Suara talbiyah misterius sebelum pertempuran terjadi - Jumat, 21 January 2005.
Shaykh Abu Nur mengatakan, "Pertempuran tadi malam merupakan pertempuran yang sangat penting, karena kami harus mengambil kembali kedua jalan yang penting di daerah an-Nazal tersebut. Alhamdulillah, kami berhasil merebutnya kembali dan sekarang keduanya dibawah kontrol total kami." Shaykh menambahkan, "dan bahkan saat saya berbicara sekarang, kami berdiri di atas mayat-mayat tentara penjajah."
...
Suara talbiyah misterius sebelum pertempuran terjadi - Jumat, 21 January 2005.
Shaykh Abu Nur mengatakan, "Pertempuran tadi malam merupakan pertempuran yang sangat penting, karena kami harus mengambil kembali kedua jalan yang penting di daerah an-Nazal tersebut. Alhamdulillah, kami berhasil merebutnya kembali dan sekarang keduanya dibawah kontrol total kami." Shaykh menambahkan, "dan bahkan saat saya berbicara sekarang, kami berdiri di atas mayat-mayat tentara penjajah."
"Sebelumnya kami ragu-ragu untuk melakukan serangan tersebut," kata Shaykh Abu Nur ,"Namun demi Allah, saya dan rekan-rekan mendengar suara-suara talbiyah yang dari para jamaah haji di Makkah ‘Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika laa syarika laka labbaik’ ‘Kami dengar seruanMu, kami datang padaMu, Ya Allah, Kami datang pada, Tidak ada sekutu bagiMu, kami datang padaMu’. Badan dan hati gemetar mendengar suara itu, dan merasakan semangat yang tidak pernah kami rasakan sebelumnya. Sebagian dari kami bahkan berpikir bahwa pasukan Amerika sengaja menyiarkan suara itu untuk memancing kami bertempur, karena dulu kami pernah mendengar kaki tangan mereka memberi tahu pasukan AS bahwa mujahidin ‘lupa diri‘ (sangat bersemangat- editor) jika mereka mendengar suara bacaan Qur’an atau doa."
"Tapi suara tersebut sepertinya naik dari hati kami menuju telinga kami, bukannya dari turun dari telinga kami ke hati kami… ," lanjut Shaykh tersebut," dan karena suara itu, bahkan sebagian mujahidin yang menolak melakukan serangan, karena perhitungan strategi militer – mereka adalah bekas tentara Iraq –mereka malah mengusulkan serangan ini."
Shaykh melanjutkan," Saudaraku, saat kami maju menuju mereka (tentara AS), demi Allah, demi Allah, demi Allah mereka lebih takut terhadap suara itu daripada terhadap kami. Dengan mata kepala kami sendiri kami lihat para serdadu Amerika kabur, padahal komandan mereka berteriak-teriak menyuruh mereka tetap tinggal dan bertempur."
Shaykh Abu Nur mengatakan bahwa 28 Mujahidin Iraqi telah syahid dalam serangan ini. Sebagian diantaranya merupakan pejuang dari negara arab lainnya, namun ia tidak memberikan penjelasan dari negara mana saja mereka datang.
Shaykh menutup percakapannya dengan Mafkarat al-Islam dengan mengatakan, "Saya ceritakan kisah ini pada Anda, untuk disebarkan pada mereka yang tidak yakin pada perjuangan yang kami lakukan, atau pada mereka yang, na’udzubillah, meragukan kekuatan Allah, meragukan Allah akan memberikan keajaiban pada hamba-hamba yang berperang di jalanNya. Saya teringat akan sebuah syair yang mengatakan :
‘Wahai ahli ibadah dua tempat suci,
jika kau melihat kami, kau akan tahu ibadahmu hanya main-main saja…
Kudamu lelah untuk hal yang sia-sia,
sementara kuda-kuda kami lelah dalam sengitnya pertempuran’"
Catatan Editor :
Syair tersebut merupakan syair karangan Imam Ibnul Mubarak, seorang ulama ahli hadits dan fiqih yang juga menghabiskan waktunya di wilayah-wilayah perbatasan untuk melakukan jihad. Syair tersebut ditujukan pada Fudhail bin ‘Iyadh, juga seorang ulama besar yang paling abid, zuhud, wara pada zamannya, yang dikenal sering mengunjungi ke Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah untuk khusyuk beribadah dan menangis. Fudhail bin ‘Iyadh juga merupakan guru dari Imam Syafi’I yang mendirikan madzhab Syafi’i.
Lengkapnya, syair ini adalah sebagai berikut:
"Wahai ahli ibadah dua tempat suci, jika kau melihat kami,
Niscaya engkau akan menyadari, ibadahmu bernilai main-main ..
Jika pipimu basah oleh linangan air matamu ..
Maka leher kami basah dengan tetesan darah
Atau kudamu lelah untuk hal yang sia-sia
Maka kuda-kuda kami lelah dalam sengitnya pertempuran
Bau harum wewangian untukmu, sedangkan wewangian kami ..
Adalah kepulan debu yang diterbangkan kaki-kaki kuda"
.Dikisahkan bahwa setelah membaca surat ini, Fudhail bin ‘Iyadh segera pulang ke rumahnya sambil berteriak pada anaknya,"Siapkan kudaku, siapkan kudaku!", kemudian beliau segera pergi ke salah satu tempat jihad. (-)
sumber: http://abuibnihi.tripod.com/news/210105.htm
"Kesabaran adalah tunjang kekuatan dan kebahagiaan di dunia mahupun akhirat...."