah berarti menolak Allah SWT sebagaimana hal itu tak bisa disembunyikan lagi. Ucapan Umar bin Khathab tersebut telah diriwayatkan oleh seluruh hadis-hadis shahih Ahlussunnah termasuk di dalamnya Bukhari dan Muslim. Apabila Nabi saww telah bersabda, “Aku telah tinggalkan pada kalian Kitabullah dan sunahku, dan kami tidak membutuhkan sunahmu, dan bila Umar telah berkata dihadapan Nabi saww, “Cukup bagi kami Kitabullah, maka sesungguhnya Abu Bakar telah menguatkan untuk mewujudkan pandangan temannya itu lalu ia menyatakan setelah menjadi Khalifah:
Janganlah kalian meriwayatkan suatu hadis dari Rasulullah saww, maka jika seseorang bertanya pada kalian, katakanlah di antara mereka kita dan kalian ada Kitabullah, maka halalkanlah apa yang telah dihalalkannya dan haramkanlah apa yang telah diharamkan.*1
Bagaimana kita tidak heran terhadap kaum yang telah meninggalkan sunah Nabi saww mereka dan membelakanginya lalu mereka menggantikan kedudukannya dengan suatu bid’ah yang mereka perbuat yang mana tidak diizinkan oleh Allah SWT, kemudian mereka menamakan diri dan pengikutnya dengan Ahlussunnah wal Jama’ah...? Tetapi keheranan tersebut akan musnah ketika kita katahui bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebenarnya tidak mengenal pemberian nama tersebut selama-lamanya. Inilah Abu Bakar yang telah menyatakan:
Jika kalian membebani aku dengan sunah Nabi saww, niscaya aku tidak akan mampu.*2
Bagaimana mungkin Abu Bakar tidak mampu menjalankan sunah Nabi saww? Apakah sunah beliau itu suatu perkara yang mustahil dilaksanakan.
-----------------------------------
1. Imam Ahmad dalam Musnad-nya, V, hal. 189, dan al-Hakim dalam Mustadark, III, hal. 148 dan ia menyatakan shahih menurut syarat Bukhari Muslim.
2. Diriwayatkan Bukhari dalam Shahih-nya bahwa Nabi saww melarang shalat tarawih dalam bulan Ramadhan secara jama’ah dengan sabdanya, “Shalatlah wahai manusia di rumah-rumah kalian, sesungguhnya seutama-seutama shalat seseorang adalah di rumahnya selain shalat fardu.†Tetapi Ahlussunnah mengabaikan larangan Nabi saww dan mereka mengikuti bid’ah Umar bin Khathab.
*1. Tadzkirat al-Huffadz oleh Dzahabi, I, hal. 3.
*2. Lihat Musnad Ahmad bin Hanbal, I, hal. 4
Sehingga Abu bakar tidak mampu? Bagaimana Ahlussunnah bisa mendakwahkan diri berpegang padanya jika tokoh mereka yang pertama dan pembina mazhab mereka itu tidak mampu melaksanakan sunah? Bukankah Allah SWT menyatakan, “Pada diri Rasulullah suatu tauladan yang baik bagi kalian .†(QS. al-Ahzab:21) dan firman-Nya, “Allah tidak membebani seseorang kecuali semampunya.†(QS. at-Thalaq:7) Dan juga firman-Nya, “Dan tidak menjadikan suatu kesulitan bagi kalian dalam agama.†(QS. al-Haj :78)
Apaakah Abu Bakar dan temannya Umar menganggap bahwa Rasulullah telah menciptakan suatu agama yang bukan diturunkan oleh Allah SWT, lalu beliau memerintah kaum Muslim ini dengan sesuatu yang tak terangkat dan membebani mereka dengan kesuliatan? Hal itu tidak mungkin, bahkan yang sering beliau katakan yakni, “Gembirakanlah dan jangan jadikan mereka lari, mudahkanlah dan jangan kalian mempersulit, sesungguhnya Allah SWT telah memberi kalian keringanan maka jangan kalian memberatkan diri kalian sendiri.†Tetapi pengakuan Abu Bakar bahwa ia tidak mampu melaksanakan sunah Nabi saww itu adalah menguatkan apa yang menjadi pendapat kami bahwa ia telah melakukan suatu bid’ah yang mampu ia laksanakan sesuai dengan keinginannya dan sejalan dengan politik yang ia kuasai. Dan mungkin Umar bin Khathab berpandangan yang lain, bahwa hukum-hukum Al-Qur’an dan sunah itu tak mampu dilaksanakan, lalu ia sengaja meninggalkan shalat ketika ia junub sedangkan air tidak didapatinya dan ia berfatwa demikian di saat kekhalifahannya, sedang orang khusus dan yang umum telah mengetahui hal itu dan seluruh ahli hadis telah meriwayatkan itu darinya.
Hal itu dikarenakan Umar adalah orang yang gemar banyak bersetubuh dan dialah yang disinggung oleh firman Allah SWT, “Allah mengetahui bahwa kalian mengkhianati diri kalian lalu Dia mengampuni kalian.†(Qs. al-Baqarah: 187) Ini lantaran ia tidak mampu menahan diri dari bersetubuh di waktu puasa, dan dikarenakan air sangat sedikit maka Umar berpendapat bahwa yang paling mudah ialah meningalkan shalat dan bersantai-santai sampai ia mendapatkan air yang mencukupi untuk mandi, ketika itu baru ia kembali mengerjakan shalat.
Adapun Utsman maka ia benar-benar telah mengabaikan sunah Nabi saww sebagaimana yang telah dikenal, sehingga ‘Aisyah mengeluarkan baju Nabi saww dan berkata, “Sungguh Utsman telah menghancurkan sunah Nabi saww sebelum baju beliau sendiri menjadi rusak.†Sehingga ia dicela oleh para sahabat bahwa ia telah menentang sunah Nabi saww, dan sunah Abu Bakar, Umar dan mereka pun membunuhnya lantaran itu.
Mengenai Muawiyah, terserah apa yang Anda katakan, tidak mengapa, sesungguhnya ia telah meninggalkan Al-Qur’an dan sunah adalah dariku dan aku darinya, siapa yang mencaci ‘Ali sungguh telah mencaciku dan siapa yang mencaciku sungguh ia telah mencaci Allah SWT,†Kita dapati Muawiyah telah mengarahkan cacian dan kutukan padanya ia belum merasa cukup dengan itu sehingga ia memerintahkan seluruh wali-walinya dan para pegawainya untuk mencaci dan mengutuknya, siapa yang menolak di antara mereka maka ia disingkirkan dan dibunuh.
Dan kita telah mengetahui bahwa Muawiyah itu adalah orang yang telah menamakan dirinya dan pengikutnya sebagai Ahlussunnah wal jama’ah dalam rangka menentang penamaan Syi’ah sebagai pengikut kebenaran. Dan sebagian ahli sejarah meriwayatkan bahwa tahun dimana Muawiyah memegang penuh kekuasaan umat Islam, setelah mengadakan perjanjian dengan al-Hasan bin ‘Ali Thalib bin Abi Thalib, maka tahun itu dinamakan tahun jama’ah. Dan keheranan pun akan hilang ketika kita memahami bahwa kata-kata sunah itu tidak dimaksudkan oleh Muawiyah dan pengikutnya kecuali hanyalah pengutukan ‘Ali bin Abi Thalib dari atas mimbar-mimbar Islam pada setiap hari Jumat dan hari Raya.
Apabila Ahlussunnah wal Jama’ah itu merupakan rekayasa Muawiyah bin Abi Sofyan maka kita memohon pada Allah SWT agar mematikan kita di dalam bid’ah rafidhi yang telah dibina oleh ‘Ali bin Abi Thalib dan Ahlulbait (salam atas mereka). Anda tidak usah kaget wahai pembaca yang mulia, bila Ahlul bid’ah dan kesesatan itu menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah sedang imam-imam yang suci dari Ahlulbait itu menjadi Ahli bid’ah.
Inilah al-Allamah Ibnu Khaldun yang termasuk ulama termasyhur dari Ahlussunnah wal Jama’ah, ia menyatakannya dengan tegas setelah ia memerinci mazhab-mazhab jumhur ia mengatakan, “Ahlulbait itu menjadi terasing karena aliran faham yang mereka adakan dan fiqih yang berlainan dan mereka telah membina mazhab mereka atas dasar pencacian sebagian sahabat.â€1
Wahai pembaca, bukankah saya telah katakan dari semula, seandainya Anda berbuat sebaliknya niscaya Anda benar/tepat. Maka jika orang-orang fasik dari kalangan Bani Umayah mereka itu adalah Ahlussunnah dan Ahlulbait itu adalah Ahli bid’ah seperti yang dikatakan Ibnu Khaldun, maka buat Islam ucapan selamat jalan dan buat dunia ucapan selamat datang.
---------------------------------------
1. Muqaddaimah Ibnu Khaldun, hal. 494 dalam fasal Ilmu Fiqih.
20 years
tolong baca!!!!!! ana dah bagi jwp kat bawah.......
Syiah Kafir?
Dakwaan Syiah golongan kafir menimbulkan kemusykilan kerana pada setiap tahun orang-orang Syiah mengerjakan ibadat haji misalnya pada tahun 1996, 70,000 jemaah haji Iran mengerjakan haji. Oleh itu bagaimanakah boleh terjadi orang kafir (Syiah?) dibenarkan memasuki Masjidil Haram sedangkan al-Qur’an mengharamkan orang kafir memasuki Masjidil Haram?..
Syiah Yahudi?
Dakwaan Syiah adalah hasil ajaran Yahudi dan Nasrani juga tidak dapat diterima oleh akal yang sehat. Sebagai contoh, pada masa ini pejuang Hizbollah (Syiah) berperang dengan Yahudi di Lebanon. Banyak yang gugur syahid. Semua orang tahu Israel memang takut dengan pejuang Hizbollah sebab itu mereka sengaja mengebom markas PBB pada tahun 1996 untuk menarik negara-negara barat mencari jalan menghentikan peperangan dengan Hizbollah itu. Fakta Abdullah bin Saba yang dikatakan penggagas ajaran Syiah adalah kisah khayalan saja. Cerita Abdullah bin Saba hanya dikutip oleh ahli-ahli sejarah seperti al-Tabari dari seorang penulis khayalan yang bernama Saif bin Umar al-Tamimi yang ditulis pada zaman Harun al-Rasyid. Jika seseorang itu meneliti hadith-hadith tentang kelebihan Ali atau hadith tentang Ali sebagai wasyi selepas Rasulullah SAW yang dikatakan ajaran Abdullah bin Saba - sebenarnya tidak terdapat riwayat yang mengutip dari Abdullah bin Saba. Sebaliknya banyak hadith-hadith tentang kelebihan Ali datangnya dari Rasulullah SAW. Umar bin al-Khattab pula sewaktu mendengar berita kewafatan Rasulullah SAW enggan mempercayai kewafatan Rasulullah SAW tetapi Umar percaya Rasulullah SAW tidak wafat sebaliknya baginda SAW pergi menemui TuhanNya seperti yang berlaku kepada Nabi Musa AS menghadap Tuhan selama 40 hari dan hidup selepas itu. Menurut Umar Rasulullah SAW hanya naik ke langit. Lihat Tabari, Tarikh al-Muluk wal Umman, Jilid III,halaman 198]. Kisah seperti ini tidak ada dalam catatan Hadith-hadith Nabi SAW tetapi mengapakah kita tidak menuduh Umar terpengaruh ajaran Yahudi?
