KRIKIL TAJAM DI JALAN ISLAM
Oleh: Syaifuddin Ma’rifatullah
4). BODOH
Seorang Doktor ahli Bahasa Arab kenalan saya mengatakan : “… jika kita dapat mengkatamkan satu buku, kita merasa kita telah menguasai seluruh ilmu. Akan tetapi, ketika kita menamatkan buku berikutnya, maka kita mulai akan merasa bahwa ilmu kita sangatlah sedikit. Semakin banyak buku yang telah kita baca, kita merasa menjadi bodoh karena kita menjadi merasa sangat kekurangan ilmu&#8221...
KRIKIL TAJAM DI JALAN ISLAM
Oleh: Syaifuddin Ma’rifatullah
4). BODOH
Seorang Doktor ahli Bahasa Arab kenalan saya mengatakan : “… jika kita dapat mengkatamkan satu buku, kita merasa kita telah menguasai seluruh ilmu. Akan tetapi, ketika kita menamatkan buku berikutnya, maka kita mulai akan merasa bahwa ilmu kita sangatlah sedikit. Semakin banyak buku yang telah kita baca, kita merasa menjadi bodoh karena kita menjadi merasa sangat kekurangan ilmu”.
Jika ilmunya baru sedikit, kita merasa kitalah yang paling pandai. Semakin banyak ilmu kita, maka kita merasakan betapa bodohnya kita. Itulah pedoman bagi orang yang ingin pandai dalam suatu ilmu. Bagaimana dengan orang yang bodoh ? Orang yang bodoh atau orang yang benar-benar bodoh adalah orang yang merasa bahwa dirinya paling pandai. Kalau dalam cerita di atas mereka adalah “orang yang baru tamat membaca satu buku” dan tak mau membaca buku berikutnya. Itulah orang yang bodoh.
Bodoh menjadi suatu hambatan terbesar untuk maju menguasai sedikit ilmu yang telah diberikan Allah. Kebodohan atau merasa diri pandai, akan menyurutkan diri untuk memperoleh lebih banyak ilmu. Beragama tanpa ilmu akan sangat berbahaya karena kita hanya seperti robot yang dikendalikan oleh orang lain. Maka kebodohan adalah musuh bagi orang beragama. Musuh bukan untuk diperangi, akan tetapi musuh untuk diperbaiki.
Membiarkan diri dalam kebodohan akan menyebabkan kita menjadi lemah. Kelemahan yang ditutup-tutupi dapat berakibat kita lupa bahwa kita bodoh dan kita pun tertinggal. Ketika kita tertinggal dan dilupakan karena kita dianggap “tidak kuat”, maka penyakit baru akan muncul, yaitu “pendendam”.
Semoga kita tidak termasuk dalam kelompok orang yang bodoh ini dalam kondisi apa pun.
(5). PENDENDAM
Pendendam adalah orang yang merasa dialah yang paling kuat. Ia tidak mau ada orang lain lebih kuat daripadanya. Tidak boleh ada orang lain lebih pandai atau lebih kuat atau lebih pada bidang lainnya. Sikap ini sungguh berbahaya bagi persaudaraan Islam.
Padahal kekuatan persaudaraan Islam adalah terletak pada penghargaan adanya perbedaan dari orang per orang yang ada di dalamnya. Dengan adanya perbedaan disebabkan keunggulan pribadi pada bidangnya masing-masing akan diperoleh sinergi yang akan membentuk satu kekuatan gabungan, yang akan menghasilkan kekuatan sangat dahsyat.
Membiarkan orang menjadi pendendam dan merasa dengki dengan keunggulan orang lain, akan sulitlah bagi kita untuk menggalang kekuatan yang sebenarnya kita butuhkan untuk menghadap musuh-musuh Islam kapan saja. Begitulah buruknya sikap orang yang pendendam. Jika berlanjut terus menerus, hal itu akan menyebabkan timbulnya penyakit lebih buruk lain, yaitu Zalim, merupakan sikap tidak penyayang.
