Dari Jubair bin Muth'im RA dari Rasulullah Saw bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka memutuskan”. Berkata Ibnu Abi Umar bahwa Sofyan berkata bahwa yang dimaksud dengan memutuskan adalah memutuskan silaturahim. (Riwayat Bukhari, Shahih Bukhari vol. 10, hal 347; Muslim, Shahih Muslim vol. 8 hal 8)
Masa pancaroba adalah masa perubahan serba cepat. Selama masa seperti ini masyarakat selalu dipaksa untuk berbeda pendapat dan memperjuangkan prinsip-prinsipnya. Sampa...
Dari Jubair bin Muth'im RA dari Rasulullah Saw bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka memutuskan”. Berkata Ibnu Abi Umar bahwa Sofyan berkata bahwa yang dimaksud dengan memutuskan adalah memutuskan silaturahim. (Riwayat Bukhari, Shahih Bukhari vol. 10, hal 347; Muslim, Shahih Muslim vol. 8 hal 8)
Masa pancaroba adalah masa perubahan serba cepat. Selama masa seperti ini masyarakat selalu dipaksa untuk berbeda pendapat dan memperjuangkan prinsip-prinsipnya. Sampai di sini tak ada masalah, semua wajar dan sesuai sunnatullah. Sayangnya, terkadang benturan perbedaan lantas menghanyutkan sebagian Muslimin untuk saling menghujat, menghina, membuka daftar aib, bahkan menghalalkan darah satu sama lain. Harga silaturrahim jatuh ke titik terendah. Halal bi halal diadakan, silaturrahim dibicarakan, namun kebencian sesama Muslim tak pernah benar-benar dipadamkan, bahkan kadang kala malah dipanas-panasi. Hadits di atas mengantarkan kita untuk memahami betapa tinggi nilai hakikat silaturrahim.
Secara etimologi, istilah silaturrahim yang kedua lebih tepat adalah istilah dalam bahasa Arab yang terdiri dari dua kata yaitu shilah dan rahim. Shilah dari akar kata washala, yashilu, shilatan artinya menghubungkan atau menyambung. Sedangkan rahim bisa mempunyai dua makna: pertama makna istilah, kata ini dalam bahasa Arab dan juga dalam bahasa Indonesia berarti rahim ibu dimana terjadi pembuahan dan tumbuhnya janin, maka rahim disini dimaksudkan sebagai tali kekeluargaan. Kedua, kata rahim berasal dari akar kata rahima, yarhamu, rahmatan yang berarti mengasihi atau menyayangi, maka rahim berarti kasih sayang.
Tinjauan Harfiah
Dari tinjauan terminologis ini harus dicermati beberapa hal:
Pertama, bahwa shilah adalah kegiatan aktif karena berasal dari kata kerja aktif bukan pasif. Dalam artian bahwa seorang mukmin harus aktif dalam menghubungkan atau menyambung silaturrahim atau tali kekeluargaan. Karena itu Hadits-Hadits atau perintah-perintah tentang silaturrahim kebanyakan bersifat aktif, seperti: Sabda Rasulullah Saw: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat hendaknya ia menyambungkan silaturrahim (tali kekeluargaan) (Hadits riwayat Bukhari 10/373 dan Muslim no.47); Sabda Rasulullah Saw: Barang siapa yang ingin diluaskan baginya rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya ia menghubungkan atau menyambung silaturrahim (tali kekeluargaan) (Hadits riwayat Bukhari vol 10/348 dan Muslim vol 8/8).
Dari hadits-hadits ini dapat dipahami dua pelajaran penting. Yang pertama, orang yang aktif membangun hubungan silaturrahim akan mendapatkan dua keuntungan besar: ukhrowi dan duniawi. Keuntungan ukhrowi adalah bahwa seseorang tidak akan termasuk golongan orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat kecuali jika ia aktif dalam membangun silaturrahim. Sedangkan keuntungan duniawi adalah akan memperoleh rizki yang luas dan umur yang panjang. Pelajaran penting berikutnya, hubungan silaturrahim harus dibangun secara proaktif, maka bukanlah sifat orang yang beriman yang berkata, “Saya akan baik kepadamu apabila kamu baik kepada saya” atau “Saya akan memaafkan kamu kalau kamu meminta maaf kepada saya”.