Syiah didakwa mengkafirkan para sahabat Nabi SAW
Syiah mendiskreditkan sahabat-sahabat "besar" Nabi SAW seperti Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar adalah sahabat Nabi Muhammad SAW dalam gua ketika peristiwa hijrah dan merupakan khalifah yang pertama. Begitu juga Umar al-Khattab adalah sahabat Nabi SAW dan khalifah kedua.
Sesiapa yang mencaci sahabat digolongkan sebagai kafir serta keluar dari Islam (Nabi SAW menyatakan siapa yang mencaci seorang muslim adalah fasiq dan membunuhnya adalah kafir [Sahih Bukhari, Jilid I Hadith 48]).[Nota: Syiah tidak mencaci sahabat-sahabat Nabi SAW tetapi menunjukkan perbuatan mereka yang menyalahi al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah dan Hadith. Mereka menilai dan mengkritik perangai setengah sahabat dengan dasar al-Qur'an dan Hadith Nabi SAW.] Dan jangan lupa! Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda bahawa terdapat sahabat yang masuk neraka seperti dalam riwayat Sahih Muslim dan Sahih Bukhari [akan dijelaskan di bawah].Istilah sahabat telah digunakan dalam al-Qur’an untuk Abu Bakar dan ini tidak serta-merta menunjukkan beliau terjamin masuk syurga dan tidak melakukan kesalahan.
Apakah kita lupa istilah sahabat juga digunakan dalam al-Qur an untuk teman Nabi Yusuf yang bukan beriman kepada Allah SWT ketika dalam penjara? Silakan baca Surah Yusuf untuk memuaskan hati kita (istilah sohibi al-Sijni digunakan=sahabatku dalam penjara [nota:beliau bukan Islam dan bersama Nabi Yusuf AS dalam penjara]). Memang Nabi Muhammad SAW mempunyai sahabat-sahabat yang baik seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-Farisi dan sebagainya tetapi di Madinah juga ada golongan munafiq yang dipanggil "sahabat" oleh Nabi SAW seperti Abdullah bin Ubay bin Salool. Dalam Sohih Bukhari juga diriwayatkan bahawa ada segolongan "sahabat" yang bakal masuk neraka ketika berjumpa Nabi Muhammad SAW di al-Haudh. Nabi SAW memanggil mereka dengan istilah 'ashabi' [sahabatku]. Silakan rujuk Sahih Bukhari [Sahih Al-Bukhari, Jilid 4, hlm.94-96]; Sahih Muslim, Jilid IV, hadith 2133,2440.] Sahabat yang baik memang kita hormati , sanjungi dan ikuti tetapi sahabat yang jahat seperti Muawiyah yang menentang Imam Ali AS dan mencaci Ali AS di atas mimbar patutkah kita berdiam diri?
Bukankah pasukan Muawiyah terlibat membunuh Amar bin Yasir dalam Perang Siffin? Nabi SAW pernah menyatakan sebuah hadith dalam Sahih Bukhari menyifatkan orang yang terlibat dalam pembunuhan Amar adalah golongan pemberontak dan Rasulullah SAW bersabda [terjemahan]:...Kamu (Amar) mengajak kelompok itu menuju ke Jannah tetapi kelompok itu mengajak ke neraka." [Sahih Bukhari, Jilid II,Hadith 462].
Al-Qur'an memerintahkan kita taat kepada Ulil Amri - pada ketika itu Imam Ali AS sebagai khalifah yang sah dan wajib ditaati. Adakah tindakan Muawiyah itu selaras dengan ajaran al-Qur'an dan tidak boleh dikritik?
Kita ikuti sahabat yang baik dan kita tinggalkan contoh sahabat yang jauh dari ajaran al-Qur'an dan Hadith Nabi SAW. Sejarah menunjukkan bahwa seorang sahabat bernama al-Walid bin Utbah dikaitkan dengan asbabul nuzul ayat 6 Surah al-Hujurat yang menyatakan beliau seorang fasiq. Qudamah bin Maz un seorang sahabat Badar dihukum had pada zaman khalifah Umar karena minum arak seperti dalam riwayat Sahih Bukhari.
Jika ada orang yang masih teguh dengan pendirian bahawa semua sahabat adalah 'adil maka apakah hukumnya Muawiyah mencaci Ali di atas mimbar? Apakah ijtihad Muawiyah boleh sampai mencaci Ali? Sebaliknya orang yang mengkritik Muawiyah dikatakan mencaci sahabat Nabi SAW? Jika seseorang yang menolak kekhalifahan Abu Bakar dianggap kafir, apakah pula hukumnya orang yang menolak perlantikan Ali setelah ada Hadith al-Ghadir yang menetapkan Ali AS sebagai khalifah selepas Nabi SAW wafat? Bolehkah umat Islam memilih selain dari yang telah ditetapkan oleh Rasulnya?
Alllah SWT berfirman dalam Surah Hud:113,: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh oleh api neraka..."
Dan banyak lagi ayat-ayat al-Qur'an yang menyuruh manusia berbuat adil, dan melarang mereka dari berbuat zalim [nota: standard "adil"atau sebaliknya adalah berpandukan Kitab Allah Azza Wa-Jalla dan tidak ada siapapun dikecualikan hatta para "sahabat" sekalipun]. Balasan Allah SWT di akhirat kelak berasaskan segala amalan manusia ketika hidup di dunia - yang baik ke syurga dan yang buruk ke neraka.
Ini bermakna istilah "sahabatku"dalam Hadith Nabi SAW tidak bermakna merujuk kepada semua sahabat [sekiranya jumlah yang hadir pada Haji Wida' sebanyak 140,000 atau 90,000 orang] adalah adil belaka. Sahabat yang adil memang ada seperti Abu Dzar al-Ghiffari yang dinyatakan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW [terjemahan]:"Tidaklah langit menaungi seseorang dan tidak bumi membawa seseorang yang lebih jujur daripada Abu Dzar RA."[Sunan al-Tirmidzi, Hadith 3889]. Begitu juga terdapat segolongan sahabat yang ingkar mengikut perintah Nabi SAW terutama selepas Nabi SAW wafat dan menjadi seteru Ahlul Bayt AS [keluarga Nabi SAW] seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah. Nabi SAW bersabda seperti yang diriwayatkan dalam Sunan al-Tirmidzi, hadith 3878,[terjemahan]: "Cintailah Allah karena nikmat-nikmatNya yang diberikan kepadamu dan cintailah aku karena cinta kepada Allah dan cintailah keluargaku karena cinta kepadaku."
Oleh sebab itu siapa yang memusuhi Ahlul Bayt AS memang menjadi musuh Rasulullah SAW dan Allah SWT. Bukankah Allah SWT telah melaknat golongan yang zalim dalam al-Qur'an? "Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) ke atas orang-orang yang zalim." [Qur'an: 11: 18]
Mazhab Ahlu Sunnah
a- Seperti penulis ABC setuju bahawa mazhab ahlu sunnah terbentuk secara evolusi. Malah pengikutnya hari ini pun tidak mengamalkan fatwa Imam2 mereka baik dari segi fiqih maupun akidah secara murni. Tetapi permasalahnnya bukan di sini tapi pada sumber hukum. Mereka mengenepikan Imam2 Ahlu Bait as. baik dalam fiqih maupun akidah. Bagaimana hati boleh aman dengan apa yang di amalkan sedangkan bahtera penyelamat umat Muhammad SAW ditinggalkan. Bukankah mereka sebagaimana sabda Ar Rasul SAW. Umpama ahlu baitku di dalam umatku seperti bahtera Nuh siapa yang menaikinya selamat siapa yang meninggalkannya akan
tenggelam.
b- Para pemerintah yang zalim ketika itu mengambil kesempatan untuk menyebarkan fatwa para mujtahid tersebut dan menakutkan orang ramai dari mendekati Imam2 ahlu bait dan ulama mereka.
c- Penutupan pintu ijtihad oleh khalifah yang zalim bukan satu yang pelik tetapi yang pelik adalah
apabila para ulama besar ahlu sunnah juga merelakan hal ini seperti Al Ghazali, Sayuti. Ibnu Hajar
dll dan akhirnya percobaan membuka pintu ijtihad dianggap dosa besar sebagaimana penulisan hadis
pada kurun pertama hijrah dan tidak melaknat Imam Ali pada hari jumaat pada 80 tahun pertama
pemerintahan bani umaiyah. Sedangkan proses ijtihad terus subur dalam mazhab syiah dan tidak
timbul kekalutan dalam permasalahan mujtahid palsu. Dan para muqalid sentiasa bertaqlid kepada
mujtahid yang hidup pada setiap waktu.
Mengapa Syiah tidak boleh menerima Madzhab Ahlul Sunnah Wal-Jama'ah?
As-Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-'Amili seorang ulama Syi'ah dengan tegas menjelaskan: " Bila dalam kenyataannya kami kaum Syiah tidak berpegang kepada Madzhab Asy'ari dalam hal usuluddin dan madzhab yang empat dalam cabang syari'at, maka ini sekali-kali bukan kerana kami taksub; bukan pula kerana meragukan usaha ijtihad para tokoh-tokoh madzhab tersebut.Dan juga bukan kerana kami menganggap mereka itu tidak memiliki kemampuan, kejujuran, kebersihan jiwa atau ketinggian ilmu dan amal, tetapi sebabnya ialah bahawa dalil-dalil syari'ah telah memaksa kami untuk berpegang hanya kepada madzhab Ahlul Bayt AS, ahli rumah Rasulullah SAW, pusat Nubuwwah dan Risalah, tempat persinggahan para malaikat, dan tempat turunnya wahyu al-Qur'an. Maka hanya dari merekalah kami mengambil cabang-cabang agama dan aqidahnya, usul fiqh dan kaedahnya.Pengetahuan tentang al-Qur'an dan al-Sunnah. Ilmu-ilmu akhlak, etika dan moral. Hal itu semata-mata kerana tunduk pada hasil kesimpulan dalil-dalil dan bukti-bukti. Dan sepenuhnya mengikuti petunjuk dan jejak penghulu para Nabi, Rasulullah SAW." [As-Syarafuddin al-Musawi,al-Muruja'at (Dialog Sunnah-Syi'ah, Penerbit Mizan,hlm.17-18]
Imam Ja'far al-Sadiq AS berkata: "Hadith-hadith yang aku riwayatkan adalah dari ayahku. Dan semua hadith tersebut adalah riwayat dari datukku. Dan semua riwayat datukku adalah dari hadith datukku al-Husayn AS. Dan semua riwayat al-Husayn AS adalah dari hadith al-Hasan AS. Dan semua hadith al-Hasan AS
dari datukku Amirul Mu'minin Ali AS; dan semua hadith Amirul Mu'minin Ali AS adalah dari hadith Rasulullah SAW. Dan hadith-hadith Rasulullah SAW adalah Qaul Allah Azza Wa-Jalla." [Al-Kulaini,al-Kafi, Juzuk I, hadith 154-14]
Bagi Syiah, tidak ada dalil bagi seseorang itu untuk menerima selain dari Mazhab Ahlul Bayt AS karena perkara itu telah diputuskan oleh Allah SWT.
Ahlul Sunnah Wa l-Jama'ah dan Ahlu Bait AS
Syiah menerima bahawa ahlu sunnah mencintai dan memuliakan ahlu bait, tetapi apakah mereka benar-benar meletakkan ahlu bait pada posisi yang Allah SWT telah letakkan? Apakah tiada hikmah mengapa mereka disucikan dan diwajibkan kecintaan ke atas mereka dan solat dan selawat tidak diterima tanpa menyebut mereka.
