Tiadanya ketenangan, keberkatan hidup, perhatian terhadap kemanusiaan dan tujuan hidup yang bersifat spiritual terus-menerus menggelisahkan hidup manusia moden. Meskipun terdapat kemajuan teknologi dan pengetahuan yang pesat, namun jawapan terhadap pertanyaan akan keperluan manusia masih saja belum terpenuhi.
Pada masa-masa sebelumnya, manusia mengalami kegelisahannya dengan diam-diam, namun sekarang di sebalik kehidupannya yang penuh kesejahteraan, manusia merintih. Dalam saat-saat sepi ket...
Tiadanya ketenangan, keberkatan hidup, perhatian terhadap kemanusiaan dan tujuan hidup yang bersifat spiritual terus-menerus menggelisahkan hidup manusia moden. Meskipun terdapat kemajuan teknologi dan pengetahuan yang pesat, namun jawapan terhadap pertanyaan akan keperluan manusia masih saja belum terpenuhi.
Pada masa-masa sebelumnya, manusia mengalami kegelisahannya dengan diam-diam, namun sekarang di sebalik kehidupannya yang penuh kesejahteraan, manusia merintih. Dalam saat-saat sepi ketika manusia hanya berada dengan dirinya sendiri, apa yang akan dilakukannya kalau tidak merasa kegelisahannya?
Manusia telah menghancurkan kemanusiaannya sendiri, kemanusiaan yang diciptakan untuk merasakan kedamaian dalam penyerahan dirinya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Tinggi dan Penguasa sluruh umat manusia dan jagat raya.
Dalam kegelisahannya manusia telah mematikan kehidupan spiritualnya yang diciptakan untuk diisi dengan hal-hal yang indah, berisi aktiviti kejiwaan dan cahaya....dan disamping itu diisi dengan dunia (pemilikan harta benda yang tidak berguna, cinta kepada kekayaan dan pengalaman yang serba hebat dan mempersonakan). lalu apa hasilnya dari semua itu? Tujuan hidup masyarakat yang salah pada satu sisi dan di sisi yang lain dapat dilihat jiwa manusia yang sakit.
Dalam keadaan seperti ini siapa yang dapat menolong manusia memecahkan masalahnya? Jumlah orang yang menderita sakit jiwa begitu tinggi dan mencemaskan namun yang lebih menakutkan lagi adalah orang-orang yang diminta membantu menyelesaikan masalah kejiwaan ini ternyata sama sakitnya dengan mereka yang memerlukan bantuan.
Jadi kemana arah kita? apakah kita masih punya spiritual untuk mengenal Allah dan Rasulnya atau hanya sekadar fikiran yang sentiasa berubah-ubah mahupun kalam yang tidak pernah tetap dalam memperkatakan dan metaati Allah dan rasul....?
Hadirku bagai kain buruk buat pengalas kaki
Semoga kita memperbaiki diri kita dalam menghayati erti kehidupan...
Payah sungguh nak buat org lain paham maksud kita...