Kedua, tentang makna rahim yang berarti rahim ibu, juga mengandung pengertian kesucian dan kesakralan. Hubungan silaturrahim yang pertama kali harus dibangun dan dijaga adalah yang paling dengan dekat rahim (keluarga), maka hubungan silaturrahim dengan ibu dan bapak adalah yang paling utama untuk selalu dijaga, sebagaimana banyak Hadits menjelaskan hal ini. Seperti Hadits Abu Abdurrahman Abdullah bin Masud Ra berkata bahwa telah datang kepada Rasulullah Saw seseorang lalu bertanya, “Siapakah pertama kali yang harus saya perlakukan dengan baik?” Rasulullah Saw menjawab, “Ibumu! Lalu siapa setelah itu ya Rasulullah? tanya orang itu lagi. Kembali Rasulullah Saw menjawab, Ibumu! Lalu siapa ya Rasulullah?, Tanya orang itu kembali. Rasulullah lagi-lagi menjawab, Ibumu! Sekali lagi orang bertanya, Lalu siapa ya Rasulullah? Baru Rasulullah menjawab, Kemudian Bapakmu! (Hadits riwayat: Bukhari vol 10/hal 336 dan Muslim vol 8 hal 2). Karena itu uququl-waalidain (durhaka kepada kedua orang tua) adalah dosa besar setelah menyekutukan Allah dan birrul-waalidain (berbakti kepada kedua orang tua) adalah amal ibadah yang utama setelah iman.
Setelah dengan kedua orang tua, hubungan silaturrahim yang harus dibangun dan dijaga berdasarkan rahim adalah saudara satu rahim (kandung), kemudian saudara-saudara yang mempunyai hubungan kekeluargaan, semangkin dekat hubungan keluarga dengan mereka maka semangkin wajib menjaga silaturrahim terhadap mereka, dan akhirnya menjaga silaturrahim dengan keluarga besar orang-orang yang beriman.
Makna “rahim” yang berikutnya adalah tempat yang sangat sakral (suci) dan terjaga. Rahim tidak boleh disentuh kecuali dengan cara yang halal dan suci yaitu dengan pernikahan yang sah. Persetubuhan setelah pernikahan yang sah yang akan menyentuh rahim dengan air mani harus dilakukan pula dengan cara yang baik. Setelah terjadi pembuahan, rahim harus semakin dijaga dengan baik dan hati-hati oleh sang Ibu.
Dari perspektif ini, bisa dipahami bahwa hubungan silaturrahim adalah hubungan yang sakral dan harus dijaga. Suci sesuci rahim ibu dan harus dijaga sebagaimana ibu yang sedang mengandung menjaga rahimnya. Dalam makna ini banyak sekali Hadits-Hadits yang menjelaskan bagaimana dosa orang yang merusak silaturrahim, seperti Hadits pembuka diatas bahwa orang yang suka merusak hubungan silaturrahim tidak akan masuk surga. Dan seperti hadits lain dari Abu Hurairah Rasulullah Saw bersabda bahwa sesungguhnya Allah menciptakan seluruh makhluk dan setelah selesai proses penciptaan maka berdirilah Rahim lalu berkata kepada Allah, Bukankah ini tempat berlindung dari pemutusan silaturrahim?
Allah menjawab, “Benar, lalu maukah kamu jika Aku menghubungkan (menyambung) siapapun yang menyambung silaturrahim dan memutus siapapun yang memutuskan silaturrahim?” Rahim menjawab,”Tentu aku mau”. Allah berfirman itu akan Aku lakukan untukmu. Kemudian Rasulullah bersabda, “Apabila kamu suka bacalah firman Allah: Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan silaturrahim (kekeluargaan)? Mereka itulah orang-orang dilaknati Allah dan di tulikan telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka” (Q.S. Muhammad 22-23) (Hadits riwayat Bukhari vol 10/349 dan Muslim vol 8/7)
Harga Silaturrahim
Karena itu seorang Mukmin harus menjaga silaturrahim ini walaupun dengan pengorban yang besar sekalipun sebagaimana hadits dari Abdullah bin Mas'ud Ra bahwa telah datang kepada Rasulullah Saw seorang laki-laki mengadu, Saya mempunyai kerabat yang selalu saya usahakan untuk menjaga hubungan dengan mereka namun mereka memutusnya, katanya. “Saya selalu berbuat baik kepada mereka namun mereka membalasnya dengan kejahatan. Saya selalu mengingat dan memimpikan mereka namun mereka melupakan saya.”