Jika ahlu sunnah benar2 menghormati mereka sepatutunya mereka juga perlu menghormati orang2 yang mengikuti mereka, bukan menuduh dengan hal2 yang tidak benar. Kita diwajibkan untuk mengikuti Al Quran, apakah tidak wajib kita mengikuti mereka yang disucikan untuk menjaga Al Quran dan mendampingi Al Quran.
Kesalahan Sahabat
Syi'ah tidak menolak sahabat, melainkan mereka berusaha menempatkan sesuatu pada porsinya. Maqam "Sahabat Rasul SAWW" adalah maqam yang tinggi, sehingga sudah sepantasnya kita selektif dan tidak gegabah memasukkan sembarang orang dalam maqam tersebut. Kalau pada awalnya taat, namun di saat lain menentang bahkan mengkhianati, apakah ini pantas dimasukkan pada maqam sahabat tersebut ?
Secara definisi "orang yang bergaul dengan Rasul SAWW" bisa saja disebut sahabat, namun secara hakikat belum tentu mereka dikatakan sahabat. Bila tindakan mereka tidak pantas terhadap Rasul SAWW bahkan mengkhianati Rasul SAWW, maka secara hakikat mereka bukan sahabat.
Berikut saya kutipkan dari kitab Tafsir dan kitab Tarikh ahlusunnah tentang hal tersebut.
1. Dalam [Q.S. At-Taubah 101], Allah berfirman : "Dan di antara orang-orang badui di sekelilingmu, ada orang munafik, dan juga di antara penduduk Madinah. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka. Kamilah yang mengetahui mereka. Kami akan siksa mereka dua kali kemudian mereka akan diberikan azab yang besar".
Ibn Katsir menafsirkan ayat tersebut, bahwa ayat tersebut ditujukan untuk beberapa sahabat Rasul SAWW yang munafik. Rasul SAWW tahu bahwa penduduk Madinah yang menggaulinya dan dilihatnya tiap pagi dan senja, ada orang-orang munafik. Beliau mengutip hadits Rasul SAWW : Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dari Jubair bin Muth'im, yang bercerita :"Aku bertanya kepada Rasulullah SAW :'Apakah betul yang dikatakan oleh mereka bahwa kami di Mekkah tidak mendapat bayaran ?' Rasul menjawab:'Bayaranmu akan sampai kepadamu, walaupun kamu ada di lubang rubah'. Kemudian sambil mendekatkan kepala beliau ke telingaku, beliau bersabda :'Sesungguhnya di antara sahabat-sahabatku ada orang-orang munafik'."
Ref. :
Ibn Katsir, dalam Tafsir-nya.
2. Dalam [Q.S. Jumuah 11], Allah SWT mengecam para sahabat yang meninggalkan Rasul SAWW, yang sedang ber-khutbah jum'at, demi menyambut kafilah yang membawa barang dagangan.
ayat al-Inqilab firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144:"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang(murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur." Dan bilangan yang sedikit sahaja yang "terselamat" adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba' (34): 13:"Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih."
Jabir bin Abdullah berkata :"Ketika Nabi SAW sedang berkhotbah jum'at, tiba-tiba datang kafilah dagang di Madinah, maka pergilah sahabat menyambut kafilah dagang itu, sehingga tiada sisa yang mendengarkan khotbah Rasul SAWW, kecuali 12 orang, maka Rasul SAWW bersabda :'Demi Allah yang jiwaku ada di tangannya, andaikata kamu semua mengikuti keluar sehingga tiada seorangpun yang tertinggal, niscaya lembah ini akan mengalir api'. Dan turunlah ayat tersebut.
Ref. :
Ibn Katsir, dalam Tafsirnya.
3. Lihat juga [Q.S. Ali Imron 153], tentang kejadian perang Uhud, dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul SAWW :
"(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain, memanggil kalian, karena itu Allah menimpakan atas kalian kesusahan di atas kesusahan agar kalian tidak bersedih atas apa yang luput dari kalian dan apa yang menimpa kalian. Sungguh Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan".
Bahkan termasuk Abubakar dan Umar juga lari dari perang Uhud tersebut. Dan mereka berdua (Abubakar dan Umar) juga lari dari perang Hunain. ape hukum kalu lari dari md perang.??
Ref. ahlusunnah :
1. "Hayat Muhammad", oleh Haikal.
2. "Maghazi", oleh Al-Waqidi.
3. Tarikh Ibn Hisyam.
Itu saja hanya dari Al-Qur'an, kalau anda melihat kitab-kitab hadits, maka akan banyak anda temui riwayat-riwayat shohih (baik ahlusunnah maupun syi'ah) yang menceritakan kesalahan-kesalahan sahabat tersebut.
tolong bagi jwp...?
Wassalaam,
Syiah Kafir?
Dakwaan Syiah golongan kafir menimbulkan kemusykilan kerana pada setiap tahun orang-orang Syiah mengerjakan ibadat haji misalnya pada tahun 1996, 70,000 jemaah haji Iran mengerjakan haji. Oleh itu bagaimanakah boleh terjadi orang kafir (Syiah?) dibenarkan memasuki Masjidil Haram sedangkan al-Qur’an mengharamkan orang kafir memasuki Masjidil Haram?..
Syiah Yahudi?
Dakwaan Syiah adalah hasil ajaran Yahudi dan Nasrani juga tidak dapat diterima oleh akal yang sehat. Sebagai contoh, pada masa ini pejuang Hizbollah (Syiah) berperang dengan Yahudi di Lebanon. Banyak yang gugur syahid. Semua orang tahu Israel memang takut dengan pejuang Hizbollah sebab itu mereka sengaja mengebom markas PBB pada tahun 1996 untuk menarik negara-negara barat mencari jalan menghentikan peperangan dengan Hizbollah itu. Fakta Abdullah bin Saba yang dikatakan penggagas ajaran Syiah adalah kisah khayalan saja. Cerita Abdullah bin Saba hanya dikutip oleh ahli-ahli sejarah seperti al-Tabari dari seorang penulis khayalan yang bernama Saif bin Umar al-Tamimi yang ditulis pada zaman Harun al-Rasyid. Jika seseorang itu meneliti hadith-hadith tentang kelebihan Ali atau hadith tentang Ali sebagai wasyi selepas Rasulullah SAW yang dikatakan ajaran Abdullah bin Saba - sebenarnya tidak terdapat riwayat yang mengutip dari Abdullah bin Saba. Sebaliknya banyak hadith-hadith tentang kelebihan Ali datangnya dari Rasulullah SAW. Umar bin al-Khattab pula sewaktu mendengar berita kewafatan Rasulullah SAW enggan mempercayai kewafatan Rasulullah SAW tetapi Umar percaya Rasulullah SAW tidak wafat sebaliknya baginda SAW pergi menemui TuhanNya seperti yang berlaku kepada Nabi Musa AS menghadap Tuhan selama 40 hari dan hidup selepas itu. Menurut Umar Rasulullah SAW hanya naik ke langit. Lihat Tabari, Tarikh al-Muluk wal Umman, Jilid III,halaman 198]. Kisah seperti ini tidak ada dalam catatan Hadith-hadith Nabi SAW tetapi mengapakah kita tidak menuduh Umar terpengaruh ajaran Yahudi?
Syiah didakwa mengkafirkan para sahabat Nabi SAW
Syiah mendiskreditkan sahabat-sahabat "besar" Nabi SAW seperti Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar adalah sahabat Nabi Muhammad SAW dalam gua ketika peristiwa hijrah dan merupakan khalifah yang pertama. Begitu juga Umar al-Khattab adalah sahabat Nabi SAW dan khalifah kedua.
Sesiapa yang mencaci sahabat digolongkan sebagai kafir serta keluar dari Islam (Nabi SAW menyatakan siapa yang mencaci seorang muslim adalah fasiq dan membunuhnya adalah kafir [Sahih Bukhari, Jilid I Hadith 48]).[Nota: Syiah tidak mencaci sahabat-sahabat Nabi SAW tetapi menunjukkan perbuatan mereka yang menyalahi al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah dan Hadith. Mereka menilai dan mengkritik perangai setengah sahabat dengan dasar al-Qur'an dan Hadith Nabi SAW.] Dan jangan lupa! Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda bahawa terdapat sahabat yang masuk neraka seperti dalam riwayat Sahih Muslim dan Sahih Bukhari [akan dijelaskan di bawah].Istilah sahabat telah digunakan dalam al-Qur’an untuk Abu Bakar dan ini tidak serta-merta menunjukkan beliau terjamin masuk syurga dan tidak melakukan kesalahan.
Apakah kita lupa istilah sahabat juga digunakan dalam al-Qur an untuk teman Nabi Yusuf yang bukan beriman kepada Allah SWT ketika dalam penjara? Silakan baca Surah Yusuf untuk memuaskan hati kita (istilah sohibi al-Sijni digunakan=sahabatku dalam penjara [nota:beliau bukan Islam dan bersama Nabi Yusuf AS dalam penjara]). Memang Nabi Muhammad SAW mempunyai sahabat-sahabat yang baik seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-Farisi dan sebagainya tetapi di Madinah juga ada golongan munafiq yang dipanggil "sahabat" oleh Nabi SAW seperti Abdullah bin Ubay bin Salool. Dalam Sohih Bukhari juga diriwayatkan bahawa ada segolongan "sahabat" yang bakal masuk neraka ketika berjumpa Nabi Muhammad SAW di al-Haudh. Nabi SAW memanggil mereka dengan istilah 'ashabi' [sahabatku]. Silakan rujuk Sahih Bukhari [Sahih Al-Bukhari, Jilid 4, hlm.94-96]; Sahih Muslim, Jilid IV, hadith 2133,2440.] Sahabat yang baik memang kita hormati , sanjungi dan ikuti tetapi sahabat yang jahat seperti Muawiyah yang menentang Imam Ali AS dan mencaci Ali AS di atas mimbar patutkah kita berdiam diri?
Bukankah pasukan Muawiyah terlibat membunuh Amar bin Yasir dalam Perang Siffin? Nabi SAW pernah menyatakan sebuah hadith dalam Sahih Bukhari menyifatkan orang yang terlibat dalam pembunuhan Amar adalah golongan pemberontak dan Rasulullah SAW bersabda [terjemahan]:...Kamu (Amar) mengajak kelompok itu menuju ke Jannah tetapi kelompok itu mengajak ke neraka." [Sahih Bukhari, Jilid II,Hadith 462].
Al-Qur'an memerintahkan kita taat kepada Ulil Amri - pada ketika itu Imam Ali AS sebagai khalifah yang sah dan wajib ditaati. Adakah tindakan Muawiyah itu selaras dengan ajaran al-Qur'an dan tidak boleh dikritik?
Kita ikuti sahabat yang baik dan kita tinggalkan contoh sahabat yang jauh dari ajaran al-Qur'an dan Hadith Nabi SAW. Sejarah menunjukkan bahwa seorang sahabat bernama al-Walid bin Utbah dikaitkan dengan asbabul nuzul ayat 6 Surah al-Hujurat yang menyatakan beliau seorang fasiq. Qudamah bin Maz un seorang sahabat Badar dihukum had pada zaman khalifah Umar karena minum arak seperti dalam riwayat Sahih Bukhari.
Jika ada orang yang masih teguh dengan pendirian bahawa semua sahabat adalah 'adil maka apakah hukumnya Muawiyah mencaci Ali di atas mimbar? Apakah ijtihad Muawiyah boleh sampai mencaci Ali? Sebaliknya orang yang mengkritik Muawiyah dikatakan mencaci sahabat Nabi SAW? Jika seseorang yang menolak kekhalifahan Abu Bakar dianggap kafir, apakah pula hukumnya orang yang menolak perlantikan Ali setelah ada Hadith al-Ghadir yang menetapkan Ali AS sebagai khalifah selepas Nabi SAW wafat? Bolehkah umat Islam memilih selain dari yang telah ditetapkan oleh Rasulnya?