(6). ZALIM
Orang yang zalim adalah orang yang tidak penyayang. Tidak sayang kepada diri sendiri atau kepada orang lain, maka dia menganiaya dirinya sendiri atau orang lain, dalam keadaan sadar mau pun tidak.
Setiap muslim, sangat dianjurkan untuk memulai segala sesuatu dengan mengatasnamakan Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang atau yang sering kita kenal dengan istilah “basmallah”. Artinya, setiap muslim haruslah mengasihi dan menyayangi. Baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.
Dengan basmallah, setiap muslim menempatkan dirinya sebagai “pengganti Allah” (khalifah Allah) terhadap orang lain atau fihak lain, yaitu Allah yang memiliki sifat “Maha Pengasih, Maha Penyayang”. Siapa saja orang yang mengaku muslim hendaklah mengasihi dan menyayangi. Itulah jiwa pernyataan (bukan bacaan) “Bismillaah, Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim”, yang selalu dipatrikan di hati setiap hamba Allah.
Maka, apabila kita menemukan orang lain atau diri kita melakukan tindakan yang menganiaya, marilah kita periksa di dalam hati kita “masih adakah rasa penyayang ?”.
Jangan menjadi pendusta, di mulut mengucapkan “basmallah”, di hati “melupakan Allah” dan dalam perbuatan “mengingkari petunjuk Allah”. Karena hal itu bisa berakibat kita layak untuk disebut munafiq.
Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan dan tabiat seperti itu, dan Allah menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang Pengasih dan Penyayang.
(7). PENDUSTA
Tidak berlaku dusta adalah merupakan dasar paling bawah dari ajaran agama Islam. Orang yang pendusta adalah orang yang merasa tidak ada orang atau fihak lain yang mengetahui selain dirinya sendiri. Dia tidak ingat bahwa Allah itu Maha Pengetahui segala gerak-gerik setiap makhluk-Nya. Tidak ada yang luput dari pengetahuan Allah, baik yang ada di langit, di bumi maupun yang ada di antara keduanya. Pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu.
Perilaku dusta adalah hambatan awal dalam mengenal adanya Allah karena pengingkaran adanya Allah, merupakan isyarat bahwa orang itu akan masuk di dalam kategori “kafir”. Adanya sifat dusta akan melahirkan sifat buruk lainnya, yaitu khianat, munafiq, tidak amanah, dan lain-lain. Itulah yang paling dilarang pada setiap muslim.
Marilah kita memohon perlindungan dan kekuatan dari Allah yang Maha Agung, semoga sifat dan tabiat dusta tidak pernah ada di dalam diri kita. Jujur atau shiddik adalah sifat utama seorang muslim. Maka jika ada dusta pasti tidak akan ada shiddik dan sebaliknya, jika kita shiddik, pastilah dusta akan menyingkir dan meninggalkan kita. Insha Allah !
(8). PESIMIS
Pertama-tama optimis kemudian sukses. Jika pertama-tama pesimis, maka yang kemudian juga adalah apes. Mengapa ada orang yang pesimis ? Jawabnya adalah karena ia merasa tidak ada yang diharapkan dapat menolongnya. Ini terjadi, karena dia lupa, bahwa Allah, Tuhannya setiap manusia, selalu menolong orang yang meminta pertolongan Allah. Orang yang mengenal Allah, pastilah dia menjadi orang yang paling optimis. Sebab Allah adalah pemilik segala sesuatu, Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Kuat, Maha Suci, Maha Besar dan lain-lain sebagainya dan Allah selalu menolong hambanya yang membutuhkan-Nya.
Untuk menghilangkan rasa pesimis dan menimbulkan sikap optimis, tiada jalan lain, hiduplah selalu bersama Allah.
copy n paste
tintabiru.....tintamerah.....tintahijau