Kemudian Rasulullah Saw bersabda, “Seandainya benar apa yang engkau katakan, maka seakan-akan engkau telah menyuapkan pasir panas kepada merekaperumpamaan dosa mereka karena tidak membalas usaha orang lain untuk membangun silaturrahim dan Allah senantiasa memberikan pertolongan karena perbuatan mereka jika engkau tetap berbuat demikian. (Hadits riwayat Muslim vol 8 hal 8)
Bahkan dalam Hadits lain Rasulullah Saw bersabda: “Bukanlah penyambung silaturrahim orang yang hanya sekedar membalas kebaikan orang lain tetapi penyambung silaturrahim adalah yang selalu menyambungnya walaupun orang lain selalu memutusnya.” (Hadits riwayat Bukhari vol 10/hal 350)
Ketiga, bahwa rahim yang juga berarti kasih sayang membuatkan nuansa pada kita bahwa hubungan silaturrahim adalah hubungan untuk menyebar kasih sayang dan kecintaan bukan kebencian antara sesama orang yang beriman. Maka apapun namanya, halal bil halalkah atau silaturrahim apapun apabila tidak dilaksanakan atas dasar iman dan bertujuan untuk membangun rasa kasih sayang dan kecintaan terhadap sesama mukmin yang tidak hanya sebatas golongannya atau kelompoknya tidak akan pernah melahirkan ukhuwah islamiyah (persaudaraan Islam).
Iman dan rasa kecintaan terhadap sesama Mukmin adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, karena Rasulullah Saw bersabda bahwa seseorang tidak beriman sampai dia mencintai saudara Mukmin lainnya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Dengan iman dan rasa cinta sesama mukmin ini membuat silaturrahim akan terus berkelanjutan tidak terbatas pada acara halal bil halal. Iman mengikat kita lebih kuat dari pada ikatan darah, suku apalagi kelompok, organisasi atau parti.
Sedangkan rasa kecintaan akan membuat kita berusaha memberikan sesuatu terbaik untuk saudara sebagaimana yang diinginkan diri kita sendiri. Karena kita manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan kelalaian maka yang terbaik bagi kita tentunya tidak melulu pujian dan sesuatu yang enak didengar. Teguran, kritikan dan bahkan sikap keras yang preventif sebagaimana sabda Rasulullah Saw bahwa menolong saudara yang zhalim adalah dengan mencegahnya berbuat zhalim merupakan juga silaturrahim yang harus kita laksanakan pada saat ini.
Karena tidak ada silaturrahim diatas kezhaliman dan kebatilan tetapi ada diatas keadilan dan kebenaran. Silaturrahim pada pihak yang benar walaupun dari golongan lain adalah dengan menolong dan menegakkan kebenaran itu. Sedangkan bersilaturrahim dengan pihak yang batil dan dzalim walaupun dari golongan sendiri adalah dengan mencegahnya dan menghilangkan kebatilan dan kedzaliman itu. Allah befirman : “Tolong menolonglah kamu atas kebajikan dan ketaqwaan dan jangan tolong menolong atas dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah 2).
Maka kalau silaturrahim seperti ini yang kita galakkan, dan bukan silaturrahim basa-basi dan seremonial belaka, maka kita tidak hanya akan dapat keluar dari krisis moral yang telah menciptakan multi-krisis tapi juga dapat terhindar dari proses penghancuran nilai yang sedang berlangsung secara struktural.
Mungkin oleh karena itu diantara doa yang mesti kita panjatkan dalam halal bil halal kita adalah “Ya Allah tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan berilah kami kekuatan untuk mengikuti dan menegakkannya dan tunjukkanlah yang batil itu batil dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya, mengatakannya dan menghancurkannya. Wallahu'alam. (Ahmad Hatta)
Hidayatullah : Februari 2001
copy n paste
tintabiru.....tintamerah.....tintahijau
keje ku banyak tak siap lagi....
asyik duk jiwang jer.....
syukran mami....bukan ku harap pujian.....ku harap manfaat di hari kemudian......
tintabiru.....tintamerah.....tintahijau