Alllah SWT berfirman dalam Surah Hud:113,: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh oleh api neraka..."
Dan banyak lagi ayat-ayat al-Qur'an yang menyuruh manusia berbuat adil, dan melarang mereka dari berbuat zalim [nota: standard "adil"atau sebaliknya adalah berpandukan Kitab Allah Azza Wa-Jalla dan tidak ada siapapun dikecualikan hatta para "sahabat" sekalipun]. Balasan Allah SWT di akhirat kelak berasaskan segala amalan manusia ketika hidup di dunia - yang baik ke syurga dan yang buruk ke neraka.
Ini bermakna istilah "sahabatku"dalam Hadith Nabi SAW tidak bermakna merujuk kepada semua sahabat [sekiranya jumlah yang hadir pada Haji Wida' sebanyak 140,000 atau 90,000 orang] adalah adil belaka. Sahabat yang adil memang ada seperti Abu Dzar al-Ghiffari yang dinyatakan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW [terjemahan]:"Tidaklah langit menaungi seseorang dan tidak bumi membawa seseorang yang lebih jujur daripada Abu Dzar RA."[Sunan al-Tirmidzi, Hadith 3889]. Begitu juga terdapat segolongan sahabat yang ingkar mengikut perintah Nabi SAW terutama selepas Nabi SAW wafat dan menjadi seteru Ahlul Bayt AS [keluarga Nabi SAW] seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah. Nabi SAW bersabda seperti yang diriwayatkan dalam Sunan al-Tirmidzi, hadith 3878,[terjemahan]: "Cintailah Allah karena nikmat-nikmatNya yang diberikan kepadamu dan cintailah aku karena cinta kepada Allah dan cintailah keluargaku karena cinta kepadaku."
Oleh sebab itu siapa yang memusuhi Ahlul Bayt AS memang menjadi musuh Rasulullah SAW dan Allah SWT. Bukankah Allah SWT telah melaknat golongan yang zalim dalam al-Qur'an? "Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) ke atas orang-orang yang zalim." [Qur'an: 11: 18]
Mazhab Ahlu Sunnah
a- Seperti penulis ABC setuju bahawa mazhab ahlu sunnah terbentuk secara evolusi. Malah pengikutnya hari ini pun tidak mengamalkan fatwa Imam2 mereka baik dari segi fiqih maupun akidah secara murni. Tetapi permasalahnnya bukan di sini tapi pada sumber hukum. Mereka mengenepikan Imam2 Ahlu Bait as. baik dalam fiqih maupun akidah. Bagaimana hati boleh aman dengan apa yang di amalkan sedangkan bahtera penyelamat umat Muhammad SAW ditinggalkan. Bukankah mereka sebagaimana sabda Ar Rasul SAW. Umpama ahlu baitku di dalam umatku seperti bahtera Nuh siapa yang menaikinya selamat siapa yang meninggalkannya akan
tenggelam.
b- Para pemerintah yang zalim ketika itu mengambil kesempatan untuk menyebarkan fatwa para mujtahid tersebut dan menakutkan orang ramai dari mendekati Imam2 ahlu bait dan ulama mereka.
c- Penutupan pintu ijtihad oleh khalifah yang zalim bukan satu yang pelik tetapi yang pelik adalah
apabila para ulama besar ahlu sunnah juga merelakan hal ini seperti Al Ghazali, Sayuti. Ibnu Hajar
dll dan akhirnya percobaan membuka pintu ijtihad dianggap dosa besar sebagaimana penulisan hadis
pada kurun pertama hijrah dan tidak melaknat Imam Ali pada hari jumaat pada 80 tahun pertama
pemerintahan bani umaiyah. Sedangkan proses ijtihad terus subur dalam mazhab syiah dan tidak
timbul kekalutan dalam permasalahan mujtahid palsu. Dan para muqalid sentiasa bertaqlid kepada
mujtahid yang hidup pada setiap waktu.
Mengapa Syiah tidak boleh menerima Madzhab Ahlul Sunnah Wal-Jama'ah?
As-Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-'Amili seorang ulama Syi'ah dengan tegas menjelaskan: " Bila dalam kenyataannya kami kaum Syiah tidak berpegang kepada Madzhab Asy'ari dalam hal usuluddin dan madzhab yang empat dalam cabang syari'at, maka ini sekali-kali bukan kerana kami taksub; bukan pula kerana meragukan usaha ijtihad para tokoh-tokoh madzhab tersebut.Dan juga bukan kerana kami menganggap mereka itu tidak memiliki kemampuan, kejujuran, kebersihan jiwa atau ketinggian ilmu dan amal, tetapi sebabnya ialah bahawa dalil-dalil syari'ah telah memaksa kami untuk berpegang hanya kepada madzhab Ahlul Bayt AS, ahli rumah Rasulullah SAW, pusat Nubuwwah dan Risalah, tempat persinggahan para malaikat, dan tempat turunnya wahyu al-Qur'an. Maka hanya dari merekalah kami mengambil cabang-cabang agama dan aqidahnya, usul fiqh dan kaedahnya.Pengetahuan tentang al-Qur'an dan al-Sunnah. Ilmu-ilmu akhlak, etika dan moral. Hal itu semata-mata kerana tunduk pada hasil kesimpulan dalil-dalil dan bukti-bukti. Dan sepenuhnya mengikuti petunjuk dan jejak penghulu para Nabi, Rasulullah SAW." [As-Syarafuddin al-Musawi,al-Muruja'at (Dialog Sunnah-Syi'ah, Penerbit Mizan,hlm.17-18]
Imam Ja'far al-Sadiq AS berkata: "Hadith-hadith yang aku riwayatkan adalah dari ayahku. Dan semua hadith tersebut adalah riwayat dari datukku. Dan semua riwayat datukku adalah dari hadith datukku al-Husayn AS. Dan semua riwayat al-Husayn AS adalah dari hadith al-Hasan AS. Dan semua hadith al-Hasan AS
dari datukku Amirul Mu'minin Ali AS; dan semua hadith Amirul Mu'minin Ali AS adalah dari hadith Rasulullah SAW. Dan hadith-hadith Rasulullah SAW adalah Qaul Allah Azza Wa-Jalla." [Al-Kulaini,al-Kafi, Juzuk I, hadith 154-14]
Bagi Syiah, tidak ada dalil bagi seseorang itu untuk menerima selain dari Mazhab Ahlul Bayt AS karena perkara itu telah diputuskan oleh Allah SWT.
Ahlul Sunnah Wa l-Jama'ah dan Ahlu Bait AS
Syiah menerima bahawa ahlu sunnah mencintai dan memuliakan ahlu bait, tetapi apakah mereka benar-benar meletakkan ahlu bait pada posisi yang Allah SWT telah letakkan? Apakah tiada hikmah mengapa mereka disucikan dan diwajibkan kecintaan ke atas mereka dan solat dan selawat tidak diterima tanpa menyebut mereka.
Jika ahlu sunnah benar2 menghormati mereka sepatutunya mereka juga perlu menghormati orang2 yang mengikuti mereka, bukan menuduh dengan hal2 yang tidak benar. Kita diwajibkan untuk mengikuti Al Quran, apakah tidak wajib kita mengikuti mereka yang disucikan untuk menjaga Al Quran dan mendampingi Al Quran.
Kesalahan Sahabat
Syi'ah tidak menolak sahabat, melainkan mereka berusaha menempatkan sesuatu pada porsinya. Maqam "Sahabat Rasul SAWW" adalah maqam yang tinggi, sehingga sudah sepantasnya kita selektif dan tidak gegabah memasukkan sembarang orang dalam maqam tersebut. Kalau pada awalnya taat, namun di saat lain menentang bahkan mengkhianati, apakah ini pantas dimasukkan pada maqam sahabat tersebut ?
Secara definisi "orang yang bergaul dengan Rasul SAWW" bisa saja disebut sahabat, namun secara hakikat belum tentu mereka dikatakan sahabat. Bila tindakan mereka tidak pantas terhadap Rasul SAWW bahkan mengkhianati Rasul SAWW, maka secara hakikat mereka bukan sahabat.
Berikut saya kutipkan dari kitab Tafsir dan kitab Tarikh ahlusunnah tentang hal tersebut.
1. Dalam [Q.S. At-Taubah 101], Allah berfirman : "Dan di antara orang-orang badui di sekelilingmu, ada orang munafik, dan juga di antara penduduk Madinah. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka. Kamilah yang mengetahui mereka. Kami akan siksa mereka dua kali kemudian mereka akan diberikan azab yang besar".
Ibn Katsir menafsirkan ayat tersebut, bahwa ayat tersebut ditujukan untuk beberapa sahabat Rasul SAWW yang munafik. Rasul SAWW tahu bahwa penduduk Madinah yang menggaulinya dan dilihatnya tiap pagi dan senja, ada orang-orang munafik. Beliau mengutip hadits Rasul SAWW : Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dari Jubair bin Muth'im, yang bercerita :"Aku bertanya kepada Rasulullah SAW :'Apakah betul yang dikatakan oleh mereka bahwa kami di Mekkah tidak mendapat bayaran ?' Rasul menjawab:'Bayaranmu akan sampai kepadamu, walaupun kamu ada di lubang rubah'. Kemudian sambil mendekatkan kepala beliau ke telingaku, beliau bersabda :'Sesungguhnya di antara sahabat-sahabatku ada orang-orang munafik'."
Ref. :
Ibn Katsir, dalam Tafsir-nya.
2. Dalam [Q.S. Jumuah 11], Allah SWT mengecam para sahabat yang meninggalkan Rasul SAWW, yang sedang ber-khutbah jum'at, demi menyambut kafilah yang membawa barang dagangan.
ayat al-Inqilab firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144:"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang(murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur." Dan bilangan yang sedikit sahaja yang "terselamat" adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba' (34): 13:"Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih."
Jabir bin Abdullah berkata :"Ketika Nabi SAW sedang berkhotbah jum'at, tiba-tiba datang kafilah dagang di Madinah, maka pergilah sahabat menyambut kafilah dagang itu, sehingga tiada sisa yang mendengarkan khotbah Rasul SAWW, kecuali 12 orang, maka Rasul SAWW bersabda :'Demi Allah yang jiwaku ada di tangannya, andaikata kamu semua mengikuti keluar sehingga tiada seorangpun yang tertinggal, niscaya lembah ini akan mengalir api'. Dan turunlah ayat tersebut.
Ref. :
Ibn Katsir, dalam Tafsirnya.
3. Lihat juga [Q.S. Ali Imron 153], tentang kejadian perang Uhud, dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul SAWW :
"(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain, memanggil kalian, karena itu Allah menimpakan atas kalian kesusahan di atas kesusahan agar kalian tidak bersedih atas apa yang luput dari kalian dan apa yang menimpa kalian. Sungguh Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan".
Bahkan termasuk Abubakar dan Umar juga lari dari perang Uhud tersebut. Dan mereka berdua (Abubakar dan Umar) juga lari dari perang Hunain. ape hukum kalu lari dari md perang.??
Ref. ahlusunnah :
1. "Hayat Muhammad", oleh Haikal.
2. "Maghazi", oleh Al-Waqidi.
3. Tarikh Ibn Hisyam.
Itu saja hanya dari Al-Qur'an, kalau anda melihat kitab-kitab hadits, maka akan banyak anda temui riwayat-riwayat shohih (baik ahlusunnah maupun syi'ah) yang menceritakan kesalahan-kesalahan sahabat tersebut.
tolong bagi jwp...?
Wassalaam,
20 years
kepada saudara syed ali..ana pernah keluarkan hujah ana berdasarkan al-Quran yang ana petik dari buku Ustaz Asri Zainul Abidin....dan ana rasa tak sepatutnya saudara syed ali menghujahkan kembali tentang keburukan sahabat2 nabi lagi....ana rasa itu tidak adil jika saudara syed ali menghukum sahabat2 nabi sedemikian rupa...
jika saudara syed ali rasa saudara syed ali berada pada landasan yang benar..teruskan...ana ada hujah ana sendiri..begitu sahabat2 ana yang lain...bersama ahl sunah wal jamaah....
dan harap sahabat2 yang lain janganlah terpengaruh dengan golongan syiah yang suka memburukkan golongan sahabat ini....ihi menguatkan hujah ana...sebelum ana pernah bagi hujah ana bahawa sahabat2 nabi golongan yang mulia...boleh la cari...sekian...
mana yang kurang itu atas kelemahan insan yang daif ini..sekian...
jika saudara syed ali rasa saudara syed ali berada pada landasan yang benar..teruskan...ana ada hujah ana sendiri..begitu sahabat2 ana yang lain...bersama ahl sunah wal jamaah....
dan harap sahabat2 yang lain janganlah terpengaruh dengan golongan syiah yang suka memburukkan golongan sahabat ini....ihi menguatkan hujah ana...sebelum ana pernah bagi hujah ana bahawa sahabat2 nabi golongan yang mulia...boleh la cari...sekian...
mana yang kurang itu atas kelemahan insan yang daif ini..sekian...
20 years
ya Allah panjang pulak kisah ini...senang cerita macam nie lah....pengasas untuk syiah itu adalah dari orang yahudi...namanya Abd Allah ibn Saba'...dia nie juga yang telah membunuh Saidina Uthman al-Affan...dan golongan syiah ini jugalah yang menyebabkan berlakunya kekacauan di zaman pemerintahan Saidina Ali.....
fakta ini ana dapat daripada buku Pertelingkahan Antara Sahabat Nabi...ditulis oleh Ustaz Mohd Asri Zainul Abidin..pensyarah di USM...seorang yang dalam bidang hadis....
sahabat2 seeloknya cuba dapatkan buku ini..banyak maklumat yang berguna...dan kebanyakkan hujahnya adalah berdasarkan ilmu al-Quran dan hadis yang shahih..lagi2 beliau belajar dalam bidang hadis ini...sekian untuk makluman bersama....
kepada saudara syed Ali..ana rasa hujah atau pertelingkahan yang saudara syed ali kemukakan telah sahabat ana hadrami tolong jawabkan....ana tak nak ianya dipanjangkan lagi..isu utama pengasa syiah ini telah jelas menunjukkan segala tentang syiah ini..dan matlamat penubuhannya...maka ana rasa cukuplah ana hujahkan sampai disini...ana bukan berhujah berdasarkan hawa nafsu ana secara sesuka hati...ana hujahkan berdasarkan ilmu yang ana ada...kepada sahabat2 semua harapnya berpegang teguhlah dengan ajaran al-Quran dan hadis....
kalo ana nak ceritakan tentang syiah nie terlalu panjang kisahnya...yang penting..kita sendiri perlu bersedia untuk mencari ilmu Islam itu sendiri dengan sebenarnya....ambillah ilmu daripada yang benar2 boleh kita percayai...kerana kini terlalu banyak golongan yang cuba memusuhi islam itu sendiri....nabi pernah bersabda yang bermaksud...akan ada 73 golongan dari umatku, hanya satu yang akan terselamat....
ana berhujah dengan ilmu yang ana dapat...segala kekurangan ana..ana mohon maafi....
fakta ini ana dapat daripada buku Pertelingkahan Antara Sahabat Nabi...ditulis oleh Ustaz Mohd Asri Zainul Abidin..pensyarah di USM...seorang yang dalam bidang hadis....
sahabat2 seeloknya cuba dapatkan buku ini..banyak maklumat yang berguna...dan kebanyakkan hujahnya adalah berdasarkan ilmu al-Quran dan hadis yang shahih..lagi2 beliau belajar dalam bidang hadis ini...sekian untuk makluman bersama....
kepada saudara syed Ali..ana rasa hujah atau pertelingkahan yang saudara syed ali kemukakan telah sahabat ana hadrami tolong jawabkan....ana tak nak ianya dipanjangkan lagi..isu utama pengasa syiah ini telah jelas menunjukkan segala tentang syiah ini..dan matlamat penubuhannya...maka ana rasa cukuplah ana hujahkan sampai disini...ana bukan berhujah berdasarkan hawa nafsu ana secara sesuka hati...ana hujahkan berdasarkan ilmu yang ana ada...kepada sahabat2 semua harapnya berpegang teguhlah dengan ajaran al-Quran dan hadis....
kalo ana nak ceritakan tentang syiah nie terlalu panjang kisahnya...yang penting..kita sendiri perlu bersedia untuk mencari ilmu Islam itu sendiri dengan sebenarnya....ambillah ilmu daripada yang benar2 boleh kita percayai...kerana kini terlalu banyak golongan yang cuba memusuhi islam itu sendiri....nabi pernah bersabda yang bermaksud...akan ada 73 golongan dari umatku, hanya satu yang akan terselamat....
ana berhujah dengan ilmu yang ana dapat...segala kekurangan ana..ana mohon maafi....
20 years
Bagi menjawab tuduhan Syed Ali yang begitu biadab terhadap para ulamak kita, di sini ana memetik kalam Al-Imam An-Nawawi dalam Kitab Majmu'nya yang terhebat, juzuk 1, Kitab Taharah, Bab Sifatil Wudhu', pada mensyarahkan matan Muhazzab yang berbunyi :
Berkata Musannif (Rahimahullah) : Kemudian membasuh dua kaki, dan ia merupakan fardhu berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Jabir bahawa Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam mengarahkan kami jika kami berwudhu' agar membasuh kedua kaki.
Imam An-Nawawi (Rahimahullah) berkata:
(Adapun hukum bagi masalah ini), telah sepakat ummat Islam pada kewajipan membasuh kedua belah kaki, dan tidak bercanggah pada perkara ini di sisi mereka yang kita ambil kira pendapatnya. Begitulah yang disebutkan oleh Syeikh Abu Hamid dan yang lain.
Dan berkata Syiah, wajib menyapunya.
Dan diriwayatkan oleh Ashab Syafie dari Muhammad bin Jarir bahawa ia merupakan satu pilihan antara membasuh atau menyapunya. Diriwayatkan juga begitu oleh Al-Khattabi dari Al-Jubba-i dan Muktazilah
Dan sebahagian ahli zahir pula mewajibkan kedua-dua basuh dan sapu.
Hujah Syiah
1) Dan telah berhujah mereka yang mengatakan supaya menyapu sahaja dengan firman Allah Ta'ala:
{ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ }
Dan sapulah kepala-kepala kamu dan kaki-kaki kamu.
Mereka berhujah dengan bacaan 'jar' (arjulikum) yang merupakan salah satu dari qiraat yang tujuh. Maka disandarkan apa yang disapu (kaki) atas apa yang disapu (kepala).
2) Mereka juga telah membahagikan anggota wudhu' yang empat kepada dua bahagian: dua yang dibasuh dan dua yang disapu.
3) Diriwayatkan juga dari Anas bahawa beliau mendengar Hajjaj berkhutbah dan menyebut: Allah Ta'ala memerintahkan kita supaya membasuh muka, dua tangan dan membasuh kaki. Maka Anas berkata: Benarlah firman Allah dan menipulah Hajjaj, lantas membaca ayat di atas dengan qiraat tersebut.
4) Dan dari Ibn Abbas bahawa beliau berkata, ianya dua basuhan dan dua sapuan.
5) Dan dari beliau juga, Allah memerintah menyapu dan akan datang manusia akan membasuh.
6) Dan dari Rifa'ah pada hadis orang yang rosak solatnya, Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Sesungguhnya tidak sempurna solat seseorang dari kamu sehingga dia menyempurnakan wudhu'nya seperti yang diperintahkan Allah Ta'ala, maka baginda membasuh muka dan tangan, serta menyapu kepala dan kaki.
7) Dan dari Ali Radhiyallahu 'Anh, sesungguhnya beliau berwudhu', lalu beliau mengambil air dan merenjisnya ke atas kakinya yang kanan, sedang padanya kasut. Begitu jua dilakukan pada kaki kirinya.
8) Dan hujah mereka lagi, kaki merupakan anggota yang gugur pada tayammum, maka difardhukan menyapu sahaja seperti kepala.
Hujah bagi Ahlu Sunnah
Dan ashab kita berhujah dengan hadis-hadis sahih yang terlalu banyak pada sifat wudhu' nabi Sallahu 'Alaihi Wasallam bahawa baginda membasuh kaki baginda.
Antaranya ialah hadis Usman, hadis Ali, hadis Ibn Abbas, Abi Hurairah, Abdullah bin Zaid, Ar-Rubaigh binti Mu'awwiz, 'Amru bin 'Abasah dan lain-lain lagi dari hadis-hadis masyhur pada kedua-dua kitab sohih dan kitab-kitab yang lain.
Antaranya ialah apa yang sabit dalam kedua-dua kitab sohih, bahawa Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam melihat sekumpulan manusia berwudhu' dan tertinggal buku lali mereka yang tidak terkena air, maka baginda bersabda: Neraka Wail bagi buku-buku lali (yang tidak terkena air wudhu'). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Riwayat Abdullah bin 'Amr bin Al-'As, serta diriwayatkan sepertinya oleh kedua mereka dari Abu Hurairah. Dan pada hadis ini penjelasan bahawa meliputi kaki dengan basuhan adalah wajib.
Dan dari Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu 'Anh bahawa seorang lelaki berwudhu; dan meninggalkan sebahagian kakinya, dan dilihat oleh Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu baginda bersabda "Pergilah dan perbaikilah wudhu'mu." Ia diriwayatkan oleh Muslim dari Amru bin Syuaib dari bapanya dari datuknya.
Seorang lelaki datang kepada Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam dan bertanya: "Wahai Rasulallah, bagaimana bersuci?" Baginda meminta air dan membasuh kedua pergelangan tangannya 3 kali………… kemudian beliau membasih kedua-dua kaki baginda 3 kali. Beliau bersabda: "Begitulah wudhu'. Siapa yang melebihinya atau mengurangi darinya telah salah dan menzalimi." Hadis ini sahih diriwayatkan oleh Abu Daud dan yang lainnya dengan banyak sanad yang sahih yang akan disebutkan nanti. Dan inilah antara dalil yang terbaik dalam masalah ini
Dan dari 'Amru bin 'Abasah pada hadisnya yang panjang dan masyhur bahawa Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Tidak seorang pun dari kalangan kamu yang berwudhu'………………..lalu membasuh kedua-dua kakinya melainkan gugur kesalahan-kesalahan kakinya dari hujung jari-jari kakinya bersama dengan air." Riwayat Muslim dengan lafaz ini. Dan dalam sebuah riwayat 'Amru bin 'Abasah berkata: "Aku mendengarnya dari Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam lebih dari 7 kali.
Dan bekata Al-Baihaqi, kami meriwayatkan hadis sahih dari 'Amru bin 'Abasah dari Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam pada hal wudhu' "kemudian baginda mencuci kedua-dua kaki baginda seperti mana yang diperintahkan oleh Allah Ta'ala." Al-Baihaqi berkata: dan padanya petunjuk bahawa Allah Ta'ala memerintahkan mencuci kedua-duanya.
Dan dari Abi Hurairah bahawa Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam baginda bersabda: "Apabila berwudhu' seorang hamba muslim atau mukmin, lalu dia membasuh mukanya, keluarlah dari mukanya segala kesalahan……….dan apabila dia membasuh kedua-dua kakinya keluarlah segala kesalah yang dilalui oleh kedua-dua kakinya dengan air, atau dengan titisan air yang terakhir, sehingga dia suci dari dosa-dosa." Riwayat Muslim.
Dan dari Laqit bin Sabrah bahawa Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Dan selakan antara jari-jemari." Ia adalah hadis sahih yang telah diterangkan dalam fasal berkumur, dan akan diulang lagi dalam bab menyela jari, dan ia menjadi dalil pada membasuh.
Dan hadis pada masalah ini terlalu banyak. Apa yang telah disebutkan telah mencukupi.
Dan berkata Ashab kami, kerana keduanya (kaki) merupakan anggota yang dihadkan bahagiannya, maka wajibnya adalah membasuh seperti tangan.
Jawapan kepada hujah Syiah
Adapun jawapan kepada hujah mereka dengan firman Allah Ta'ala:
{ وَأَرْجُلِكُمْ }
Ia telah dibaca dengan Nasab dan Jar, maka Nasb jelas pada membasuh, kerana ia disandarkan kepada muka dan kedua-dua tangan. Manakala Jar pula telah dijawab oleh ashab kita dan yang lain dengan pelbagai jawapan.
Jawapan yang paling masyhur ialah:
a) Bahawa Jar kerana berada berdekatan dengan lafaz Ru'us sedangkan Arjul (kaki) itu sendiri adalah mansub. Dan perkara ini merupakan perkara yang masyhur dalam bahasa Arab. Terdapat banyak syair Arab yang masyhur dan petikan-petikan kata-kata mereka demikian. Antaranya:
( هَذَا جُحْرُ ضَبٍّ خَرِبٍ )
Perkataan خَرِبٍ dibaca dengan jar kerana bersebelahan dengan ضَبٍّsedangkan ia adalah marfu' sebagai sifat bagi جُحْرٍ.
Antaranya lagi ialah di dalam Al-Quran:
{ إنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ }
Maka dijadikan jar perkataan أَلِيمٍ sedangkan ia adalah mansub sebagai sifat kepada عَذَابَ.
Jika mereka menjawab: sesunnguhnya turutan demikian itu harus jika tidak disertakan dengan huruf wau, dan jika ada wau maka tidaklah harus, sedangkan di dalam ayat tersebut ada huruf wau. Kita katakan: Ia adalah satu kesalahan. Sesungguhnya turutan demikian dengan wau adalah masyhur dalam syair-syair mereka. Antaranya apa yang mereka syairkan:
لَمْ يَبْقَ إلَّا أَسِيرٌ غَيْرُ مُنْفَلِتِ وَمُوثَقٍ فِي عِقَالِ الْأَسْرِ مَكْبُولُ
Maka مُوثَقٍ dijadikan jar kerana turutan sebelumnya مُنْفَلِتِ sedangkan ia adalah marfu' sebagai sandaran kepada أَسِيرٌ.
Jika mereka katakan pula, turutan demikian harus jika tiada keraguan bercampur aduk padanya, sedangkan ada kerguan pada ayat tersebut. Kita katakan tiada keraguan pada ayat tersebut kerana ada ditentukan had dengan kedua-dua buku lali, sedangkan menyapu tidak sampai kepada kedua buku lali dengan kesepakatan kita.
b) Jawapan yang kedua: Qiraah Jar dan Nasb kedua-duanya ada, tetapi sunnah telah menerangkan dan mentarjihkan basuhan, maka ternyatalah hukumnya.
c) Disebutkan oleh beberapa jamaah dari ashab kami, antaranya Syeikh Abu Hamid, Addarimi, Almawardi, Al-Qadhi Abu At-Tayyib dan yang lain, dan dinaqalkan oleh Abu Hamid pada bab menyapu khuf dari ashab bahawa jar diertikan pada menyapu khuf, manakala nasb pada membasuh kaki tanpa khuf.
d) Jikalau sabit bahawa yang dimaksudkan dengan ayat tersebut adalah al-mas-hu, maka perlulah diambil maksud al-mas-hu di sini adalah basuhan sebagai menghimpun antara dalil-dalil yang ada serta dua qiraah yang ada. Ini kerana al-mas-hu secara mutlak membawa makna membasuh seperti yang diriwayatkan oleh banyak para imam bahasa, antaranya Abu Zain Al-Ansari, Ibn Qutaybah dan lain-lain. Dan berkata Abu Ali Al-Farisi, "Orang Arab menamakan basuhan yang sedikit sebagai mas-h." Dan Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Al-A'masy bahawa beliau berkata: "Mereka membacanya dan mereka membasuh."
Manakala jawapan kepada hujah mereka dengan kata-kata Anas (rujuk hujah mereka no. 3) melalui beberapa wajah pula:
a) Jawapan yang paling masyhur di sisi ashab kami adalah: Anas mengingkari Hajjaj pada kedudukan ayat tersebut yang menjadi dalil kepada wajib membasuh. Beliau beriktikad bahawa wajibnya basuhan diketahui bukan melalaui ayat tersebut tetapi dari Sunnah. Maka beliau sebenarnya bersetuju dengan Al-Hajjaj pada hukum basuhan tetapi berselisih pada dalil.
b) Disebutkan oleh Al-Baihaqi dan yang lain, bahawa Anas tidak mengingkari wajib membasuh tetapi mengingkari qiraah yang dibaca. Jadi dia seolah-olah tidak berpendapat qiraah nasb dan ini tidak menghalang hukum tersebut. Dan dikuatkan takwil ini bahawa Anas meriwayatkan dari Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam apa yang menjadi dalil kepada wajibnya membasuh, dan Anas sendiri membasuh kakinya.
c) Jikalau tidak boleh diterima takwilam terhadap kalam Anas tersebut pun, kita tidak boleh mengutamakannya dari perbuatan Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam dan sabda baginda serta perbuatan sahabat serta kata-kata mereka yang lebih kita dahulukan.
Manakala kata-kata Ibn Abbas (rujuk hujah syiah no.4) maka jawapannya dari dua wajah.
a) Yang terbaik antara keduanya adalah ia tidak sahih dan tidak diketahui daripada Ibn Abbas, walaupun diriwayatkan oleh Ibn Jarir dengan sanadnya dalam kitab ikhtilafil ulamak, tetapi sanadnya lemah.
Malah apa yang sahih dan sabit dari beliau bahawa beliau sendiri membaca { وَأَرْجُلَكُمْ } dengan nasb dan berkata: disandarkan kepada yang dibasuh. Begitulah yang diriwayatkan oleh para Imam Al-Huffaz Al-A'lam, antara mereka Abu 'Ubaid Al-Qasim bin Sallam, kumpulan-kumpulan qurra', Al-Baihaqi dan yang lain dengan sanad-sanad mereka.
Dan telah sabit dalam sahih Al-Bukhari dari Ibn Abbas bahawa beliau berwudhu' maka membasuh kakinya seraya berkata: "begitulah apa yang aku lihat Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam berwudhu'."
b) Jawapan kedua adalah seperti jawapan ketiga bagi kata-kata Anas.
Manakala Hadis Rifa'ah (rujuk hujah Syiah no.6), ia adalah berdasarkan kepada lafaz ayat Al-Quran di atas. Maka jawapan baginya adalah seperti mana yang dibicarakan pada ayat tersebut.
Hadis Ali pula (rujuk hujah Syiah no.7) dijawab dengan pelbagai wajah.
a) Wajah yang terbaik adalah ia merupakan dhoif yang mana didhoifkan oleh Al-Bukhari dan yang lainnya dari kalangan para huffaz, maka tidak boleh dijadikan hujah jikapun tidak bercanggah dengan perkara lain. Tambahan pula ia bercanggah dengan sunnah-usnnah yang suci serta dalil-dalil yang zahir.
b) Jika pun sabit, maka basuhan adalah diutamakan kerana ia sabit dari Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam
c) Jawapan Al-Baihaqi dan para Ashab bahawa kata-kata tersebut membawa makna beliau membasuh kedua-dua kaki beliau dalam kasut. Ini kerana telah sabit dari pelbagai wajah bahawa beliau menbasuh kedua kaki beliau. Maka wajiblah kita mengambil riwayat yang mempunyai pelbagai tanggapan berdasarkan kepada riwayat-riwayat yang sahih lagi jelas.
Manakala kias mereka kepada kepala (hujah Syiah no.8) maka ia bercanggah dengan kaki orang yang berjunub. Ini kerana kewajipannya gugur pada tayammum tetapi tidak mencukup sapuannya dengan air yang merupakan kesepakatan kita semua.
Ini hanyalah contoh kepada argumentasi kita kepada apa yang mereka war-warkan. Tuduhan kita tidak mengikut Al-Quran adalah suatu yang amat berat sebelah dan zalim. Semoga Allah menjauhkan kita dari golongan yang zalim.
Wallahu A'lam.
Berkata Musannif (Rahimahullah) : Kemudian membasuh dua kaki, dan ia merupakan fardhu berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Jabir bahawa Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam mengarahkan kami jika kami berwudhu' agar membasuh kedua kaki.
Imam An-Nawawi (Rahimahullah) berkata:
(Adapun hukum bagi masalah ini), telah sepakat ummat Islam pada kewajipan membasuh kedua belah kaki, dan tidak bercanggah pada perkara ini di sisi mereka yang kita ambil kira pendapatnya. Begitulah yang disebutkan oleh Syeikh Abu Hamid dan yang lain.
Dan berkata Syiah, wajib menyapunya.
Dan diriwayatkan oleh Ashab Syafie dari Muhammad bin Jarir bahawa ia merupakan satu pilihan antara membasuh atau menyapunya. Diriwayatkan juga begitu oleh Al-Khattabi dari Al-Jubba-i dan Muktazilah
Dan sebahagian ahli zahir pula mewajibkan kedua-dua basuh dan sapu.
Hujah Syiah
1) Dan telah berhujah mereka yang mengatakan supaya menyapu sahaja dengan firman Allah Ta'ala:
{ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ }
Dan sapulah kepala-kepala kamu dan kaki-kaki kamu.
Mereka berhujah dengan bacaan 'jar' (arjulikum) yang merupakan salah satu dari qiraat yang tujuh. Maka disandarkan apa yang disapu (kaki) atas apa yang disapu (kepala).
2) Mereka juga telah membahagikan anggota wudhu' yang empat kepada dua bahagian: dua yang dibasuh dan dua yang disapu.
3) Diriwayatkan juga dari Anas bahawa beliau mendengar Hajjaj berkhutbah dan menyebut: Allah Ta'ala memerintahkan kita supaya membasuh muka, dua tangan dan membasuh kaki. Maka Anas berkata: Benarlah firman Allah dan menipulah Hajjaj, lantas membaca ayat di atas dengan qiraat tersebut.
4) Dan dari Ibn Abbas bahawa beliau berkata, ianya dua basuhan dan dua sapuan.
5) Dan dari beliau juga, Allah memerintah menyapu dan akan datang manusia akan membasuh.
6) Dan dari Rifa'ah pada hadis orang yang rosak solatnya, Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Sesungguhnya tidak sempurna solat seseorang dari kamu sehingga dia menyempurnakan wudhu'nya seperti yang diperintahkan Allah Ta'ala, maka baginda membasuh muka dan tangan, serta menyapu kepala dan kaki.
7) Dan dari Ali Radhiyallahu 'Anh, sesungguhnya beliau berwudhu', lalu beliau mengambil air dan merenjisnya ke atas kakinya yang kanan, sedang padanya kasut. Begitu jua dilakukan pada kaki kirinya.
8) Dan hujah mereka lagi, kaki merupakan anggota yang gugur pada tayammum, maka difardhukan menyapu sahaja seperti kepala.
Hujah bagi Ahlu Sunnah
Dan ashab kita berhujah dengan hadis-hadis sahih yang terlalu banyak pada sifat wudhu' nabi Sallahu 'Alaihi Wasallam bahawa baginda membasuh kaki baginda.
Antaranya ialah hadis Usman, hadis Ali, hadis Ibn Abbas, Abi Hurairah, Abdullah bin Zaid, Ar-Rubaigh binti Mu'awwiz, 'Amru bin 'Abasah dan lain-lain lagi dari hadis-hadis masyhur pada kedua-dua kitab sohih dan kitab-kitab yang lain.
Antaranya ialah apa yang sabit dalam kedua-dua kitab sohih, bahawa Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam melihat sekumpulan manusia berwudhu' dan tertinggal buku lali mereka yang tidak terkena air, maka baginda bersabda: Neraka Wail bagi buku-buku lali (yang tidak terkena air wudhu'). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Riwayat Abdullah bin 'Amr bin Al-'As, serta diriwayatkan sepertinya oleh kedua mereka dari Abu Hurairah. Dan pada hadis ini penjelasan bahawa meliputi kaki dengan basuhan adalah wajib.
Dan dari Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu 'Anh bahawa seorang lelaki berwudhu; dan meninggalkan sebahagian kakinya, dan dilihat oleh Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu baginda bersabda "Pergilah dan perbaikilah wudhu'mu." Ia diriwayatkan oleh Muslim dari Amru bin Syuaib dari bapanya dari datuknya.
Seorang lelaki datang kepada Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam dan bertanya: "Wahai Rasulallah, bagaimana bersuci?" Baginda meminta air dan membasuh kedua pergelangan tangannya 3 kali………… kemudian beliau membasih kedua-dua kaki baginda 3 kali. Beliau bersabda: "Begitulah wudhu'. Siapa yang melebihinya atau mengurangi darinya telah salah dan menzalimi." Hadis ini sahih diriwayatkan oleh Abu Daud dan yang lainnya dengan banyak sanad yang sahih yang akan disebutkan nanti. Dan inilah antara dalil yang terbaik dalam masalah ini
Dan dari 'Amru bin 'Abasah pada hadisnya yang panjang dan masyhur bahawa Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Tidak seorang pun dari kalangan kamu yang berwudhu'………………..lalu membasuh kedua-dua kakinya melainkan gugur kesalahan-kesalahan kakinya dari hujung jari-jari kakinya bersama dengan air." Riwayat Muslim dengan lafaz ini. Dan dalam sebuah riwayat 'Amru bin 'Abasah berkata: "Aku mendengarnya dari Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam lebih dari 7 kali.
Dan bekata Al-Baihaqi, kami meriwayatkan hadis sahih dari 'Amru bin 'Abasah dari Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam pada hal wudhu' "kemudian baginda mencuci kedua-dua kaki baginda seperti mana yang diperintahkan oleh Allah Ta'ala." Al-Baihaqi berkata: dan padanya petunjuk bahawa Allah Ta'ala memerintahkan mencuci kedua-duanya.
Dan dari Abi Hurairah bahawa Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam baginda bersabda: "Apabila berwudhu' seorang hamba muslim atau mukmin, lalu dia membasuh mukanya, keluarlah dari mukanya segala kesalahan……….dan apabila dia membasuh kedua-dua kakinya keluarlah segala kesalah yang dilalui oleh kedua-dua kakinya dengan air, atau dengan titisan air yang terakhir, sehingga dia suci dari dosa-dosa." Riwayat Muslim.
Dan dari Laqit bin Sabrah bahawa Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Dan selakan antara jari-jemari." Ia adalah hadis sahih yang telah diterangkan dalam fasal berkumur, dan akan diulang lagi dalam bab menyela jari, dan ia menjadi dalil pada membasuh.
Dan hadis pada masalah ini terlalu banyak. Apa yang telah disebutkan telah mencukupi.
Dan berkata Ashab kami, kerana keduanya (kaki) merupakan anggota yang dihadkan bahagiannya, maka wajibnya adalah membasuh seperti tangan.
Jawapan kepada hujah Syiah
Adapun jawapan kepada hujah mereka dengan firman Allah Ta'ala:
{ وَأَرْجُلِكُمْ }
Ia telah dibaca dengan Nasab dan Jar, maka Nasb jelas pada membasuh, kerana ia disandarkan kepada muka dan kedua-dua tangan. Manakala Jar pula telah dijawab oleh ashab kita dan yang lain dengan pelbagai jawapan.
Jawapan yang paling masyhur ialah:
a) Bahawa Jar kerana berada berdekatan dengan lafaz Ru'us sedangkan Arjul (kaki) itu sendiri adalah mansub. Dan perkara ini merupakan perkara yang masyhur dalam bahasa Arab. Terdapat banyak syair Arab yang masyhur dan petikan-petikan kata-kata mereka demikian. Antaranya:
( هَذَا جُحْرُ ضَبٍّ خَرِبٍ )
Perkataan خَرِبٍ dibaca dengan jar kerana bersebelahan dengan ضَبٍّsedangkan ia adalah marfu' sebagai sifat bagi جُحْرٍ.
Antaranya lagi ialah di dalam Al-Quran:
{ إنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ }
Maka dijadikan jar perkataan أَلِيمٍ sedangkan ia adalah mansub sebagai sifat kepada عَذَابَ.
Jika mereka menjawab: sesunnguhnya turutan demikian itu harus jika tidak disertakan dengan huruf wau, dan jika ada wau maka tidaklah harus, sedangkan di dalam ayat tersebut ada huruf wau. Kita katakan: Ia adalah satu kesalahan. Sesungguhnya turutan demikian dengan wau adalah masyhur dalam syair-syair mereka. Antaranya apa yang mereka syairkan:
لَمْ يَبْقَ إلَّا أَسِيرٌ غَيْرُ مُنْفَلِتِ وَمُوثَقٍ فِي عِقَالِ الْأَسْرِ مَكْبُولُ
Maka مُوثَقٍ dijadikan jar kerana turutan sebelumnya مُنْفَلِتِ sedangkan ia adalah marfu' sebagai sandaran kepada أَسِيرٌ.
Jika mereka katakan pula, turutan demikian harus jika tiada keraguan bercampur aduk padanya, sedangkan ada kerguan pada ayat tersebut. Kita katakan tiada keraguan pada ayat tersebut kerana ada ditentukan had dengan kedua-dua buku lali, sedangkan menyapu tidak sampai kepada kedua buku lali dengan kesepakatan kita.
b) Jawapan yang kedua: Qiraah Jar dan Nasb kedua-duanya ada, tetapi sunnah telah menerangkan dan mentarjihkan basuhan, maka ternyatalah hukumnya.
c) Disebutkan oleh beberapa jamaah dari ashab kami, antaranya Syeikh Abu Hamid, Addarimi, Almawardi, Al-Qadhi Abu At-Tayyib dan yang lain, dan dinaqalkan oleh Abu Hamid pada bab menyapu khuf dari ashab bahawa jar diertikan pada menyapu khuf, manakala nasb pada membasuh kaki tanpa khuf.
d) Jikalau sabit bahawa yang dimaksudkan dengan ayat tersebut adalah al-mas-hu, maka perlulah diambil maksud al-mas-hu di sini adalah basuhan sebagai menghimpun antara dalil-dalil yang ada serta dua qiraah yang ada. Ini kerana al-mas-hu secara mutlak membawa makna membasuh seperti yang diriwayatkan oleh banyak para imam bahasa, antaranya Abu Zain Al-Ansari, Ibn Qutaybah dan lain-lain. Dan berkata Abu Ali Al-Farisi, "Orang Arab menamakan basuhan yang sedikit sebagai mas-h." Dan Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Al-A'masy bahawa beliau berkata: "Mereka membacanya dan mereka membasuh."
Manakala jawapan kepada hujah mereka dengan kata-kata Anas (rujuk hujah mereka no. 3) melalui beberapa wajah pula:
a) Jawapan yang paling masyhur di sisi ashab kami adalah: Anas mengingkari Hajjaj pada kedudukan ayat tersebut yang menjadi dalil kepada wajib membasuh. Beliau beriktikad bahawa wajibnya basuhan diketahui bukan melalaui ayat tersebut tetapi dari Sunnah. Maka beliau sebenarnya bersetuju dengan Al-Hajjaj pada hukum basuhan tetapi berselisih pada dalil.
b) Disebutkan oleh Al-Baihaqi dan yang lain, bahawa Anas tidak mengingkari wajib membasuh tetapi mengingkari qiraah yang dibaca. Jadi dia seolah-olah tidak berpendapat qiraah nasb dan ini tidak menghalang hukum tersebut. Dan dikuatkan takwil ini bahawa Anas meriwayatkan dari Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam apa yang menjadi dalil kepada wajibnya membasuh, dan Anas sendiri membasuh kakinya.
c) Jikalau tidak boleh diterima takwilam terhadap kalam Anas tersebut pun, kita tidak boleh mengutamakannya dari perbuatan Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam dan sabda baginda serta perbuatan sahabat serta kata-kata mereka yang lebih kita dahulukan.
Manakala kata-kata Ibn Abbas (rujuk hujah syiah no.4) maka jawapannya dari dua wajah.
a) Yang terbaik antara keduanya adalah ia tidak sahih dan tidak diketahui daripada Ibn Abbas, walaupun diriwayatkan oleh Ibn Jarir dengan sanadnya dalam kitab ikhtilafil ulamak, tetapi sanadnya lemah.
Malah apa yang sahih dan sabit dari beliau bahawa beliau sendiri membaca { وَأَرْجُلَكُمْ } dengan nasb dan berkata: disandarkan kepada yang dibasuh. Begitulah yang diriwayatkan oleh para Imam Al-Huffaz Al-A'lam, antara mereka Abu 'Ubaid Al-Qasim bin Sallam, kumpulan-kumpulan qurra', Al-Baihaqi dan yang lain dengan sanad-sanad mereka.
Dan telah sabit dalam sahih Al-Bukhari dari Ibn Abbas bahawa beliau berwudhu' maka membasuh kakinya seraya berkata: "begitulah apa yang aku lihat Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam berwudhu'."
b) Jawapan kedua adalah seperti jawapan ketiga bagi kata-kata Anas.
Manakala Hadis Rifa'ah (rujuk hujah Syiah no.6), ia adalah berdasarkan kepada lafaz ayat Al-Quran di atas. Maka jawapan baginya adalah seperti mana yang dibicarakan pada ayat tersebut.
Hadis Ali pula (rujuk hujah Syiah no.7) dijawab dengan pelbagai wajah.
a) Wajah yang terbaik adalah ia merupakan dhoif yang mana didhoifkan oleh Al-Bukhari dan yang lainnya dari kalangan para huffaz, maka tidak boleh dijadikan hujah jikapun tidak bercanggah dengan perkara lain. Tambahan pula ia bercanggah dengan sunnah-usnnah yang suci serta dalil-dalil yang zahir.
b) Jika pun sabit, maka basuhan adalah diutamakan kerana ia sabit dari Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam
c) Jawapan Al-Baihaqi dan para Ashab bahawa kata-kata tersebut membawa makna beliau membasuh kedua-dua kaki beliau dalam kasut. Ini kerana telah sabit dari pelbagai wajah bahawa beliau menbasuh kedua kaki beliau. Maka wajiblah kita mengambil riwayat yang mempunyai pelbagai tanggapan berdasarkan kepada riwayat-riwayat yang sahih lagi jelas.
Manakala kias mereka kepada kepala (hujah Syiah no.8) maka ia bercanggah dengan kaki orang yang berjunub. Ini kerana kewajipannya gugur pada tayammum tetapi tidak mencukup sapuannya dengan air yang merupakan kesepakatan kita semua.
Ini hanyalah contoh kepada argumentasi kita kepada apa yang mereka war-warkan. Tuduhan kita tidak mengikut Al-Quran adalah suatu yang amat berat sebelah dan zalim. Semoga Allah menjauhkan kita dari golongan yang zalim.
Wallahu A'lam.
20 years
Assalamualaikum,
Apakah tujuan sebenar syed ali di sini selain menghukum dan membuat keputusan terhadap ahlussunnah dengan segala isu yang sama sejak zaman berzaman yang telah dijawab oleh ribuan ulamak dan fuqaha'?
Kalau inginkan kebenaran, dialoglah dengan orang yg berilmu, bukan dengan orang awam di tempat yg terbuka begini.
Kalau ingin menyampaikan dakwah syi'ah, bukankah ia suatu yg dilarang di negara kita? Maka pergilah berdakwah ke jabatan agama terlebih dahulu sebelum berdakwah di sini.
Kalau saudara di landasan yang benar dan betul mempunyai sekian banyak ilmu yang orang lain tak tau, serta yakin dengan pendapat saudara, maka saudara tentu tidak berasa gerun sedikit pun untuk berdialog dengan sesiapa jua. Ikutilah sunnah paru ahlu bait dalam berdakwah. Ahlu bait tidak menghukum tetapi berdakwah dengan akhlak, tidak menghujum tetapi berlapang dada dengan apa jua perselisihan dalam batasan syarie.
Satu soalan lagi, kalau Tuan Syed katakan inilah mazhab ahli bait, di manakah ulamak seperti Imam Al-Muhajir Ilallah, Imam Al-Faqih Al-Muqaddam, Imam Abdullah Al-Haddad, gurunya Habib Omar bin Abdul Rahman Al-Attas, Habib Alwi bin Tahir Al-Haddad, serta ribuan ulamak dan awliya' dari ahlu bait sendiri? Mereka ini kita tidak dapat nafikan berpegang dgn aqidah ahlussunnah waljamaah (samaada salaf atau khalaf), dan dalam feqh bermazhab syafie. Adakah yang saudara maksudkan mazhab ahlu bait tersebut hanya mazhab ahlu bait yang mengikuti syiah? Maka saudara perlu mentaqyidkan bahasa saudara kepada mazhab ahlu bait syiah, supaya tidak menjadi fitnah kepada para imam ahlu bait lain.
Wallahu A'lam
P/S: Semua isu yg saudara bawakan adalah isu basi yang telah terjawab berkurun lamanya, dan hanya dibawakan semula oleh mereka yang tidak mengkaji dengan terbuka, atau yg dijahilkan dengan penyataan-penyataan yang seolah-olah kebenaran tetapi terpesong jauh darinya.
Apakah tujuan sebenar syed ali di sini selain menghukum dan membuat keputusan terhadap ahlussunnah dengan segala isu yang sama sejak zaman berzaman yang telah dijawab oleh ribuan ulamak dan fuqaha'?
Kalau inginkan kebenaran, dialoglah dengan orang yg berilmu, bukan dengan orang awam di tempat yg terbuka begini.
Kalau ingin menyampaikan dakwah syi'ah, bukankah ia suatu yg dilarang di negara kita? Maka pergilah berdakwah ke jabatan agama terlebih dahulu sebelum berdakwah di sini.
Kalau saudara di landasan yang benar dan betul mempunyai sekian banyak ilmu yang orang lain tak tau, serta yakin dengan pendapat saudara, maka saudara tentu tidak berasa gerun sedikit pun untuk berdialog dengan sesiapa jua. Ikutilah sunnah paru ahlu bait dalam berdakwah. Ahlu bait tidak menghukum tetapi berdakwah dengan akhlak, tidak menghujum tetapi berlapang dada dengan apa jua perselisihan dalam batasan syarie.
Satu soalan lagi, kalau Tuan Syed katakan inilah mazhab ahli bait, di manakah ulamak seperti Imam Al-Muhajir Ilallah, Imam Al-Faqih Al-Muqaddam, Imam Abdullah Al-Haddad, gurunya Habib Omar bin Abdul Rahman Al-Attas, Habib Alwi bin Tahir Al-Haddad, serta ribuan ulamak dan awliya' dari ahlu bait sendiri? Mereka ini kita tidak dapat nafikan berpegang dgn aqidah ahlussunnah waljamaah (samaada salaf atau khalaf), dan dalam feqh bermazhab syafie. Adakah yang saudara maksudkan mazhab ahlu bait tersebut hanya mazhab ahlu bait yang mengikuti syiah? Maka saudara perlu mentaqyidkan bahasa saudara kepada mazhab ahlu bait syiah, supaya tidak menjadi fitnah kepada para imam ahlu bait lain.
Wallahu A'lam
P/S: Semua isu yg saudara bawakan adalah isu basi yang telah terjawab berkurun lamanya, dan hanya dibawakan semula oleh mereka yang tidak mengkaji dengan terbuka, atau yg dijahilkan dengan penyataan-penyataan yang seolah-olah kebenaran tetapi terpesong jauh darinya.
20 years
alhamdulillah syed ali, jika itulah niat saudara, semoga Allah memberkati saudara..
semoga ilmu yang saudara sampaikan ini membawa manfaat pada semua,
sesungguhnya semua kita ni masih dan terus belajar, seperti kata saudara kita saiful tu..
moga moga dengan usaha saudara syed ali ni akan menyumbang kepada penyatuan kita semua umat Muhammad..
dah teruk dah ni kita ditindas fizikal dan minda...
"Udep Sare Mati Syahid"
semoga ilmu yang saudara sampaikan ini membawa manfaat pada semua,
sesungguhnya semua kita ni masih dan terus belajar, seperti kata saudara kita saiful tu..
moga moga dengan usaha saudara syed ali ni akan menyumbang kepada penyatuan kita semua umat Muhammad..
dah teruk dah ni kita ditindas fizikal dan minda...
"Udep Sare Mati Syahid"
20 years
kepada en.saiful Penelitian Dan Kajian Sebelum Membuat Hukum.....jng menurut kemahuan hawa nafsu...
saya tidak akan memanjangkan untuk menerangkan topik ini secara sia-sia. Dan saya tidak pula berniat untuk membincangkan perkara yang tidak ada kaitan dengannya. Sebenarnya tajuk ini adalah tajuk yang terpenting yang wajib saya membentangkannya untuk menerangkan kedudukan mazhab Ahlul Bayt AS
1. Di manakah umat (ini) yang mengkafirkan semua sahabat dan membersihkan diri daripada mereka?
2. Di manakah umat (ini) yang mendakwa para Imam Ahlul Bayt AS mempunyai "kedudukan ketuhanan"?
3. Di manakah umat (ini) yang telah mengambil pengajarannya daripada Majusi kemudian mencampurkannya dengan aqidahnya?
4. Di manakah umat (ini) yang telah mengubah al-Qur'an dan mendakwa kurang?
5. Di manakah umat (ini) yang telah mereka-reka mazhab-mazhab yang terkeluar daripada Islam?
Sesungguhnya mereka tidak menjawabnya, kerana pemerintah telah menetapkan tuduhan-tuduhan tadi. Lantaran itu mereka tidak boleh menyalahinya, kerana ianya tidak boleh menyakinkan mereka dengan bahasa ilmu. Alangkah hampirnya jalan untuk mengetahui hakikat sekiranya seseorang itu mempunyai fikiran yang luas, suka mengkaji, takut kepada Allah dan menjaga agama.
Kami berharap daripada penulis-penulis yang berkhidmat untuk kebenaran supaya mengkaji secara mendalam sebelum melakukan segala tuduhan yang ditujukan kepada Syi'ah, agar mereka menggunakan "bahasa logik" dan tidak patuh kepada taqlid.
saya mempunyai harapan yang besar agar apa yang kami perbincangkan akan dapat memberi kesedaran kepada masyarakat Islam. Dan dengan ini dapatlah mereka mengenepikan perasaan marah, dan membuangkan pendapat-pendapat yang tidak berasaskan keilmuan dan kebenaran. Dan kita memohon kepada Allah SWT supaya melaksanakan harapan tersebut dan kepadaNya kita bertawakkal. Dan kita memohon kepada Allah SWT supaya memberi pertolongan kepada Muslimin dan menyatukan perkataan mereka sekalipun dibenci oleh orang-orang kafir.
Dan segala puji bagi Allah yang telah mengutus RasulNya dengan petunjuk dan agama yang benara sekalipun oleh orang-orang Musyrikin.
Selawat dan Salam ke atas Muhammad, Itrahnya dan sahabat-sahabatnya al-Muntajabin.
saya tidak akan memanjangkan untuk menerangkan topik ini secara sia-sia. Dan saya tidak pula berniat untuk membincangkan perkara yang tidak ada kaitan dengannya. Sebenarnya tajuk ini adalah tajuk yang terpenting yang wajib saya membentangkannya untuk menerangkan kedudukan mazhab Ahlul Bayt AS
1. Di manakah umat (ini) yang mengkafirkan semua sahabat dan membersihkan diri daripada mereka?
2. Di manakah umat (ini) yang mendakwa para Imam Ahlul Bayt AS mempunyai "kedudukan ketuhanan"?
3. Di manakah umat (ini) yang telah mengambil pengajarannya daripada Majusi kemudian mencampurkannya dengan aqidahnya?
4. Di manakah umat (ini) yang telah mengubah al-Qur'an dan mendakwa kurang?
5. Di manakah umat (ini) yang telah mereka-reka mazhab-mazhab yang terkeluar daripada Islam?
Sesungguhnya mereka tidak menjawabnya, kerana pemerintah telah menetapkan tuduhan-tuduhan tadi. Lantaran itu mereka tidak boleh menyalahinya, kerana ianya tidak boleh menyakinkan mereka dengan bahasa ilmu. Alangkah hampirnya jalan untuk mengetahui hakikat sekiranya seseorang itu mempunyai fikiran yang luas, suka mengkaji, takut kepada Allah dan menjaga agama.
Kami berharap daripada penulis-penulis yang berkhidmat untuk kebenaran supaya mengkaji secara mendalam sebelum melakukan segala tuduhan yang ditujukan kepada Syi'ah, agar mereka menggunakan "bahasa logik" dan tidak patuh kepada taqlid.
saya mempunyai harapan yang besar agar apa yang kami perbincangkan akan dapat memberi kesedaran kepada masyarakat Islam. Dan dengan ini dapatlah mereka mengenepikan perasaan marah, dan membuangkan pendapat-pendapat yang tidak berasaskan keilmuan dan kebenaran. Dan kita memohon kepada Allah SWT supaya melaksanakan harapan tersebut dan kepadaNya kita bertawakkal. Dan kita memohon kepada Allah SWT supaya memberi pertolongan kepada Muslimin dan menyatukan perkataan mereka sekalipun dibenci oleh orang-orang kafir.
Dan segala puji bagi Allah yang telah mengutus RasulNya dengan petunjuk dan agama yang benara sekalipun oleh orang-orang Musyrikin.
Selawat dan Salam ke atas Muhammad, Itrahnya dan sahabat-sahabatnya al-Muntajabin.
20 years